Jalan Irwan Supandi berhadapan dengan Rumah Sakit Buah Hati Ciputat, Tangerang Selatan ketika untuk menemukan keadilan bagi istrinya, Yuliantika, menemukan jalan berbelit. Hak untuk mendapatkan rekam medis pun tak mereka dapatkan. 

Permintaan ini sudah dia lakukan sejak awal Yulia, nama sapaan Yuliantika, mendapatkan perawatan pasca-operasi. Pihak RS Buah Hati selalu menahan dan bahkan menolak permintaan Irwan. Hal ini juga mereka lakukan saat Yuliantika masih berada dalam perawatan Rumah Sakit Buah Hati Ciputat.

“Saya sudah sering meminta untuk melihat rekam medis. Dari dulu saat dirawat hingga selesai. Tapi, nggak pernah tuh dikasih. Malah diambil semua berkas sama RS Buah Hati Ciputat,”

Irwan Supandi, 10 Februari 2020

Empat kali Irwan meminta kepada dokter yang merawat istrinya. Berkali-kali juga dokter menolaknya dengan alasan yang bermacam-macam.

“Pertama saya minta di ICU, saya bingung istri saya gak diapa2in, cuma diperban kakinya. Saya minta ke dokter pertama kali dia bilang bukan ke saya mas. Saya ketemu dokter lain dan saya minta rekam medisnya, dia bilang nanti ‘iya pak, kalau sudah selesai (perawatannya) semua’,” pungkas Irwan.

Seorang perawat memberitahunya untuk menghubungi manajer perawat bernama Helen untuk meminta data, termasuk rekam medis. Saran ini dilakukannya tetapi lagi-lagi tak membuahkan hasil. 

Jawaban Helen tidak jauh beda dengan perilaku-perilaku dokter sebelumnya. Helen juga malah berkilah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Irwan soal rekam medis istrinya.

“Saya lalu bertemu dengan Helen untuk meminta rekam medis istri saya. Lalu ia malah balik bertanya ‘untuk apa?’ Ya saya jawab saja ‘untuk saya,’ terus setelah kami berdebat akhirnya dia jawab ‘nanti saya bilang ke manajemen’” jelas Irwan.

RS Buah Hati menguasai rekam medis mulai dari awal hingga akhir pengobatan Yulia. Bahkan, rekam-rekam medis yang dimiliki oleh rumah sakit lain seperti hasil rontgen di RS Mayapada dan rekam medis terkait operasi tulang belakang Yulia di RSCM Kencana pun diambil oleh mereka.

“Meskipun saya pernah melihat beberapa hasil penanganan medis di RSCM seperti rontgen, saya tidak pernah memegangnya secara langsung di tangan saya,” ucap Irwan.

Perjuangan untuk mendapatkan rekam medis tersebut tidak berhenti hanya sampai di permintaannya saja. Pada saat mendatangi undangan klarifikasi yang dilayangkan oleh pihak RS Buah Hati, pengacara Yulia, Ayyubi, sempat meminta rekam medis Yulia. Pihak rumah sakit kemudian tidak memberikan rekam medis Yulia dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.

Suasana mediasi Kemenkes antara RS Buah Hati Ciputat dan pihak Yuliantika

“Saya mintakanlah rekam medis Yulia kepada pihak rumah sakit saat itu juga. Tetapi, pihak mereka berkilah dengan mengucapkan bahwa rekam medis sifatnya adalah rahasia dan sudah tertera di undang-undang. Namun, saya juga ingatkan bahwa menurut undang-undang yang berlaku, Yulia juga berhak atas isi rekam medis miliknya,” Ujar Ayyubi

Pasal 46, 47, dan 52 UU No.29 Tahun 2004, Tentang Praktik Kedokteran menyebutkan rekam medis tersebut adalah hak pasien. 

Upaya meminta rekam medis juga terungkap ketika Ayyubi mendampingi proses mediasi bersama Kementerian Kesehatan. Namun pihak Kemenkes hanya berperilaku pasif menanggapi kejanggalan-kejanggalan mengenai rekam medis Yuliantika.

“RS Buah Hati pun hanya merespon soal mengapa rekam medis perawatan Yuliantika mereka tahan, termasuk di RS. Mayapada dan RSCM. Mereka bilang karena mereka yang bayar, otomatis rekam medis menjadi hak milik mereka,” Jelasnya.

Hingga saat ini, rekam medis Yuliantika masih dipegang oleh pihak Rumah Sakit Buah Hati Ciputat yang menyebabkan beberapa kesulitan seperti salah satunya adalah kendala dalam mencairkan galangan dana kitabisa.com.