Aksi mogok kerja buruh PT. Smelting Gresik berujung penyitaan rumah keluarga. Firma Hukum Lokataru menganggap perkara PHK sepihak ini kontroversial karena merembet hingga kepemilikan pribadi para buruh.

Tjatjik Usman Effendy kini hanya tinggal menghitung hari meninggali rumahnya. Tempat keluarganya turun-temurun berteduh sejak sebelum 1912 itu dalam ancaman penyitaan PT Smelting Gresik. Perusahaan itu menang dalam gugatan wanprestasi melawan anak dari Tjatjik, Kasman Danny, buruh yang terlibat aksi mogok.

“Mbah-mbah saya sudah semua tinggal disini bahkan sebelumnya. Dari kecilnya ayah saya, Kakeknya kakek saya. Sudah tinggal turun temurun di rumah ini,” Jelas Kasman saat diwawancarai via Whatsapp pada Senin (15/2).

Cerita bermula saat Kasman melakukan mogok kerja lantaran perundingan Perjanjian Kerja Bersama mencapai deadlock. PT Smelting membalas aksi itu dengan  PHK sepihak.

Keputusan PHK inipun dilawan dengan gugatan oleh 304 buruh  karena aksi mogok kerja berlangsung dengan damai dan mengikuti peraturan yang berlaku. Gugatan ini meraih kemenangan melalui putusan kasasi di Mahkamah Agung. PT Smelting harus membayar uang pisah dan THR sebanyak 21 Milyar Rupiah kepada mantan buruhnya.

Namun perusahaan belum mau membayar uang tersebut dengan alasan menunggu dua keputusan sidang yang tengah berjalan, yakni tentang adanya wanprestasi atas utang program kredit rumah perusahaan. Ujung sidang itu PT Smelting menang.

“Perusahaan ini menagih kepada kita secara berbeda-beda jumlahnya. Ada yang seratus juta, ada yang puluhan juta, tergantung dari berapa lama kerja di PT Smelting,” jelas pria yang kini berusia 44 tahun tersebut.

Bekal kemenangan ini yang dipakai perusahaan itu untuk mengirimkan somasi kepada buruh. Mereka meminta permintaan pembayaran pelunasan sisa utang termasuk sisa utang pinjaman bantuan perumahan tanpa disertai bukti surat klaim asuransi.

Buruh kemudian beramai-ramai dan bergantian menggugat perusahaan atas dasar somasi itu. Mereka beranggapan alasan PT.Smelting melakukan perbuatan melanggar hukum karena tidak melaksanakan kewajibannya untuk mengajukan klaim.

Kasman menjadi salah satu dari 9 orang yang menggugat somasi tersebut dan berujung kekalahan. Akhirnya, pihak PT Smelting pun balik menggugat Kasman soal wanprestasi pembayaran utang.

Pada awalnya PT Smelting hanya mengajukan gugatan mengenai wanprestasi pembayaran tagihan tersebut. Dalam gugatan ini, PT Smelting menuntut ganti rugi sebanyak kurang lebih 88 juta rupiah kepada Kasman atas ganti rugi peminjaman kredit rumah kepada perusahaan, pinjaman darurat, serta pembayaran premi asuransi perusahaan yang telah ditetapkan oleh PN Gresik. Namun, di tengah persidangan tiba-tiba PT. Smelting mengajukan permohonan penyitaan rumah orang tua Kasman sebagai objek sita jaminan.

Suasana pengamanan sidang Kasman Danny

“Pihak PT Smelting ini mengajukan tiga aset yang diminta kepada hakim. Rumah pribadi saya, mobil pribadi saya, dan rumah orang tua saya. Anehnya, kenapa rumah orang tua saya yang dijadikan objek sita? Padahal jika sita mobil pribadi saya pikir sudah cukup,” Pintanya.

Anehnya kasus ini berujung penetapan rumah orang tua Kasman sebagai objek sita. Padahal rumah tersebut bukan milik Kasman.

“Kenapa hakim tetap memutus sita aset? Padahal saat peletakan sita sudah saya tunjukan bukti-bukti bahwa rumah tersebut bukan hak milik saya,” jelas Kasman.

Hingga akhirnya juru sita mendatangi kediaman Tjatjik Kasman dan menaruh patok sita di rumah orang tuanya tersebut. Kedatangan juru sita tersebut juga diramaikan oleh RT, RW, Polisi, dan Koramil.

Bahkan polisinya bertanya-tanya kepada Kasman soal kasus, berapa besar utang, hingga kenapa menimbulkan keramaian.

“Saya jawab hutangnya hanya sebesar Rp 88 juta. Polisi nanya sebenarnya ini kasus apa, pengamanan sisa aset katanya. Orang Koramil juga datang. Intinya, agar permasalahan kita ini dapat diselesaikan dan dicari solusinya dengan baik-baik. Nah, baik-baik ini maksudnya gimana? Baik-baik versi mereka?” Jelas Kasman sambil sedikit tertawa mengingat kejadian itu.

Tidak hanya itu, sebelum kedatangan juru sita pun sudah ada berbagai macam teror yang menghantui keluarga sampai dengan orang yang berpura-pura kepada tetangga menanyakan harga rumah Tjatjik.

“Pernah ada orang yang pura-pura habis salat dan bertanya-tanya ke tetangga perihal harga rumahnya. Saya difitnah menjadikan rumah itu jaminan, sampai jadi omongan bahkan di keluarga besar saya,” ujar Kasman.

Tetapi, orang tua Kasman tidak terpengaruh dengan tekanan-tekanan ini dan bahkan mendukung perjuangan anaknya yang melawan PT Smelting dalam mencari keadilan.

“Dari keluarga berprinsip kamu benar, ya kejar aja. Jangan sampai kamu difitnah kamu menyerah. Sudah terlanjur, sampai omongan di keluarga besar sudah tidak enak. Kamu harus luruskan. Apapun omongan orang kamu harus berjuang.” Jelas Kasman mengingat pesan dari orang tuanya.

“Dari keluarga berprinsip kamu benar, ya kejar aja. Jangan sampai kamu difitnah kamu menyerah. Sudah terlanjur, sampai omongan di keluarga besar sudah tidak enak. Kamu harus luruskan. Apapun omongan orang kamu harus berjuang.”

Sekarang rumah Tjatjik berstatus menjadi sita jaminan. Sehingga, meski masih dapat tinggal di rumahnya, Tjatjik hanya bisa menunggu sampai suatu hari pengadilan memutuskan untuk membolehkan PT Smelting untuk melelang kediaman keluarganya secara turun temurun. Ia bahkan sudah tidak dapat menjual maupun menggadaikan kediamannya karena status rumahnya sebagai objek sita aset.

Asisten Advokat Firma Hukum Lokataru, Nafirdo Ricky,  menganggap putusan PN Gresik yang menetapkan rumah Tjatjik sebagai objek sita aset merupakan keputusan yang janggal.

“Bahwa seharusnya rumah milik Tjatjik Usman Effendy tersebut tidak dapat dijadikan obyek sita jaminan oleh Pihak PT Smelting karena Pak Tjatjik bukan merupakan pihak dalam perkara No. 18/Pdt.G.S/2020/PN.GSK antara Kasman Danny dengan PT Smelting,” jelasnya.