Korban dugaan malapraktik, Yuliantika, mengadukan RS Buah Hati dan seorang dokter ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu (10/2). Yuliantika sendiri sudah setahun menderita cacat pasca operasi caesar tanpa ada pertanggungjawaban. 

Laporan ke kepolisian ini dilakukan oleh suami Yulia, Irwan Supandi, dan pengacaranya dari Firma Hukum Lokataru, Al-Ayyubi Harahap. Mereka juga membuat laporan dugaan yang sama terhadap dokter yang menangani Yulia, dr. Elizabeth Angeline Poluakan. 

“Meski memang spesifik gugatan pidana kita layangkan kepada dr. Elizabeth, menurut UU yang berlaku juga Rumah Sakit bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan oleh dokter Elizabeth sehingga mengakibatkan kelumpuhan,” ucap Ayyubi.

Irwan Supandi dan Kuasa Hukum, Al-Ayyubi Harahap

Ia menyebutkan pihak rumah sakit dan dokter dilaporkan dengan pasal 360 ayat (1) jo. Pasal 361 KUHP jo. Pasal 79 UU Praktik Kedokteran tentang kelalaian. Menurut dia, pasal pidana dapat dikenakan kepada dokter. 

Irwan sendiri berharap dengan pelaporan ini istrinya dapat menemukan keadilan. Menurutnya selama satu tahun menanggung cacat tanpa pertanggungjawaban apapun.

“Saya berharap adanya titik terang setelah saya melapor ke pihak kepolisian,” jelas dia. 

Namun pihak Bareskrim sendiri mengalihkan laporan ke Polda Metro Jaya dengan alasan kewenangan atas kasus yang ia laporkan berada di bawah tanggung jawab Polda.

Terhambat Bukti Dari MKDKI

Meski telah melapor kepada pihak kepolisian, Irwan sepertinya harus bersabar terlebih dahulu dalam mencari keadilan. Karena, laporan Irwan atas RS Buah Hati Ciputat ditolak oleh pihak kepolisian lantaran tidak memiliki bukti rekam medis dan belum adanya rekomendasi dari pihak Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

“Kasus sudah disampaikan kepada Polda Metro Jaya. Namun, proses penegakkan hukumnya masih menunggu hasil pemeriksaan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia,” jelas Ayyubi.

Rasa kecewa pun tentunya dirasakan oleh pihak Yulia. Ayyubi sebagai kuasa hukum pun menyayangkan sikap dari petugas SPKT Polda Metro Jaya yang tidak segera memproses kasus Yuliantika.

“Kami sangat menyayangkan sikap pihak kepolisian yang bertugas di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya yang tidak langsung membuat catatan Laporan Polisi atas dugaan malpraktik dokter yang kami sampaikan. Petugas SPKT malah meminta kami untuk membuktikan secara medis bahwa Yuliantika benar-benar lumpuh, dan itu disebabkan oleh suntikan anestesi,” pinta Ayyubi.

Tim kuasa hukum juga telah memberikan bukti-bukti awal beberapa diantaranya adalah bukti bekas suntikan, bukti bahwa Yulia dirawat di RS Buah Hati Ciputat, dan kondisi sebelum Yulia mengalami kelumpuhan.

“Seharusnya dari bukti permulaan itu pihak kepolisian berkewajiban untuk menerima laporan polisi dari korban, dan selanjutnya melakukan proses penyelidikan untuk mencari tahu apakah ada peristiwa tindak pidana. Pihak kepolisian memiliki kewenangan upaya paksa dalam penegakan hukum, dan dapat memanggil ahli dibidang medis untuk mendukung bukti-bukti dugaa tindak pidana. Bukan malah membebankan pembuktian kepada pihak korban yang sejak awal seluruh dokumen medis dirampas oleh RS Buah Hati Ciputat,” jelasnya.

Perlu diketahui, bahwa rekam medis Yuliantika tidak diberikan kepada dirinya. Melainkan, ditahan oleh pihak Rumah Sakit dengan alasan bahwa mereka lah yang membayar biaya persalinan.

Sudah tiga kali Irwan dan kuasa hukumnya meminta rekam medis kepada pihak rumah sakit sebagai bagian dari haknya. Namun, pihak Rumah Sakit selalu menahan dan bahkan menolak permintaan Irwan. Bahkan, saat Yuliantika masih berada dalam perawatan Rumah Sakit Buah Hati Ciputat.

Pada saat Yuliantika melakukan pengobatan di RSCM atas rujukan RS Buah Hati, Irwan Supandi disuruh agar mengakui pihak RS Buah Hati sebagai saudara dari Irwan. Namun, pada tengah malam, Irwan akhirnya mengaku kepada seorang asisten dokter yang bekerja di RSCM bahwa itu semua hanya bualan belaka.

“Pada awalnya saya disuruh diam dan mengaku bahwa pihak RS Buah Hati adalah saudara. Tapi lama kelamaan, saya curiga karena mereka seakan-akan berbicara untuk saya. Sampai pada suatu saat akhirnya saya terbuka kepada pihak RSCM, bahwa mereka bukanlah saudara saya,”

Irwan Supandi, Suami Yuliantika

Sesudah operasi tulang belakang, Affan Priyambodho, dokter saraf yang merawat Yulia menghampiri Irwan dan menceritakan tentang keanehan saat operasi.

“Dokter Affan (Dokter syaraf Yulia) bercerita kalau saat menjalani operasi di tulang belakang, yang biasanya kalau kulit itu dibelah darah meleleh, saat kulit punggung istri saya dibelek, darah di punggung istri saya itu muncrat,” Irwan bercerita.

Kemudian malamnya di kamar rawat inap, Irwan akhirnya menceritakan kepada asisten dokter yang merawat Yulia dirinya bukanlah saudara pihak RS Buah Hati setelah ia mengetahui bahwa Yuliantika dibawa ke RSCM dengan dasar hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pada tulang belakang Yuliantika.

“Saat saya bicara dengan asisten dokter tersebut, ia juga kaget kalau ternyata Yuliantika baru saja menjalani operasi caesar,” jelas lelaki yang kini berprofesi sebagai ojek online tersebut

Perilaku terbuka seperti ini sayangnya tidak berlangsung lama. Setelah asisten dokter ini tahu persoalan Irwan, kedua dokter itu menjadi tertutup terhadap kasus Yuliantika.

“Saat saya tanya mengenai bagaimana dengan masalah kaki istri saya. ‘Maaf ini bukan urusan saya. Tanyakan ke dokter Buah Hati’ itu jawabannya saat itu,” pinta Irwan.

Setelah kasus Yuliantika ini dipegang oleh pihak Lokataru, Ayyubi juga sudah berusaha untuk menanyakan dan meminta rekam medis yang tertahan di RS Buah Hati.

RS Buah Hati Ciputat

“Sejak pertemuan awal saat Irwan dipanggil untuk mengklarifikasi postingannya di media sosial, kami sudah menyinggung mengenai rekam medis tersebut. Tetapi, pihak rumah sakit selalu mengalihkan topik pembicaraan,” jelas Ayyubi.

Permintaan kepada rekam medis tersebut juga berakhir nihil saat melakukan mediasi dengan Kemenkes. Karena, di saat itu Kemenkes terkesan hanya menjadi pihak yang tidak dapat melakukan apa-apa padahal hak dari Yuliantika jelas diabaikan.

“Waktu kami melakukan mediasi yang difasilitasi oleh Kemenkes. Saya menyinggung juga perihal rekam medis Yuliantika yang ditahan oleh pihak rumah sakit. Tetapi, saya hanya ditanya, ‘kamu sudah pernah meminta rekam medis kepada pihak RS Buah Hati?’ Saya jawab ‘iya sudah pernah’. Tapi, setelahnya hanya didiamkan begitu saja. Tidak ada tindak lanjut selebihnya.”