Layanan kesehatan bagi pasien gagal ginjal kian minim di tengah pandemi Covid-19. Terkadang mereka punya dua pilihan pahit, mati karena Covid-19 atau karena tak bisa cuci darah. 

Pesan singkat tak putus-putus masuk ke ponsel Tony Samosir. Sebagian besar pesan itu meminta bantuan tempat cuci darah. Pandemi Covid-19 membuat pasien gagal ginjal tak kebagian fasilitas pelayanan kesehatan.

Saking banyaknya pesan kadang Tony mengabaikan ponselnya. Ia kewalahan dan tak bisa menjamin rekannya yang tergabung dalam Komunitas Pencuci Darah Indonesia (KPCDI) mendapat tempat pelayanan. 

“Saya enggak bisa menjamin kalau menghubungi saya mereka dapat tempat,” kata Tony kepada Hakasasi.id

Tony Samosir, Ketua Umum KPCDI

Kesibukan advokasi pasien cuci darah memang sudah menjadi pekerjaan sehari-hari ketua umum KPCDI ini. Tony di masa lalu juga pernah divonis gagal ginjal hingga kemudian menjalani operasi cangkok ginjal.

Pandemi Covid-19 Tony membuat tugasnya kian berat. Para pasien gagal ginjal menghadapi tantangan yang membahayakan keselamatannya kala harus berobat di masa pandemi. Tapi pasien ginjal banyak ditolak berobat setelah berpindah kota atau provinsi.  

Ia mencontohkan para perantau dari Jakarta yang memilih pulang kampung di kala pandemi. Rumah sakit tak mau memberikan pelayanan kesehatan pasien gagal ginjal yang ketahuan berpindah kota. 

“Banyak yang tertolak. Situasi sekarang rumah sakit cukup hati-hati,” kata Tony. 

Pastinya layanan kesehatan untuk pasien cuci darah sangat kurang. Banyak pasien yang terpaksa cuti berobat karena jumlah mesin untuk cuci darah terbatas di setiap rumah sakit.  

Menurut dia umumnya rumah sakit minimal memiliki 10 mesin cuci darah. Sebelum pandemi,  jumlah itu dibagi untuk pasien non infeksi hepatitis,  pasien dengan hepatitis, dan pasien dengan HIV.

Pan American Health Organization. Managing People with Chronic Kidney Disease during COVID-19: Considerations for Health Providers, 3 June 2020

Sejak pandemi, Perhimpunan Dokter Nefrologi merekomendasikan rumah sakit agar menyediakan layanan khusus bagi pasien gagal ginjal positif Covid-19. Namun prakteknya rumah sakit paling banter hanya bisa menyediakan satu atau dua mesin cuci darah. 

“Kalau mereka hanya punya unit cuci darah jumlahnya satu atau dua, ini tidak akan mencukupi kalau sampai jumlah pasien cuci darahnya yang terkena COVID-19 bertambah terus, “ kata Tony. 

Ada pula kendala lain bagi pasien miskin. Sebelum menjalani cuci darah mereka harus menjalani sejumlah tes, seperti swab test antigen atau PCR untuk Covid-19, disertai tes lain seperti HIV,  hepatitis B dan C. Pasien harus merogoh kocek cukup dalam mencapai jutaan rupiah. Bagi pasien gagal ginjal yang terbukti positif COVID-19 masalah tambah runyam lantaran mengancam nyawa. 

Akibatnya, Tony mendengar laporan dari rumah sakit bahwa mereka terpaksa membiarkan pasien gagal ginjal dengan COVID-19 untuk cuti berobat. Mereka, kata dia, minta pasien sampai negatif dulu COVID-19. 

Padahal layanan kesehatan pasien cuci darah tak bisa ditunda. Pada umumnya pasien gagal ginjal minimal melakukan cuci darah seminggu dua kali. Tiap cuci darah membutuhkan waktu lima jam. 

Jika prosedur ini dilewati maka keadaan pasien ginjal akan memburuk lantaran tubuh tak bisa menanggung racun yang masuk akibat berbagai aktivitas. Tony menyebut penundaan pengobatan memperburuk keadaan pasien gagal ginjal dengan COVID-19.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito sebelumnya menyebut probabilitas kematian pasien Covid-19 dengan penyerta penyakit ginjal adalah yang paling besar,  yakni 13,7 kali lipat. Tingkat probabilitas ini masih lebih besar dibanding probabilitas kematian pasien dengan penyakit penyerta lain seperti jantung dan diabetes. 

Covid-19 benar-benar mengancam pasien gagal ginjal apalagi ditambah bayang-bayang kolapsnya pelayanan kesehatan. Jumlah tempat tidur yang tersedia yang semakin menyusut di kala angka penularan terus bertambah.

Warga yang positif semakin kesulitan mencari tempat tidur. Pada Januari lalu, dilaporkan seorang pasien yang meninggal karena Covid-19 di taksi setelah kesulitan mencari rumah sakit. 

Sejak Januari lalu, dilaporkan bahwa ketersediaan tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19 di Jawa-Bali sudah di angka antara 70 hingga 80 persen. DKI Jakarta saja per 10 Februari 2021 pukul 01.24, diketahui ketersediaan tempat tidur khusus pasien Covid-19 di  fasilitas ICU dengan tekanan negatif mencapai 38 buah, dari total 310 tempat tidur. 

Ada pun tempat tidur bagi dengan pasien dengan penyakit penyerta gagal ginjal tinggal 4 buah dari total 42.

Melihat realitas ini,  Tony semakin gentar. “Pilihannya mati karena Covid-19 atau karena tidak cuci darah, “ kata Tony.