Tiga warga dari kelompok masyarakat adat Umalulu di Kabupaten Sumba Timur ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus konflik lahan dengan perusahaan perkebunan tebu PT Muria Sumba Manis (MSM). Penetapan tersangka ini diduga merupakan upaya kriminalisasi di tengah konflik lahan dengan pabrik gula milik grup Djarum, PT. Muria Sumba Manis (MSM). 

Tiga orang itu adalah Yulius Ndena, Hau Mbliyora, dan Antonius Domu. Ketiganya disangkakan melanggar Pasal 107 huruf a UU 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP, soal penyerobotan lahan perkebunan. 

Sebelumnya PT. MSM melaporkan ketiga orang tersebut kepada polisi  pada 2019 atas dasar penyerobotan lahan perkebunan. Yulius diketahui membangun rumah, sementara Hau dan Antonius membuat kebun di lahan yang diklaim perusahaan tersebut.

Kuasa hukum ketiganya,  Syahputra Sandhiyudha dari Kantor Hukum dan HAM Lokataru mengatakan warga setempat tak tahu menahu lahan tersebut sudah dikuasai oleh PT MSM. 

“Masyarakat tidak pernah diberitahu oleh PT. MSM bahwa lahan tersebut masuk ke dalam HGU PT. MSM, dan tidak ada tanda berupa plang, atau lainnya. Masyarakat baru tahu itu merupakan lahan perkebunan perusahaan setelah dipanggil atas laporan polisi,” kata dia.

Selama ini pemerintah daerah sendiri tak pernah menjelaskan soal batas Desa Wanga dan Desa Yubuwai. Anehnya penetapan status tersangka ini bagian dari rentetan konflik antara warga masyarakat hukum adat  Umalulu dengan PT. MSM yang bermula sejak 2017. PT. MSM diketahui mengeruk tanah di lahan Yulius, Hau, dan Antonius untuk kebun tebu. 

Menurut warga setempat lahan yang dikeruk tersebut masuk wilayah Desa Yubuwai dan berstatus tanah ulayat. Sementara itu PT. MSM menilai lahan itu masuk wilayah Desa Wanga. 

Masyarakat sempat memprotes dan mengusir alat berat yang ada di lahan itu. Warga pun membatasi lahan tersebut dengan pagar, meskipun dalam beberapa hari setelahnya dirobohkan oleh pihak perusahaan. Baru pada 2018, pagar pembatas diperbaiki. 

Aliansi Masyarakat Adat Umalulu – Rindi Tolak Investasi PT. MSM (Waingapu.com)

Setelah perbaikan pagar tersebut, warga Yubuwai berembuk mengenai batas desa. Batas desa pun akhirnya disepakati berdasarkan pembangunan tugu yang dibuat oleh masyarakat desa. 

Pada 2018 Yulius, Hau, dan Antonius sempat menyurati DPRD, bupati , BPN setempat, dan dinas terkait  sengketa lahan tersebut tapi tak berbalas.