Yuliantika merupakan salah satu dari banyaknya kasus malapraktik yang terjadi di Indonesia. Beberapa ada yang beruntung untuk mendapatkan bantuan hukum dan mendapatkan keadilan di akhir cerita. Namun banyak korban malapraktik yang pada akhirnya terlantar bahkan dikriminalisasi.

Mereka sudah merasakan kesakitan, beberapa mengalami kecacatan, mendapatkan perilaku buruk, hingga terus mendapat ancaman. Kesakitan seperti tak pernah pergi dari hidup mereka.

Berikut ini adalah beberapa dari kisah mereka.

2008 – Prita Mulyasari (RS Omni Alam Sutera)

Pada Agustus 2008, seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari memeriksakan dirinya karena mengalami demam tinggi dan sakit kepala yang tidak tertahankan. Pihak rumah sakit pun mengopname Prita dengan diagnosa terkena demam berdarah.

Saat dirawat di Omni, Prita langsung mendapatkan pengobatan. Namun bukannya membaik, kondisi kesehatan Prita semakin memburuk. Obat-obat yang harus dikonsumsi oleh Prita pun menyebabkan pembengkakan pada leher dan tangannya, kesulitan bernafas dan kerusakan di salah satu matanya.

Pada akhirnya, Ibu yang saat itu tengah berusia 32 tahun tersebut kemudian pindah ke RS Bintaro. Namun, pada saat dirinya meminta hasil laboratorium kepada RS Omni, permintaannya ditolak begitu saja.

Walhasil, atas dasar kekecewaannya itu lah Prita kemudian menuliskan sebuah email kepada teman-temannya yang berisikan tentang kekecewaannya dan peringatan untuk tidak berobat di RS Omni Alam Sutera. Ternyata, email tersebut populer dan menyebar secara luas. Hingga akhirnya pihak kuasa hukum RS Omni Alam Sutera mendapatkan email tersebut dan melaporkan Prita atas tuduhan pencemaran nama baik.

Perilaku RS Omni kepada Prita yang semena-mena membuat masyarakat simpati kepadanya. Alhasil, terbentuklah inisiasi ‘koin untuk prita’ dengan tujuan untuk membantu Prita membayar uang denda sebesar 204 juta rupiah.

Meski pada tahun 2011, Prita mendapatkan vonis hukuman 6 bulan penjara dengan masa uji coba 1 tahun, kasus ini berakhir pada tahun 2012 dimana Prita berhasil bebas dari segala tuntutan yang ditujukan kepadanya.

2012 – RAP (RS Medika Permata Hijau)

Dokter anestesi yang menangani Yuliantika, dr. Elizabeth Angeline Poluakan, pernah bersangkutan dengan kasus malapraktik.. Korban dr. Elizabeth sebelumnya adalah RAP, seorang anak berumur 10 tahun. Dimana akibat dari pada saat operasi usus buntu, ia dan 4 (empat) terduga lainnya terbukti melakukan kelalaian dengan melakukan pembiaran setelah operasi usus buntu dan tidak melakukan tindakan maupun pertolongan medis kepada pasien

Dalam putusan tersebut juga dijelaskan bahwa sebagai pemberi anestesi, dr. Elizabeth bertanggung jawab atas kelumpuhan sang anak karena:

  1.  Sudah mengetahui tingkat kesulitan tindakan anestesi spinal pada pasien anak namun tidak memperhatikan faktor psikis pasien anak.
  2. Tidak mengantisipasi timbulnya reaksi dari obat-obat anestesi spinal yang diberikan kepada pasien.
  3. Tidak melakukan monitoring dengan ketat setelah memberikan obat obat anestesi spinal.

Dr. Elizabeth dan rumah sakit pada akhirnya dikenakan hukuman untuk membayar kompensasi kepada korban dengan jumlah kurang lebih sebesar enam milyar rupiah.

2017 – Tities Dwi Prihantana (RSUD  Sosrodoro Djatikusumo Bojonegoro)

Seorang pemuda berusia 23 tahun bernama kini harus mengalami nasib naas. Tangannya bengkak setelah menjalani operasi di RSUD Bojonegoro. Awalnya Tities hanya dioperasi dengan alasan untuk mengoperasi pembengkakan ringan/uci-uci di tangannya.

Namun setelah operasi, lengan Tities menjadi membesar. Pembengkakan ini pun lama kelamaan membesar hingga menjalar sampai lengan dan leher Tities.

Selama proses operasi pun tidak pernah sebelumnya Tities mendapatkan rujukan untuk melakukan rontgen atau diagnosa penyakit. Pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan operasi ringan dan menunggu antrean. Setelah operasi pun Tities hanya diberikan obat antibiotik dan penghilang rasa nyeri.

Kecewa atas perilaku rumah sakit yang tidak becus menangani anaknya, ayah dari Tities yakni Tikno kemudian mengunggah foto-foto anaknya ke media sosial facebook miliknya. Melihat ini, rumah sakit kemudian tidak terima dan melayangkan gugatan ITE kepada Tities.

2018 – Wati (RSUD Kepri)

Wati tidak pernah menyangka dirinya akan mengalami nasib nahas. Setelah melakukan operasi caesar di RSUD Provinsi Kepri di Tanjunguban perutnya kini berlubang dan berbau busuk.

Menurut kesaksian Toni, sang suami, setelah tiga hari pasca menjalani operasi caesar. Istrinya tidak pernah mendapatkan pemeriksaan pada perutnya. Bekas operasi tidak pernah mendapatkan perhatian maupun dan diperbolehkan pulang. Sebelum jadwal kontrol, Toni membawa istrinya ke puskesmas lantaran perutnya merasakan sakit. Di Puskesmas baru diketahui bahwa bekas operasi milik Wati terkena infeksi.

Pihak rumah sakit menawarkan agar Wati dirawat di RSUD Provinsi Kepri. Namun, Wati dan Toni sudah terlanjur sakit hati kepada pihak Rumah Sakit.