Dugaan penyerobotan tanah terjadi di Desa Babakan Asem, Tangerang, Banten. Sebanyak 11 warga menyadari aksi ini setelah pengajuan pengukuran tanah yang mereka ajukan ke BPN ditolak. 

Salah satu warga, Heri Hermawan, mengungkap pada 5 Agustus 2020 lalu ia mengajukan pengukuran peta bidang tanah milik keluarganya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang. Hingga pada 26 Agustus 2020, proses pengajuan surat tanah yang telah Heri lakukan ditolak dan terpaksa terhenti. 

Anehnya BPN mengaku sudah menerbitkan Nomor Identifikasi Bidang Tanah (NIB) dan Sertifikat Hak Milik Tanah (SHM) yang mengatasnamakan orang lain. 

Pengalaman serupa juga dialami oleh warga lain, salah satunya Agustina. Ia yang mengajukan permohonan pengukuran tanah pada 22 September 2020 dan proses pemeriksaannya pun harus terhenti pada 17 November 2020 dengan alasan sama

Sepanjang 2020, tercatat 11 orang termasuk Heri dan Agustina yang melaporkan penyerobotan tanah yang mereka alami. Saat dilakukan pengecekan melalui peta online BPN (https://bhumi.atrbpn.go.id) nama-nama yang tertera pada NIB dan SHM yang telah terbit mengatasnamakan Hendry, Vreddy dan A. Gojali.

Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang 

Aksi ini cukup meresahkan menjadi perhatian karena kawasan itu dinilai strategis karena dekat dengan Bandara Soekarno Hatta. Desa Babakan Asem, Tangerang memiliki luas 285 Ha dengan jumlah penduduk 9,124 jiwa yang didominasi oleh wirausahawan, petani dan buruh pabrik. 

Dugaan penyerobotan tanah ini menyebutkan rentannya status kepemilikan tanah walaupun dekat dengan ibukota dan kawasan strategis