Hampir genap setahun Yulia menanggung sakit dan cacat akibat dugaan malpraktik. Rumah Sakit Buah Hati di Tangerang Selatan, muasal dia menanggung derita tak mau bertanggungjawab.

Sebilah pisau nyaris saja menggores nadi tangan Yuliantika pada suatu malam 2020 lalu, ia berniat bunuh diri lantaran deritanya tak kunjung selesai. Dugaan malpraktik ketika persalinan pada Februari di tahun sama membuatnya cacat, menyisakan sakit, dan kehilangan pekerjaan sebagai pegawai sebuah apotik. Upaya mendapat ganti rugi dari Rumah Sakit Buah Hati Tangerang Selatan, muasal dia menanggung derita pun tak menemui jalan terang. 

Yulia, nama Yuliantika biasa disapa, merasa menjadi beban bagi keluarganya. Apalagi pandemi Covid-19 turut membuat suram pemasukan keluarga. Suaminya, Irwan Supandi, terpaksa berhenti bekerja lantaran perusahaan tempatnya bekerja tutup akibat pagebluk itu. Sedikit harapan terbuka ketika mereka melakukan mediasi dengan pihak rumah sakit. 

Tapi jalan ini seolah tak menemui ujung. Sejak keluar dari RS Buah Hati Ciputat, Yuliantika dibiarkan terbaring menahan sakit tanpa adanya tindakan pengobatan ataupun usaha untuk merawat Yuliantika dari rumah sakit. Irwan pun meminta bantuan melalui media sosial.

Rumah Sakit Ibu dan Anak Buah Hati, Ciputat

Rumah Sakit Buah Hati Ciputat justru membalasnya dengan mengirim surat klarifikasi dan menuduhnya melakukan perbuatan pencemaran nama baik rumah sakit di media elektronik dan perusakan atas fasilitas rumah sakit pada 15 Mei 2020. Iwan menyanggupi panggilan itu dengan didampingi penasihat hukum Lokataru Law Firm pada 19 Mei 2020. 

Salah satu direktur RS Buah Hati menyampaikan bahwa pihaknya tidak akan memberikan pertanggungjawaban secara materil maupun medis atas kondisi Yulia. Mereka menahan rekam medis Yuliantika dan meminta agar Irwan Supandi meminta maaf secara lisan dan tidak akan melaporkan Irwan ke pihak berwajib jika bersedia meminta maaf.

Keluarga Yulia tidak diam begitu saja, mereka melaporkan pihak rumah sakit dan dokter yang menanganinya, Elizabeth Angeline Poluakan, ke Kementerian Kesehatan RI. Dokter itulah yang memberikan lebih 12 kali suntikan anestesi ketika Yulia menjalani persalinan secara caesar. 

“Saya bilang aja begini, ‘di RS Buah Hati Ciputat aja istri saya saja diintimidasi melulu, diancam-ancam. Apalagi enggak ada saya nanti,’” ucapnya.

Penolakan ini membuat pihak rumah sakit kembali berubah sikap. Perjalanan mediasi kasus ini kembali seret. Pihak Rumah Sakit enggan melakukan pertemuan lanjutan. Acara yang diagendakan pada bulan Juli pun baru dipenuhi pada 27 September 2020. Rumah sakit pun menyatakan tak sanggup memberikan kompensasi. 

Pihak Yulia sendiri meminta kompensasi biaya hidup sebesar Rp 26 miliar dihitung dari kebutuhan hidup Yulia hingga usia pensiun dan penyesuaian inflasi. Sedangkan pihak RS Buah Hati hanya dapat membayar uang kompensasi/ganti rugi senilai Rp. 350 juta. Mereka tidak pernah menjelaskan secara rinci mengapa mereka hanya dapat membayar kompensasi dengan jumlah demikian. 

Kini Yulia hanya bisa terbaring di ruang tamu rumahnya menunggu suaminya pulang berkeliling kota menjadi ojek online. Anaknya, perempuan, dirawat oleh keluarganya yang tinggal tidak jauh dari kediaman mereka.