Malpraktik diduga menjadi musabab seorang ibu rumah tangga, Yuliantika, lumpuh. Kini ia menuntut rumah sakit yang merawatnya ke ranah hukum. 

Jarum suntik adalah benda yang paling diingat Yuliantika ketika berbincang mengenai persalinan anak pertamanya pada Februari 2020 lalu. Entah berapa kali jarum anestesi menusuk punggungnya, pastinya beberapa diantaranya bengkok setelah menembus kulit. 

Berkali-kali pula ia merasakan sakit di  punggung. Sakit inilah yang membuatnya mengingat benda itu. 

“Jarumnya bengkok” ucap dia meniru kata dokter ketika persalinan.

Yulia, nama Yuliantika biasa disapa, bercerita proses persalinan yang membuat kakinya lumpuh ketika hakasasi.id bertandang ke rumahnya pada pertengahan Januari 2012 lalu. 

Berkali-kali suntikan anestesi di punggungnya masih membuatnya merasakan sakitnya persalinan khusus itu. Pisau bedah yang membelah perut dan tekanan di rahim membuatnya menjerit. Alhasil, ia harus dibius total. 

Selebihnya proses persalinan berjalan lancar, seorang bayi perempuan yang dikandungnya lahir dengan selamat. Ia-pun menunggu pemulihan pasca persalinan untuk menggendong anak itu. 

Namun sehari-dua hari pasien sebangsalnya mulai keluar kaki Yulia masih tak juga dapat digerakkan. Ia hanya berbaring sambil menahan sakit di punggung di bangsalnya di RS Buah Hati, Tangerang Selatan, Banten. Tak ada penjelasan apapun dari perawat soal kondisi kesehatannya. Suaminya, Irwan Supandi, mulai resah, khawatir mengalami kelumpuhan.

Ternyata nasib celaka itu pun menjadi kenyataan. Pada hari ketiga Irwan memutuskan untuk menemui Direktur Utama pihak Rumah Sakit Buah Hati. Tapi jalan menuju pejabat itu buntu. 

“Ternyata kasus saya ini ditutup oleh direksi dan humas supaya jangan ketemu direktur utama dulu.” ucapnya saat ditemui oleh tim Hakasasi.id di kediamannya di bilangan Tangerang Selatan.

Tak ada solusi atas kelumpuhan itu, Yulia hanya dijanjikan akan diberikan fasilitas hingga sembuh total. 

“Sudah, saya bertanggung jawab sepenuhnya. Pergi bisa jalan, pulang bisa jalan bertiga dengan anaknya,” ucap Iwan, menirukan kata-kata yang dikeluarkan oleh Dirut Rumah Sakit Buah Hati. 

Namun, janji tersebut tak kunjung datang. Iwan malah harus merogoh kocek juga untuk tetek bengek lainnya. 

“Sampai hal sepele seperti biaya parkir itu saja tidak gratis. Pampers, untuk bayi dan Yulia pun kita bayar sendiri,” jelas Iwan.

Yulia pun mengeluhkan kondisi perawatan selama di RS. Ia mengaku dapat perlakuan yang tidak layak. Pihak Rumah Sakit tidak mengobati Yuliantika dan hanya memberikan makan sehari-hari tanpa adanya tindakan untuk meringankan sakit di punggung Yuliantika. 

Lebih-lebih ada lagi perilaku karyawan rumah sakit yang tak menyenangkan. “Bu, ini seharusnya sudah tugas suami ibu nih. Tugas suami ibu yang nyebokin, bersihin kotoran ibu. Bukan tugas saya lagi.” 

“Ada pasien lain kayak gitu, istrinya diurusin, dicebok, tapi suami mbak kayaknya enggak mau nyebokin mbak deh. Itu kan berarti enggak peduli. Mba kan enggak tahu kerjanya ngapain di luar sono. Jadinya (omongannya) mengarah suami saya bakal ninggalin saya suatu saat nanti, bakalan selingkuh.” kenangnya.

Kesembuhan tak kunjung datang. Ia terpaksa hengkang dari rumah sakit karena dilakukan seakan-akan sebagai tamu yang sudah tidak diterima lagi. Barang-barangnya dikemas dan selalu membujuk Yulia dan Irwan untuk melakukan perawatan di Rumah.

“Mereka beralasan kalau RS kekurangan kamar. Pas saya cek setiap ruangan di lantai dua itu kosong. Mereka juga selalu bilang kepada saya agar Yulia dirawat di rumah saja,” ucap Irwan

Perilaku Rumah Sakit yang menekan pihak Yulia tidak hanya berhenti sampai saat itu saja. Setelah ia keluar dari Rumah Sakit, Irwan selalu mendapatkan tekanan dari pihak RS Buah Hati. Mereka menekan Irwan hingga dirinya harus menutup akun media sosialnya untuk mendapatkan ketenangan.

Saya selalu dipantau, siapapun yang masuk ke rumah sakit itu selalu dipantau. Jadi dia (rumah sakit) sudah tahu keluarga saya, mana teman saya, mana istri saya, dia tahu. IG saya, facebook saya selalu diikuti sama dia. Ternyata bukan atas nama rumah sakit, tapi pribadi.” jelas Irwan.

Kini Yulia tinggal bersama suami dan orang tuanya, dengan rasa sakit yang masih menghantui punggungnya.

Mencari Pendamping Hukum 

Irwan bingung bagaimana agar dapat lepas dari kekangan rumah sakit. Ia meminta tolong kepada beberapa public figure dengan meninggalkan sebuah komentar dalam halaman facebook dan instagram mereka. Namun apa daya, Irwan belum juga mendapatkan pertolongan.

Tangkapan layar saat Irwan mencoba untuk meminta bantuan di kolom komentar publik figur

Bantuan datang ketika ia bisa berhubungan dengan Pengacara HAM, Haris Azhar, melalui  seorang wartawan. Perkenalan ini kemudian membawanya ke Lokataru Lawfirm yang memberinya pendampingan hukum pro bono

“Setelah lapor ke Pak Yubi (RED: Pengacara Lokataru), sudah tidak ada lagi yang (nanya) ‘share lokasi, lagi di mana’, humasnya enggak ganggu saya lagi. Yang ada dia (pihak rumah sakit) yang dateng ke sini,” ucap Iwan.

Bantuan pendampingan ini yang menuntun Yulia tengah menempuh jalur hukum menuntut kompensasi dari Rumah Sakit. Ia menuntut kompensasi sebesar Rp 25 Miliar, berdasarkan penghitungan kerugian pendapatan dan kebutuhan yang dihitung secara progresif. 

Angka ini merupakan perkiraan dengan menggunakan Pasal 15 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun.

Pihak pendamping hukum, Lokataru Law Firm, menyatakan bahwa kompensasi tersebut harus diberikan oleh rumah sakit sebagai bentuk dari pertanggungjawaban atas tindakan mereka.

Kini Irwan dan Lokataru juga bersama-sama tengah menggalang dana demi mengurangi beban hidup Yuliantika yang telah direnggut karir dan kehidupannya.