Area pembangunan sirkuit MotoGP di Mandalika di Kawasan Ekonomi Khusus, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, memendam bencana alam. Data BMKG Mataram menyebutkan potensi gempa megathrust dengan kekuatan 8,5 magnitudo, serta gelombang tsunami setinggi 20 meter. Tak hanya gempa saja pada Minggu lalu (31/1/2021) air hujan juga membanjiri hingga setengah meter.

Para lelaki di Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, perlu menarik celana hingga atas lutut jika ingin turun dari berugak (gazebo). Air setinggi setengah meter sudah sedari Sabtu malam (30/1/2021) menggenangi 12 dusun di desa itu. Di beberapa titik, air sudah merendam rumah hingga setinggi pinggang orang dewasa. 

Banjir itu berasal dari hujan yang mengguyur seharian, warga pun terpaksa mengungsi di berugak menunggu air surut.  Di sekitar wilayah itu,  setidaknya ratusan warga di 17 dusun turut terdampak banjir. 

Celakanya air tak hanya menggenangi dusun-dusun tapi juga lahan sirkuit Moto GP Mandalika. Alat-alat berat proyek pun sempat ikut terendam dan menyisakan jejak lumpur di badannya ketika air surut pada Minggu (31/1/2021). 

Banjir di penghujung Januari ini mungkin jadi pengingat bahwa kawasan tersebut  tak pernah lepas dari intaian bencana. Berbagai bayang-bayang bencana di Sirkuit MotoGP. Pada 2019, Badan Meteorologi,  Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mataram menyatakan Lombok Selatan menyimpan potensi gempa megathrust dengan kekuatan 8,5 magnitudo, serta gelombamg tsunami setinggi 20 meter. Potensi ini diperhitungkan melalui simulasi pemodelan tsunami. 

“Kalau (Lombok) selatan kurang lebih 3-5 kilometer rendaman tsunaminya, termasuk rendamannya mengenai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika,” kata Kepala BMKG Mataram Agus Riyanto,  seperti diberitakan Tirto.id.

Merujuk sejarah dan penelitian, Agus mengatakan gempa besar pernah terjadi di perairan Selatan Lombok sekitar 500-1000 tahun yang lalu. Hal tersebut dibuktikan melalui pengamatan pada pasir yang tersisa dari bencana tsunami di masa lampau. 

Potensi gempa ini juga diperkuat hasil studi Ron Harris dan Jonathan Major dari Brigham Young University. Penelitian Harris dan Major menunjukkan bahwa setiap tahunnya Lempeng Lombok tertekan lempeng Indo-Australia sepanjang 35 meter.

Jika lempeng ini tak mampu menahan tekanan, maka berpotensi menyebabkan gempa megathrust dengan kekuatan minimal 9 magnitudo dan maksimal 9,5 magnitudo. 

Namun, Direktur Utama ITDC Abdulbar Mansoer pernah mengelak bahwa kawasan KEK Mandalika termasuk wilayah rawan gempa. “Vinci itu tandatangan kerjasama 1 milyar AS dengan kita itu tiga hari setelah gempa Lombok (2018). Mereka melihat prospek ke depannya. Lombok Selatan itu bukan daerah gempa,” kata Abdulbar kepada Beritagar. 

Sementara, itu di luar gempa,  wilayah di kawasan KEK Mandalika masih menyimpan potensi bencana berisiko tinggi lainnya seperti Tanah Longsor, Gelombang Ekstrim, dan Kebakaran Hutan.

Minimnya Regulasi Mitigasi Bencana

Rawannya tingkat bencana tak diimbangi kemampuan mitigasi yang memadai. Situs inaRISK milik badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengukur risiko bencana wilayah-wilayah di Indonesia, menilai tingkat kapasitas daerah Lombok Tengah menghadapi bencana tergolong rendah.

Merujuk Kajian Resiko Bencana (KRB) Kab Lombok Tengah (2017 - 2021) yang ditandai oleh beberapa poin seperti: Belum adanya Peraturan tentang Penanggulangan Bencana serta Rencana Penanggulangan Bencana, belum adanya mekanisme penyebaran Informasi Kebencanaan dan integrasi informasi hingga tingkat nasional. 

Selain itu juga Rencana Tata Ruang Tata Wilayah Lombok Tengah yang tidak mempertimbangkan informasi ancaman bencana dan pengurangan risiko bencana (PRB), serta Minimnya sumber daya bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); baik dana, sarana, prasarana dan personil

Adapun pihak ITDC, selaku pengembang hanya menyiapkan pedoman tata bangunan yang dibuat vertikal, agar dapat membelah tsunami. Serta diimbau untuk menyiapkan kolam atau laguna untuk mencegah tsunami. 

Ambisi Destinasi Eco - Tourism

Penetapan Mandalika menjadi KEK dimulai saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 52 Tahun 2014. Lalu Mandalika jadi salah satu proyek ambisius Presiden Joko Widodo di sektor pariwisata. Ia mencanangkan 10 Bali Baru, yakni Mandalika, Danau Toba, dan Labuan Bajo.

Kawasan ini diproyeksikan menjadi spot-spot wisata baru yang bisa bersanding dengan Bali yang sudah terkenal di mancanegara.

Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development (ITDC)  mendapat tugas untuk mengembangkan kawasan tersebut. Luas wilayah proyek KEK Mandalika mencapai 1.175 hektar,  meliputi empat desa: Sengkol, Kuta, Sukadana,  dan Mertak.

Bermodalkan jargon Eco-Tourism,  pengembang memfokuskan dua titik area di sekitar pantai. Area pertama yakni The Lagoon Complex yang terdiri dari Marina Berth, Water Park, dan The Lagoon Complex. Rencananya di lahan seluas 310.000 hektare ini akan didirikan permukiman kelas premium serta area wisata kuliner akan dibangun.  Wilayah ini pula akan diperuntukan bagi kapal-kapal pesiar bersandar.  

Area kedua adalah The Amenity Cluster yang didesain sebagai destinasi wisata belanja.

Dan yang terakhir, adalah sirkuit untuk gelar pacuan kuda besi Moto GP. Panjang sirkuit yang dibangun mencapai 4,32 kilometer. Daya tampung penonton balapan kelas internasional itu diproyeksikan mencapai 150 ribu orang. 

Bangunan-bangunan itu tentu saja mewah dan berkelas. Namun rapuhnya kondisi alam bisa menjadi bekal malapetaka. Bayangkan saja jika seorang pembalap tengah membetot gas sepeda motor dengan kapasitas 500 cc empat silinder dan memacu kecepatan 200 km/ jam tiba-tiba di samping kanannya ada ombak seukuran pohon kelapa siap menggulungnya. 

Tentu bukan saja nyawa pembalap yang terancam, tetapi 150 ribu orang yang tengah bersorak menyemangati jagoannya mengubah sorakannya menjadi histeris ketakutan.