Yuliantika, ibu satu anak, harus menanggung lumpuh akibat dugaan malpraktik. Dugaan ini terjadi ketika proses persalinan. Sang bayi selamat, tapi kelumpuhannya membuat tak mampu merawat anak itu. 

Sudah hampir setahun hidup Yuliantika hanya sebatas kasur lipat berukuran 2×1 meter yang terhampar di ruang tamu rumahnya di kawasan Tangerang Selatan, Banten. Setiap hari ia terbaring di atas kasur itu. Kebebasannya terenggut oleh dugaan salah urus tindakan medis yang membuat kakinya lumpuh. 

Dua tungkai kaki Yulia, nama sapaan Yuliantika, tak bisa digerakan sementara kulit di bagian tubuh perut bawah sampai ujung kaki kebas. Urusan buang air pun dilakukan di atas kasur itu. Yulia harus menggunakan selang yang tersambung dengan kantong kateter. 

Kehidupan seperti ini dijalani Yulia sejak ia menjadi korban dugaan malpraktek jelang melahirkan anak pertamanya pada Februari 2020 silam. Kala itu rumah sakit tempatnya bersalin,  Rumah Sakit Buah Hati Ciputat, menyiapkan prosedur operasi caesar.

Dokter memberikan suntikan anestesi berulang kali hingga ia merasakan sakit di punggungnya. 

“Tulang belakang-ku juga sakit banget, mungkin karena sudah memar disuntik berkali-kali,” kata Yulia yang kala itu kehilangan kesadaran hingga persalinan selesai.

Bangun dari tidur, perempuan berusia 32 tahun itu tak bisa menggerakan kedua kakinya dan kulitnya pun kebas. Ia lantas dirawat di rumah sakit dalam waktu kurang lebih dua bulan.

Irwan Supandi, suaminya, menanyakan penyebab kelumpuhan istrinya kepada seorang dokter saraf di rumah sakit itu. Menurut dokter itu, saraf tulang belakang terdampak suntikan obat 

“Saya sampaikan kemudian ke rumah sakit, mulai panik pihak rumah sakit. Setelahnya, dokter itu tidak terbuka sama saya,” kata Irwan.

Tak Mampu Lagi Bekerja

Sepulang dari rumah sakit tak banyak yang bisa Yulia lakukan. Ia bahkan tak bisa memberikan perhatian penuh kepada putri kecilnya. Keluarga Irwan yang sementara membantu merawat sang putri.

Yulia menggantungkan hidup kepada suami dan ayahnya, Narjin, untuk melakukan aktivitas harian seperti makan, serta  mengganti kateter dan pampers. 

Tak hanya itu, Yulia juga kehilangan pekerjaannya sebagai apoteker. Keadaannya sekarang tak memungkinkan dirinya untuk kembali bekerja seperti dulu. 

Kebutuhan hidup semakin bertambah dengan kehadiran putrinya. Sementara, Yulia sendiri harus memberi keperluan barang-barang untuk menopang hidupnya, seperti kateter, obat pereda rasa sakit, dan juga pampers untuk keperluan buang air. 

Demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Yulia mengandalkan Irwan yang bekerja sebagai tukang ojek online dan juga ayahnya yang seorang penjahit. Beberapa kali Yulia mencoba bunuh diri karena putus asa.

Irwan bercerita  suatu malam ia sempat mendapati sang istri bersusah payah mencari pisau. 

“Jam 12 malam ketahuan dia (Yulia) mau ambil pisau. Saat itu saya sudah tidur, tapi alhamdulilah saya kebangun,” kata Irwan. 

Sejak saat itu,  Irwan dan Narjin lebih ketat memantau aktifitas Yulia sehari-hari. Melihat beban yang dihadapi Yulia,  Irwan berniat menuntut kompensasi dari rumah atas imbas berbagai kebutuhan hidup dan hilangnya pekerjaan sang istri. 

“Saya menuntut rumah sakit,  karena istri saya datang bisa jalan sehat walafiat pada malam itu. Kenapa pas lahiran dibuat lumpuh hingga saat ini? “ kata Irwan. 

Belakangan diketahui dokter yang memberikan suntikan anestesi berkali-kali itu bernama Elizabeth Poluakan. Ia memiliki cacat saat berpraktek sebagai dokter anestesi. 

Pada tahun 2014, Pengadilan Negeri Jakarta Barat pernah memutus Elizabeth melakukan malpraktik karena terbukti melanggar prosedur pemberian suntikan anestesi  yang menyebabkan seorang anak berusia 10 tahun kehilangan penglihatannya. 

Akibat kasus itu, Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia memberikan surat rekomendasi pembekuan berpraktek bagi Elizabeth selama satu tahun. 

Sementara itu Rumah Sakit Buah Hati Ciputat tak mempertanggungjawabkan dampak yang terjadi pada Yulia. Irwan pun membawa Yulia pulang dengan keadaan setengah lumpuh.

Pengacara Yulia, Ayyubi Harahap dari kantor hukum Lokataru mengatakan pihak rumah sakit telah tak transparan soal alasan operasi caesar dan suntikan yang dilakukan secara bertubi-tubi. 

Ayyubi meminta agar pihak rumah sakit dapat mempertanggungjawabkan kejadian malpraktek yang menimpa Yulia, sampai ia sembuh. “Jika Yuliantika tidak sembuh juga maka RS Buah Hati Ciputat harus menanggung kebutuhan Yuliantika seumur hidup. Terlebih lagi Yuliantika harus kehilangan karirnya,” kata Ayyubi.