Akhir Desember tahun lalu terdeteksi klaster Covid-19 di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia Cengkareng, Jakarta Barat. Puskesmas melakukan tes usap pada 376 orang disana. Hasilnya, total 66 orang positif, terdiri dari 61 lansia penghuni dan lima pegawai panti.

Proses evakuasi pasien lansia yang terkonfirmasi COVID-19 dari panti di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, menuju Rumah Sakit Umum Khusus Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (22/12/2020) dini hari. (ANTARA/HO-UPAS DKI)

Tentu ini mengkhawatirkan, mengingat lansia termasuk kelompok rentan dengan tingkat kematian tinggi akibat COVID-19. Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per 10 Januari 2021 menyebutkan persentase lansia (usia di atas 60 tahun) yang meninggal akibat COVID-19 mencapai 11,83 persen.

Namun, di tengah ramainya gelaran vaksinasi massal, pemerintah justru tidak mengikutsertakan lansia sebagai prioritas vaksinasi tahap pertama. Alih-alih mengantisipasi munculnya klaster panti werdha yang lebih besar, pemerintah memilih mendahulukan vaksinasi di usia produktif (18-59).

Raffi ahmad dengan Presiden Jokowi sesaat setelah menerima vaksin. Raffi Ahmad/ Instagram.

Meski tujuan vaksinasi adalah untuk mengurangi kematian dan angka penularan, terlihat alur yang dipilih oleh pemerintah berbeda dengan negara-negara yang menjadikan lansia sebagai target sasaran utama vaksinasi darurat. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Jepang memprioritaskan lansia sebagai penerima vaksin tahap pertama

Hal ini selaras dengan rekomendasi WHO yang menetapkan lansia, bersama tenaga kesehatan, sebagai kategori prioritas A1 penerima vaksin (mengurangi kematian dan beban penyakit akibat pandemi) dan C1 (prioritas vaksin mempertimbangkan kerentanan, risiko, dan kebutuhan kelompok karena pertimbangan dampak yang lebih besar). Dengan catatan kondisi pandemi masih marak penularan dan kemunculan klaster.

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19, prioritas penerima vaksinasi COVID-19 mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan profil keamanan vaksin.

Hal ini selaras dengan rekomendasi WHO yang menetapkan lansia, bersama tenaga kesehatan, sebagai kategori prioritas A1 penerima vaksin

Mengenai ketersediaan barang, pemerintah sudah kadung memborong vaksin dari Sinovac, China. Vaksin tersebut memang lolos batas minimal efikasi WHO dan mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM, namun hingga saat ini vaksin Sinovac belum terbukti keamanannya bagi lansia.

Seremonial Distribusi Sinovac. Tangkapan layer dari Suaradotcom.

Atas alasan itu pula pemerintah memprioritaskan usia produktif. Harapannya, makin banyak usia produktif yang diberikan vaksin, hal tersebut dapat sekaligus melindungi yang rentan. Meskipun data Satgas Penanganan COVID-19 menyebutkan bahwa persentase meninggal usia produktif lebih kecil dibanding lansia.

Analisis Data COVID-19 Mingguan Satuan Tugas PC19 per 10 Januari 2021

Lansia Harus Antre

Dari empat tahapan rencana vaksinasi di nasional, lansia mesti antre di tahap dua yang rencananya akan berlangsung pada Maret-April 2021. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa vaksinasi bagi lansia sendiri masih harus menunggu vaksin AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech, dua vaksin yang telah lolos uji dan aman digunakan pada lansia.

Selama menunggu vaksin yang aman bagi lansia, pemerintah tidak bisa lepas tangan mengawasi keamanan lansia,terutama di lokasi-lokasi padat lansia seperti panti werdha. Ini guna mencegah munculnya kasus seperti di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia. Tidak hanya perlindungan kesehatan yang mesti diperhatikan, tetapi juga perlindungan sosial para lansia. 

Jangan sampai pemerintah dan masyarakat hanyut dalam euforia vaksinasi. Sebab bahaya pandemi tidak berhenti dengan adanya vaksin. Peluang risiko penularan masih bisa terjadi karena sejauh ini belum ada vaksin yang benar-benar mencegah terjadinya penularan. Jika lengah, bukan hanya nasib lansia yang terancam. Perlu diingat, sistem dan fasilitas kesehatan kita kini diambang ambruk.