“Ada guru yang melarang untuk ikut aksi. Itu kita boleh melawan guru itu enggak?”

“Bilang aja, ibu guru ini telah menyalahi sejarah guru, gitu.”

Demikian potongan dialog sejarawan JJ Rizal dengan siswa SMK PSKD 3 Olil di akhir Oktober 2020. Dalam autobiografi Bung Karno, diceritakan Soekarno muda sebagai siswa yang paling sering melawan guru. Soekarno menganggap gurunya sering melakukan hal-hal yang menurutnya bagian dalam sistem pikiran dan duplikasi kekuasaan kolonial. “Saya ingin berpolitik, karena saya ingin bangsa saya merdeka, percuma saya sekolah tinggi kalau saya hanya jadi budak di antara bangsa-bangsa,” kurang lebih seperti itu JJ Rizal menirukan pembelaan Soekarno ketika dipanggil gurunya.

Menurut JJ Rizal pernyataan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan kepolisian yang meminta pihak sekolah untuk melarang siswanya terjun dalam demonstrasi, itu terkena proses feodalisasi dan militeristik yang digunakan pemerintah Orde Baru. Artinya, negara memandang pelajar sebagai bagian dari konsep belum dewasa dan tidak mengerti. Sehingga pelajar yang mengikuti demonstrasi didelegitimasi dengan stigma; pelajar tidak memiliki pemahaman, hanya dimanfaatkan, dan seterusnya.

Sejarawan JJ Rizal dalam diskusi daring Lokataru Foundation. (YouTube Lokataru Foundation).

“Ada dasar atau struktur di dalam pemerintahan maupun pendidikan Orde Baru, itu namanya ngenger atau menghamba,” kata Sejarawan JJ Rizal dalam diskusi daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lokataru Foundation, Sabtu (31/10).

JJ Rizal mengatakan tidak adil jika negara mempertanyakan motivasi gerakan dan keikutsertaan pelajar untuk berdemonstrasi. Pelarangan yang didasari stigma hanya mengakibatkan pengekangan terhadap kebebasan pelajar untuk berpendapat. “Tidak menghilangkan esensi dari kemurnian perasaan mereka terhadap apa yang terjadi,” ucap JJ Rizal.

Ilustrasi Demonstrasi Pelajar. Helmi Afandi Abdullah/Kumparan

Negara seharusnya juga tidak melupakan bahwa para pelajar telah menjadi bagian penting perubahan sosial dan sudah berada di garis depan pelbagai pertempuran sejak zaman kolonial hingga era Reformasi. Gerakan pertama di Indonesia yang diilhami para pemuda yang mayoritas anak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas merupakan bukti bahwa cikal bakal para pendiri bangsa kita menuju kemerdekaan adalah anak-anak sekolah.

Ilustrasi Novel Student Hidjo. idwriters.com

Para pelajar tak boleh ciut akan pelbagai ancaman dari negara. Novel Student Hidjo mengingatkan bahwa perasaan nasionalisme yang paling awal ditulis oleh seorang anak pelajar, jadi jangan anggap pelajar itu tidak tahu apa-apa. Sejatinya, mereka sudah matang oleh wawasan, pengetahuan, bahkan rasa, mereka yang bisa melihat hari depan yang akan suram. “Kalau kalian ditangkap, kalian bawa novel ini, bilang, bapak durhaka harus belajar sejarah, baca dong. Perintis awal nasional kita, itu judulnya student, bapak tahu arti student? pelajar itu,” ujar JJ Rizal.