Pada tanggal 10 Desember, warga pengungsi eks Timor-Timur melakukan aksi unjuk rasa menuntut kepastian status tanah bagi mereka. Namun, aksi damai ini kemudian berujung bentrok dengan pihak kepolisian yang bertugas. Beberapa massa aksi jadi korban: satu orang terkena luka tembakan dan lima orang luka-luka.

Para massa aksi mulai dibubarkan di jalan Timor Raya saat aksi berlangsung pada pukul 10.10 WITA. Aksi dorong mendorong pun terjadi dan tembakan dilepaskan oleh pihak aparat yang membuat massa buyar.

“Apa yang dilakukan pihak kepolisian di Kupang ini mirip dengan yang terjadi di aksi RDK (Reformasi Dikorupsi) dan penolakan Omnibus Law kemarin. Semakin kesini, semakin menonjol perilaku abuse of power-nya”, jelasnya.

Setelah para massa aksi berkumpul lagi di Tuapukan pada sekitar pukul 10.30 WITA, dua orang massa aksi yang bernama Acasio Soares dan Abel de Ameida Pinto membawa Privanto Soares yang mendapatkan luka tembakan di lututnya ke rumah sakit. Namun di tengah perjalanan mereka dihentikan oleh polisi dan langsung ditangkap oleh pihak kepolisian. 

Privanto Soares dibawa ke RS Bhayangkara sedangkan Acasio dan Abel langsung dibawa menuju Polres Baubau.

Warga Eks-Pengungsi Timor Timur Yang Tertembak (Dok: Leko NTT)

Di tempat yang berbeda, Deonato Saramento juga ditangkap saat dalam perjalanan menuju tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan mendekam di Polres Kabupaten kupang.

Menanggapi hal ini, Dodi Yuniar, Program Coordinator Asian Justice and Rights (AJAR), menjelaskan bahwa semakin kesini polisi semakin represif terhadap warga.

Dua Warga Yang Menjadi Korban Kekerasan Aparat (Dokumentasi warga Eks Pengungsi Timor Timur)

Pihak kepolisian cenderung menekan suara-suara kritis warga. Apa yang dilakukan pihak kepolisian di Kupang ini mirip dengan yang terjadi di aksi RDK (Reformasi Dikorupsi) dan penolakan Omnibus Law kemarin. Semakin kesini, semakin menonjol perilaku abuse of power-nya”, jelasnya.

Ia juga menambahkan, aksi warga pengungsi eks-Timor Timur adalah PR pemerintah yang sudah tertunda sejak lama, khususnya bagi warga di Tuapukan. Hingga saat ini, kondisi di Kamp Tuapukan masih mirip seperti 20 tahun lalu. Untuk MCK masih sulit dan masih banyak tempat tinggal yang sifatnya semi permanen. Sehingga wajar jika warga di Kamp tersebut melakukan aksi damai kemarin,” pungkasnya.