“Dugaannya memang, kemungkinan dampak libur panjang. Disebutkan bahwa pasca long weekend memang rata-rata kasus di Indonesia naik, Jawa Timur memang mobilitasnya tidak setinggi provinsi lain ketika long weekend kemarin,” 

Dr. Makhyan Jibril Al Farabi 

Staf Ahli Satgas Penanganan Covid-19 Jatim

(Merdeka.com – 18/11/2020)

Long weekend alias libur panjang 28 Oktober – 1 November 2020 (bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW) yang dimanfaatkan banyak orang untuk bepergian keluar Jakarta; baik untuk berlibur atau keperluan lain, jadi klaster baru penyebaran virus corona. 

Dilansir dari twit Pandu Riono (17/11) ahli epidemiologi Universitas Indonesia, pasca libur panjang kemarin, tercatat ada 93 kasus positif dari 27 klaster keluarga di Jakarta yang melakukan perjalanan keluar dari Jakarta menuju Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung. 

Angka tersebut juga bukan representasi total dari jumlah orang yang bepergian. Tercatat lebih dari 600 ribu kendaraan meninggalkan Jakarta (via tol) dan puluhan ribu lainnya menggunakan moda transportasi lain (bus, kereta api, pesawat), kalah jauh dari jumlah 172 keluarga yang jadi sampel dari libur panjang kemarin. 

Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa penyebaran virus selama libur panjang kemarin bisa lebih banyak (atau mungkin lebih sedikit). 

Namun yang menarik adalah klaster yang berasal dari Taman Safari (5 orang) dan Curug Sentul (2 orang); dua destinasi wisata di Jawa Barat yang memang kerap jadi pilihan warga Jakarta untuk berlibur.

Ini juga bukan kali pertama tempat wisata rentan terhadap virus. Sebelumnya, dua hotel di Solo (16/07) dan tiga hotel di kawasan Cipanas Garut ditutup (05/09) setelah beberapa pengunjung dan/atau pegawai hotel terpapar virus corona. Ada juga satu orang terdeteksi positif di objek wisata Pulau Pahawang (09/09/2020) pada saat libur 1 Muharram lalu. 

Padahal Kemenparekraf,  instansi yang bertanggung jawab menyusun protokol kesehatan di tempat – tempat pelesir, sudah memberikan jaminan kepada publik bahwa tempat pariwisata di seluruh Indonesia akan dilengkapi dengan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment), sebagai upaya  mencegah penyebaran virus di tempat wisata.

Namun mengapa masih ada klaster penyebaran baru di destinasi wisata?

Protokol CHSE Kemenparekraf: Tak Efektif Cegah Penularan Covid?

Protokol CHSE merupakan program sertifikasi yang dimandatkan kepada seluruh penyelenggara pariwisata (pengelola destinasi wisata, restoran, hotel/pemondokan, dan lainnya) agar memenuhi prinsip kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keamanan (safety), serta kelestarian lingkungan (environmental). 

Inilah katanya yang jadi kunci bagi rebound industri wisata selama masa pandemi menurut Mas Menteri Wishnutama. 

“Kunci keberhasilan pariwisata agar dapat segera rebound adalah pelaksanaan protokol kesehatan berbasis CHSE dengan baik dan disiplin di tiap destinasi tujuan dan pelaku sektor pariwisata,”

Wishnutama Kusubandrio – Menparekraf (okezone.com – 09/11/2020)

Protokol CHSE Kemenparekraf

Padahal syarat – syarat pembukaan tempat pariwisata yang aman selama pandemi bukan hanya berfokus pada penerapan protokol. Seperti dikutip dari dokumen UNWTO Global Guidelines to Restart Tourism (UNWTO. 2020), ada enam prinsip yang harus diperhatikan untuk kembali membuka destinasi pariwisata selama pandemi, antara lain: 

    1. Perjalanan aman tanpa hambatan (safe and seamless travel); 
    2. Protokol dan informasi yang jelas dan berbasis pada bukti; 
    3. Data sharing atas dasar persetujuan dan peraturan yang yang menghormati privasi;
    4. Non-diskriminasi terhadap wisatawan; 
    5. Transformasi digital; 
    6. Penerapan kebijakan selama diperlukan dan mengganti atau meniadakannya jika situasi memungkinkan.

Terkhusus pada prinsip nomor dua; pertanyaannya apakah protokol CHSE ini sudah cukup jelas dan berbasis pada bukti? Mengingat masih banyak destinasi pariwisata yang berada di daerah yang berstatus zona merah/oranye, alias tidak aman untuk dikunjungi dalam jumlah banyak. 

Jakarta sendiri sebagai daerah asal turis selama masa libur panjang juga bukan termasuk area aman. Per tanggal 28 Oktober, DKI Jakarta sendiri mengalami penambahan kasus harian sebanyak 700 orang

Terlebih lagi, fungsi Testing, Tracing, Treatment (Tes, Lacak, Rawat) sendiri dikhawatirkan masih belum maksimal dalam mencegah penyebaran virus, mengingat jumlah tes yang masih kecil, pelacakan yang semakin tidak masuk akal karena sudah menjangkau klaster keluarga hingga terbatasnya fasilitas kesehatan untuk perawatan pasien Covid secara intensif.

Sayangnya penerapan protokol kesehatan dengan seketat apapun, tak menghindari potensi penyebaran virus di tempat pariwisata selama tidak disertai dengan analisis daerah tujuan dan asal wisata yang aman untuk dikunjungi wisatawan.