Pada tanggal 25-26 November kemarin, Gajimu dan Trade Union Rights Center (TURC) mengadakan Akademi Pekerja Perempuan, yang bertujuan memberdayakan buruh perempuan, terutama mereka yang jadi tulang punggung industri tekstil, garmen, sepatu dan alas kaki (TGSL). Dalam acara ini dibahas berbagai macam permasalahan buruh perempuan mulai dari ketimpangan gaji hingga pembentukan komite perempuan antar serikat.

Hak buruh perempuan lainnya yang menjadi perhatian adalah pelecehan seksual di tempat kerja. Menurut riset Never Okay Project mengenai Pelecehan Seksual di Tempat Kerja, pekerja perempuan di Indonesia masih rentan atas perilaku pelecehan seksual. Dari seluruh responden perempuan yang mengikuti survei, hanya 4% yang tidak pernah mendapatkan perilaku pelecehan seksual.

Salah satu buruh yang konsisten memberdayakan perempuan di lingkungan kerja adalah Lasmaria Sihite dari PT. KMK Global Sport di Tangerang. Ia sukses membentuk Komite Pemberdayaan Perempuan dalam perusahaan tempatnya bekerja. Komite ini merupakan wadah bagi para pekerja perempuan untuk berkonsultasi dan melapor jika ada yang menjadi korban pelecehan.

Lasmaria Sihite (Dok: Gajimu.com)

Perlu bertahun-tahun sampai perempuan yang akrab disapa Maria ini berhasil membentuk Komite Pemberdayaan Perempuan. Sejak kurang lebih empat tahun yang lalu, Maria telah memperjuangkan hak-hak buruh perempuan dalam perusahaannya, meski awalnya tidak berjalan dengan mulus.  “Dulu, jika ingin naik jabatan para buruh perempuan harus rela untuk diperlakukan tidak senonoh oleh atasannya. Saya ingin agar tempat kerja saya aman bagi perempuan untuk bekerja dan mencari nafkah tanpa harus merendahkan harga dirinya,” ucapnya.

“Awalnya, kendala terutama seperti atasan-atasan yang menganggap organisasi perempuan ini tidak memiliki daya. Tapi, kami berhasil menjelaskan kepada manajemen bahwa pekerja perempuan ini wajib dilindungi dan bukan hanya menjadi pelampiasan seksual bagi para pekerja laki-laki. Kini pekerja-pekerja perempuan di tempat saya bekerja telah aman dari perilaku pelecehan seksual, baik dalam tingkat kekerasan verbal maupun pelecehan.” terangnya.

Meskipun beberapa serikat telah berhasil membentuk lingkungan kerja yang lebih baik dalam perusahaannya. Peneliti TURC Rizki Amalia Fakhikah menilai salah satu yang membuat implementasi hak-hak buruh perempuan dalam perusahaan masih kurang baik ialah adanya budaya patriarki yang mengakar. “Dalam perusahaan sendiri masih ada ketimpangan upah yang mengakibatkan kesenjangan. Kesenjangan bukan hanya dilihat dari nominal, tapi beban kerja yang ternyata lebih berat untuk perempuan,” ucapnya.

 

Perusahaan kembali menjadi tonggak dalam implementasi kesetaraan gender. Karena, tidak sedikit juga perusahaan-perusahaan yang sudah baik dalam prakteknya. Seperti perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan brand besar luar (misal: Nike, Adidas).

Untuk masalah pelecehan seksual sendiri, undang-undang yang mengatur tentang pelecehan seksual sendiri belum ada. Namun, bukan berarti perusahaan tidak wajib dalam melindungi pekerja perempuannya dari ancaman tersebut.

“Penguatan bukan hanya di undang-undang, tapi dari data. Para korban biasanya sulit untuk speak-up karena takut terintimidasi atau malu. Maka dari itu perlu adan kelompok pekerja perempuan di perusahaan yang mendata korban agar dapat menjadi penguat bahwa kekerasan/pelecehan seksual diatur dalam PKB,” jelasnya.

Selain pekerja perempuan, menurutnya pekerja laki-laki juga harus diberikan pendidikan mengenai pelecehan seksual. “Hal ini diperlukan agar pekerja laki-laki sendiri tahu tentang pelecehan seksual, sehingga para pekerja bisa saling melindungi satu sama lain dalam menghadapi pelecehan di tempat kerja.”