Yuliantika kini terbaring lemah di rumah sederhananya. Kebutuhan rumah tangga terbengkalai tak terurus. Ia juga harus kehilangan pekerjaan sebagai kasir di Apotek K24 Rempoa. Jauh sekali Yuliantika terpisahkan dengan aktivitas sosial di masyarakat.

“RSIA Buah Hati Ciputat telah merampas karir dan kehidupan Yuliantika. Sekarang Yuliantika tidak lagi bisa kembali ke tempat kerjanya. Dia juga tidak dapat lagi beraktivitas di masyarakat dengan normal,” ujar Al Ayyubi, Asisten Advokat Kantor Hukum & HAM Lokataru.

Yuliantika adalah korban malpraktik Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Buah Hati, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Ia mengalami kecacatan fisik pasca melakukan operasi caesar di rumah sakit tersebut. Kesalahan medis operasi caesar yang membuat Yuliantika tidak bisa berjalan hingga saat ini, telah mengubah kehidupannya. Karena kondisinya itu, Yuliantika sampai hari ini menderita kesakitan di tubuh bagian punggung belakang. Akibat kondisi tersebut, jangankan untuk merawat bayinya yang baru lahir, untuk mengurus diri sendiri pun, Yuliantika tak sanggup.

Al Ayyubi, kuasa hukum Yuliantika, kini menagih tanggung jawab atas kesalahan pelayanan medis operasi caesar yang dilakukan RSIA Buah Hati. Melalui surat bernomor 237/SK-Lokataru/VIII/2020, Yuliantika menuntut kompensasi kepada RSIA Buah Hati Ciputat

“Sehubungan dengan kondisi fisik Yuliantika pasca operasi caesar di Rumah Sakit Buah Hati Ciputat, kami mengajukan proposal kompensasi sebagai bentuk pertanggungjawaban dari Rumah Sakit Buah Hati Ciputat,” tulis surat bertanggal 7 Agustus 2020 tersebut.

Yuliantika menuntut kompensasi sebesar Rp 25 Miliar, berdasarkan penghitungan kerugian pendapatan dan kebutuhan yang dihitung secara progresif hingga Yuliantika mencapai umur 65 tahun, sesuai dengan Pasal 15 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun.

“Kami meminta kepada pihak RSIA Buah Hati Ciputat supaya melakukan upaya pengobatan secara medis di salah satu Rumah Sakit terbaik di Negara Singapura untuk kesembuhan fisik Yuliantika. Namun apabila upaya pengobatan tersebut tidak menghasilkan kesembuhan, kami meminta pertanggungjawaban Rumah Sakit Buah Hati Ciputat dalam bentuk materil dan imateril,” ujar Ayyubi.

Pengajuan kompensasi ini merupakan tindak lanjut dari hasil mediasi yang dilakukan Lokataru Kantor Hukum & HAM dengan pihak RSIA Buah Hati Ciputat bersama Kementerian Kesehatan di Gedung Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 7 Juli 2020 lalu.

Kesalahan Prosedur Anestesi?

Yuliantika merupakan pasien operasi caesar di RSIA Buah Hati Ciputat pada 18 Februari 2020. Sebelum operasi caesar, Dr. Elizabeth Angeline Poluakan,Sp,An menyuntikkan anestesi sebanyak lebih dari 12 kali ke tubuh bagian punggung Yuliantika. Akibatnya, hingga saat ini Yuliantika belum mampu menggerakkan tubuh bagian pinggang hingga ujung kaki.

Sebelumnya, Pada 15 Mei 2020, RSIA Buah Hati Ciputat mengirim surat undangan klarifikasi kepada suami Yuliantika, Irwan Supandi. Surat undangan ini terkait tuduhan pencemaran nama baik yang dilakukan Irwan terhadap rumah sakit dan perusakan fasilitas rumah sakit. Surat undangan tersebut dikirim dengan tembusan surat ke Polsek Ciputat.

Lokataru menilai ancaman laporan pidana pencemaran nama baik dan perusakan fasilitas rumah sakit terhadap Irwan merupakan upaya kriminalisasi untuk meredam tuntutan Yuliantika dan Irwan. Lokataru juga menyebut tindakan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Buah Hati Ciputat terhadap Yuliantika merupakan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia perempuan yang dilindungi oleh Undang-Undang.

Kecacatan fisik akibat dari kesalahan medis merupakan suatu pukulan berat yang harus diterima Yuliantika. Atas kondisi itu, Yuliantika membutuhkan perhatian khusus untuk dapat menjalankan hidupnya seperti semula. Kebutuhan tersebut harus diberikan oleh pihak RSIA Buah Hati Ciputat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan medis yang telah terjadi.