Peternak ayam mandiri mengalami pukulan berat. Hampir lima bulan sudah mereka berusaha agar kandangnya tetap berkokok di tengah pandemi. Sejak Maret 2020, harga jual ayam ternak terus anjlok digerogoti corona. Untuk dapat bertahan, peternak ayam mandiri mengandalkan pinjaman dana dan menjual aset.

Tidak tahu pasti sampai kapan pandemi akan mengganggu operasional peternak ayam mandiri. Namun pemerintah harus segera membuat regulasi perlindungan untuk usaha industri perunggasan mandiri, kepunahan peternak ayam mandiri bukan tidak mungkin. Keadilan dan perlindungan bagi usaha industri perunggasan mandiri dinilai amat perlu diberikan.

Seorang peternak ayam mandiri di Bogor, Alvino, tidak menampik kondisi sulit yang saat ini sedang dialaminya. Banyak peternak ayam mandiri yang terancam dan bahkan tidak bisa lagi bertahan.

“Jumlah peternak [ayam] mandiri berkurang karena tidak punya modal untuk ternak lagi. Ada juga peternak yang harus menanggung hutang yang tidak sedikit ke pabrik atau ke bank. Peternak yang masih punya modal jumlah populasi ternaknya berkurang,” kata Alvino melalui pesan singkat kepada Hakasasi.id.

Alviano menyebut para peternak ayam mandiri tidak akan bisa bertahan. Menurutnya, peternak ayam mandiri yang hingga kini bertahan itu karena masih mendapat pinjaman dana.

“Peternak [ayam] mandiri tidak bisa bertahan, seandainya bisa bertahan karena mendapat hutang [pinjaman] baru atau jual aset itupun kalau laku dijual,” ujarnya

Alviano pun mengatakan peternak ayam mandiri hanya akan mampu bertahan sampai tidak ada lagi yang memberikan pinjaman dana. “Sampai tidak ada lagi yang kasih hutang [pinjaman] baru dan aset untuk di jual,” kata Alviano.

(Antara Foto/Adeng Bustomi)

Penurunan harga jual ayam yang signifikan ini disebabkan oleh penumpukan ayam ternak di kandang sementara permintaan pasar menurun drastis, sehingga terjadi kelebihan produksi (oversupply).

Harga jual ayam ternak sempat mencapai titik terendah. Di Banten pada April 2020, misalnya, harga jual ayam di kandang sempat menyentuh angka Rp. 6 ribu/Kg. Sedangkan di Jawa Tengah, harga jual ayam di kandang merosot hingga Rp 5 ribu/Kg. Padahal biaya produksinya meroket hingga Rp 19 ribu/Kg.

Di Bali, seorang peternak ayam mandiri, Ketut Yahya, mengaku pada kondisi normal ia bisa menjual 3000 hingga 4000 ekor ayam per hari. Namun pada kondisi pandemi, ia hanya mampu menjual ayam ternaknya sekitar 500 hingga 1000 ekor per hari. Kerugian sejak awal Maret 2020 ditaksir mencapai Rp. 800 juta per bulan. 

“Kerugian terlalu besar, usaha kami bisa tutup kalau terus seperti ini,” kata Ketut.

Senada dengan Ketut, Peternak Ayam Mandiri di Pandeglang, Heri Irawan dan Setya Winarno, menyebut peternak ayamnya merugi Rp. 800 juta per bulan. “Saat ini banyak peternak ayam di Banten sudah mulai tidak kuat, karena banyak yang mengalami kerugian,” ujarnya.

Para peternak ayam mandiri se-Jawa Timur mengklaim total kerugian mereka selama Februari hingga Maret 2020, bisa mencapai Rp. 450-500 Miliar. Di Makassar, Yusuf Made, mengaku menderita kerugian hingga Rp. 60 juta per hari.

Menurut Lokataru Kantor Hukum & HAM dalam Laporan Kondisi Peternak Ayam Akibat Wabah Virus Corona, kerugian para peternak ayam tersebut dapat dihindari apabila pemerintah melakukan intervensi berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Permendag 7/2020. Aturan ini meleluasakan Menteri dapat menugaskan badan usaha milik negara untuk melakukan pembelian sesuai dengan Harga Acuan. 

Awal penurunan harga jual ayam ternak sudah dirasa peternak ayam mandiri dari sebelum pandemi virus corona menghampiri Indonesia.  Pada Januari – September 2019, harga jual ternak ayam selalu di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah, yaitu minimal sebesar Rp. 19 ribu/kg.

Harga jual ayam ternak sempat membaik di bulan Oktober – November 2019. Memburuk kembali di bulan Desember 2019 dan semakin memprihatinkan setelah sektor perekonomian Indonesia goyah akibat virus corona. Di tengah pagebluk berkepanjangan, sampai kapan mereka sanggup bertahan?