Hari ini siapa yang tidak mengenal skincare? Sepertinya perawatan kulit sudah menjadi kebutuhan baru bagi anak muda masa kini. Tambah lagi, produk perawatan yang dulu hanya identik dikonsumsi oleh kaum perempuan kini sudah lazim dipakai juga oleh laki-laki, dapat dilihat dari peningkatan penjualan kosmetik pria sebanyak 20% dalam lima tahun terakhir.

Di tengah pandemi yang mengguncang perekonomian Indonesia, industri kosmetik masih melejit. Eye dan face makeup menjadi produk yang laris di pasaran. Terlebih lagi, beberapa tahun terakhir produk-produk kosmetik buatan tanah air memiliki kualitas yang dapat menyaingi brand-brand internasional yang besar.

Sayangnya, terdapat beragam masalah di balik industri kosmetik ini. Masih banyak perusahaan yang melakukan animal testing untuk menguji kelayakan produk mereka.

Berikut ini adalah beberapa merk kosmetik terkenal yang menghasilkan produk khusus pria, namun masih mengandalkan metode animal testing:

  • Nivea (meski telah menyatakan komitmen untuk tidak menggunakan metode animal testing, Nivea menjual produknya ke China yang mengharuskan pengujian hewan kepada produk-produk yang ingin dijual kesana.)
  • Axe (Unilever, sama seperti L’oreal, Unilever menjual produknya ke China yang mengharuskan pengujian hewan kepada produk-produk yang ingin dijual kesana.)
  • Garnier (L’oreal
  • Ponds (Unilever)

Animal testing sebenarnya memiliki alasan yang logis. Salah satunya agar barang-barang yang diberikan kepada konsumen dapat teruji dan telah melewati trial and error tanpa harus mengorbankan konsumen.

Namun metode yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam melakukan pengujian terhadap hewan terlampau tidak manusiawi. Seperti terlampir dalam laman Cruelty Free International, pada prakteknya pengujian kepada hewan seringkali berakhir dengan kondisi hewan yang tersiksa, bahkan kehilangan nyawa. Pada sebuah survei yang dikeluarkan oleh Kemendagri Inggris (The Home Office) berjudul Annual Statistics of Scientific Procedures on Living Animals Great Britain 2018, hampir 560.000 eksperimen hewan yang dilakukan di Inggris dianggap telah mengakibatkan cedera sedang dan berat kepada hewan objek eksperimen. 

Sudah ada banyak usaha dilakukan demi mencegah berlanjutnya praktik animal testing. Salah satunya dengan cara menggunakan sertifikasi produk kosmetik. Apalagi mengingat produk perawatan pria cruelty free juga tengah mengalami kenaikan popularitas. Pada survei yang dilakukan oleh YouGov, konsumen cenderung akan membatalkan pembeliannya jika mengetahui produk yang dipakai mengandung unsur kekerasan kepada hewan.

Terdapat dua sertifikasi yang menjamin sebuah produk bebas dari animal cruelty yakni Leaping Bunny dan sertifikasi People for Ethical Treatment of Animals (PETA).

1. Leaping Bunny

Kelebihan Leaping Bunny adalah mereka sendiri yang melakukan audit kepada perusahaan sehingga mereka dapat memastikan bahwa perusahaan benar-benar telah meninggalkan praktek animal testing.

2. Beauty Without Bunnies PETA

Sertifikasi yang dikeluarkan PETA sayangnya memiliki kelonggaran aturan. PETA akan memberikan sertifikasi dan izin pembubuhan logo kepada perusahaan dengan syarat yang cukup mudah, yakni menandatangani komitmen untuk tidak melakukan praktek animal testing, tanpa harus menandatangani kontrak yang terikat dengan hukum maupun setuju terhadap pengadaan audit dadakan.

Tidak sedikit perusahaan yang berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikat ‘bebas dari animal testing’. Namun, banyak juga perusahaan yang sebenarnya hanya menempel stempel cruelty free padahal tidak pernah diaudit oleh organisasi manapun, lantaran tidak sedikit juga negara yang belum mempertegas pelarangan animal testing dengan Undang-undang yang berlaku di negaranya. Karena praktek ini benar-benar terjadi dalam dunia bisnis kosmetik. Veganrabbit bahkan mengeluarkan daftar yang berisikan perusahaan-perusahaan dengan logo palsu, pernyataan yang misleading, dan perusahaan yang melakukan bisnis di Cina.

Indonesia sendiri, meskipun menjadi salah satu negara dengan pasar potensial produk kosmetik, belum memiliki hukum yang jelas mengenai pengujian produk terhadap hewan terutama produk kosmetik. Meskipun banyak merk-merk internasional yang memproduksi barangnya di Indonesia telah berkomitmen untuk tidak melakukan animal testing, tidak adanya hukum yang mengatur pelarangannya akan membiarkan potensi terjadinya praktek animal testing di perusahaan yang menjual produknya secara lokal maupun negara yang membolehkan praktek animal testing.

Isu kesejahteraan hewan memang masih jadi urusan kesekian di Indonesia. Isu yang mulai diperjuangkan sejak tahun 2000 ini antara lain sudah mulai diwakili oleh Pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Hewan, Undang-Undang No.18 tahun 2009 dan Undang-Undang No.41 tahun 2014. Namun, belum ada undang-undang yang mengatur spesifik pelarangan uji coba terhadap hewan dalam industri kosmetik.

Tentunya Indonesia masih perlu meningkatkan lagi perlindungannya terhadap hak-hak hewan. Apalagi jika Indonesia ingin merebut hati pabrik-pabrik Korsel yang terancam relokasi akibat resesi kemari.