Jika negara berinvestasi lebih pada upaya-upaya untuk mencapai Universal Health Coverage, alias akses layanan kesehatan untuk semua orang, negara akan memiliki pondasi yang lebih baik untuk menahan dampak dari pandemi COVID-19. Demikian kira-kira anjuran PBB. 

Dalam dokumen bertajuk COVID-19 dan Hak Asasi Manusia, PBB menilai pandemi yang menyerang hari ini menunjukkan betapa pentingnya pemenuhan Universal Health Coverage (UHC) oleh negara. Sistem kesehatan negara yang dibangun berdasarkan UHC dapat membantu keterjangkauan akses kesehatan bagi seluruh warga negara untuk menghambat penyebaran virus. Hal ini mencakup tes kesehatan, bantuan spesialis bagi kaum rentan, layanan kesehatan intensif serta vaksin – semuanya disediakan tanpa menghitung kemampuan membayar pasien. 

UN Development System (UNDS) menempatkan ketersediaan layanan kesehatan esensial dan proteksi terhadap sistem kesehatan pada urutan pertama dalam kerangka rekomendasi respon sosio-ekonomi. Paket rekomendasi yang berisi lima prioritas area kerja tersebut menegaskan pentingnya perlindungan terhadap sistem kesehatan dalam penanganan krisis pandemi. 

UNDS sendiri mempromosikan dua fase strategi kesehatan dalam penanganan pandemi. Pertama, berusaha mempertahankan layanan kesehatan esensial bahkan ketika negara mengalami lonjakan permintaan pelayanan besar-besaran. Kedua, pemulihan, persiapan dan penguatan sistem kesehatan negara berfokus pada perawatan kesehatan primer, Universal Health Care, serta antisipasi kemungkinan gelombang pandemi COVID-19 berikutnya. 

Memang, beberapa ahli kesehatan menganggap sistem UHC tidak menjadi jaminan kesiapan negara untuk menghadapi pandemi. Namun, meski tidak dapat secara akurat memprediksi akibat dari pandemi terhadap suatu negara, UHC berperan dalam menunjukkan kesenjangan kemampuan sistem kesehatan dan meningkatkan upaya negara untuk mengisi celah tersebut. 

Negara yang secara relatif memiliki sistem UHC yang baik seperti Italia dan Inggris tetap memiliki angka kematian yang tinggi pada pandemi COVID-19. Di sisi lain, Korea Selatan dan Singapura menjadi negara acuan dalam penanganan dan respon terhadap pandemi. 

Dari sini tersisa satu pertanyaan penting. Jika negara yang konsisten membangun sistem kesehatan berbasis UHC saja tetap tidak terjamin lolos dari dampak pandemi, bagaimana nasib negara yang tidak mengupayakan pemenuhan dan peningkatan kualitas layanan kesehatan?