Sebuah video berdurasi 1 menit 37 detik dengan judul “The best value destination to visit in 2020” dirilis oleh Lonely Planet dalam situsnya beberapa waktu lalu. Isinya adalah rangkuman destinasi terbaik untuk 2020 yang disurvei oleh Lonely Planet. 

Dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mewakili Indonesia masuk dalam daftar destinasi terbaik yang direkomendasikan oleh Lonely Planet dengan kategori Top 10 Value.

Dalam video itu muncul beberapa destinasi wisata yang letaknya tersebar di kawasan NTT yang umumnya memiliki iklim tropis dan dikelilingi pantai murni. Kepulauan Alor menawarkan lokasi menyelam terbaik di dunia yang kaya akan keanekaragaman hayati lautnya. Selain itu ada Pulau Sumba, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo yang memiliki kekhasan masing-masing wilayahnya baik dari segi ekologis dan keanekaragaman hayati.

Wilayah Indonesia ini tidak bisa diabaikan, NTT menghadiahkan para pelancong yang ingin mengunjunginya

Sulit membantah tuduhan Lonely Planet, saat saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri: bukit Wairinding menghampar luas bak halaman sekolah Hogwarts dan danau Weekuri sejuk membiru sebagai arena tempat para kerbau dan kuda – kuda Sandelwood bermain riang.

Bukit Wairinding, Sabana dan danau Weekuri (Dok: Pribadi)

Mungkin ada sedikit yang terlewat dari review Lonely Planet, tentang ritus adat Marapu: sebuah kepercayaan yang dianut sebagian warga di pesisir pantai Wanga – sekitar satu jam perjalanan darat dari Bandara Waingapu dengan motor. 

Marapu merupakan agama asli atau kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Sumba, terutama bagi masyarakat adat yang menetap di pesisir pantai Wanga – desa Umalulu yang diyakini sebagai asal usul Marapu

Ritual Adat Hamayang di Situs Marapu (Dok: Pribadi)

Marapu sendiri bermakna “dipertuan” atau “dimuliakan”. Marapu adalah inti dari nilai-nilai kehidupan masyarakat adat Sumba yang terus dipertahankan dan dijalankan hingga saat ini melalui berbagai ritual adat seperti hamayang (sembahyang) di situs-situs adat katuada dan pahuamba

Namun dibalik eksotisme panorama alam yang disuguhkan NTT: salah satunya Pulau Sumba (bagian selatan NTT) punya sebuah kisah pilu. Kisah yang menghampar selama perjalanan saya di Sumba Timur, tepatnya di desa Umalulu. 

Pulau Sumba sendiri sangat terkenal dengan kawasan savanna yang luas yang menjadi tempat bermain kuda-kuda Sandel (kuda khas Sumba) serta ternak peliharaan masyarakat lainnya. Kemudian kain tenun Sumba yang diproses menggunakan olahan pewarna alami dari dalam hutan juga menjadi salah satu produk khas pulau ini telah diekspor ke luar negeri.

Mama Sedang Menenun Kain Sumba (Dok: Pribadi)

Tapi sayang kawasan savanna di Sumba yang bermaksud menyuguhkan sensasi ‘tranquility’ dari hiruk pikuk perkotaan; mulai terancam akibat investasi perkebunan tebu berskala besar. 

Desa Adat diteror Kebun Gula: Desa Umalulu

Adalah PT. Muria Sumba Manis/MSM yang membuka perkebunan tebu beserta pabrik gula seluas 52,000 hektar yang lokasinya menyebar hingga 6 kecamatan di Sumba Timur. Dibawah bendera PT. Hartono Plantation Indonesia Agro (HPI – Agro) PT. MSM telah mengantongi izin dari Bupati Sumba Timur; untuk membangun pabrik rafinasi gula terbesar di Indonesia sejak tahun 2015.

Plang Kebun PT. MSM di Sumba Timur

Kegiatan pembukaan lahan, akses jalan bagi kendaraan perusahaan serta sarana pendukung untuk tahap operasional memberi dampak kerusakan lingkungan dengan menyasar wilayah hutan, daerah aliran sungai (DAS), kawasan savanna dan karst yang menjadi ciri khas Pulau Sumba. 

Praktik perampasan tanah ulayat pun terselubung selama proses pelepasan lahan dari ‘oknum’ masyarakat adat yang mengaku memiliki hak petuanan atau hak ulayat kepada perusahaan. Dampaknya sering terjadi konflik di lokasi kerja perusahaan antara masyarakat adat dengan pihak karyawan yang sedang mengerjakan tahap konstruksi maupun operasional.

Masyarakat adat tidak pernah dilibatkan secara penuh dan diinformasikan secara lengkap terkait pembahasan rencana investasi PT MSM mulai dari kegiatan teknis, pembebasan lahan, dan dampak lingkungan. Akhirnya sejumlah masyarakat adat merasa hak-haknya telah dilanggar.

Persoalan yang dihadapi oleh masyarakat adat di Sumba Timur tidak hanya sekedar hilangnya fungsi kawasan hutan dan savanna yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari, tetapi hak menjalankan ritual dan tradisi kepercayaan (leluhur) pun terganggu. 

Pasalnya, kegiatan pembukaan lahan tebu dan pabrik gula mengokupasi sejumlah wilayah adat yang disakralkan sebagai lokasi ritual Marapu. Fisik tempat ritual Marapu tersebut juga rusak karena tertimbun material pembuatan embung milik perusahaan yang dibangun di sekitar lokasi ritual.

Operasi PT. MSM dan Dampaknya

Tak hanya mengancam keindahan bentangan alam serta menghalangi para penganut Marapu untuk menjalankan ritual magis, yang jadi fitur utama Sumba Timur; investasi gula yang masuk secara serampangan ini juga turut mengancam keseimbangan lingkungan, mengkriminalisasi warga penganut Marapu, hingga pelanggaran terhadap hak – hak pekerja yang bahkan hidup dari investasi gula tersebut. (Siaran Pers Lokataru)

Masyarakat adat sebetulnya sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, termasuk masyarakat adat Sumba Timur yang masih menganut kepercayaan Marapu.

Namun kenyataannya, hak-hak mereka kerap terpinggirkan oleh program dan kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan modernisasi tanpa mempertimbangkan kepentingan umum serta keberlanjutan ekologis sebagai unsur penopangnya.

Padahal masyarakat adat memiliki sistem atau pranata adatnya sendiri yang lahir dari nilai-nilai adat, agama (kepercayaan), budaya, dan ekonomi untuk mengatur hubungan antar anggota masyarakat adat maupun dengan kelompok masyarakat adat lainnya, termasuk menjaga keseimbangan ekologis agar tetap terjaga sampai ke generasi selanjutnya.

Ketakutannya, mungkin Lonely Planet tak lama mempertahankan NTT (termasuk Sumba di dalamnya) sebagai salah satu destinasi dengan biaya terjangkau: mengingat ancaman kerusakan sabana dan daya tarik kekayaan budaya di Sumba mulai semakin nyata.