oleh Aris Santoso (Pengamat Militer)

Sudah umum terjadi kalau segala yang berkaitan dengan tokoh  terkenal akan menjadi tujuan  wisata.

Pada masyarakat kita lumrah kebiasaan seperti itu. Paling sering kita dengar adalah wisata ziarah ke makam Wali Songo, sembilan wali penyebar Islam (khususnya) di Jawa. Lokasi lain yang bisa disebut adalah makam Soekarno di Blitar yang hampir sama keadaannya, setiap hari selalu dibanjiri pengunjung dari penjuru negeri. Terlebih di bulan Juni – dikenal sebagai bulan Bung Karno (BK) – karena kebetulan BK lahir dan wafat di bulan Juni. 

Bagi figur nasional seperti Soeharto, tentu wajar bila ada wisatawan yang juga ingin menyusuri jejak kehidupannya. Bukan hanya sebatas mengunjungi pusaranya yang terletak di Karanganyar, namun juga artefak atau situs lain seperti markas atau kantor dimana Soeharto pernah ditugaskan. Terlebih tempat Soeharto bertugas dahulu memang berada di kota-kota pusat wisata seperti Solo, Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta, sehingga dari segi transportasi mudah diakses.

Usai Perang Kemerdekaan (1945-1949), pada awal tahun 1950-an Soeharto ditempatkan sebagai Komandan pada satuan setingkat brigade atau resimen yang disebut Brigade Pragola (Resimen 14), di Salatiga. Dari Salatiga, Soeharto selanjutnya dipindahkan ke Solo sebagai Komandan Resimen 15. Gedung atau Markas tempat Soeharto bertugas dahulu di Salatiga sampai sekarang masih ada, kini menjadi Markas Korem 073/Makutarama.

Rumah dinas yang ditempati Soeharto saat bermukim di Salatiga kini menjadi rumah dinas Komandan Korem setempat. Rumah bergaya art deco tersebut merupakan salah satu rumah terindah di Salatiga, bahkan hingga hari ini. Sementara kantor Soeharto di Solo sudah dialih fungsi untuk keperluan lembaga lain, karena kantor atau markas Resimen 15 yang dahulu berada di sekitaran Jebres pada tahun 1990-an telah pindah ke daerah Palur, Kabupaten Sukoharjo. Resimen 15 sendiri sekarang dikenal sebagai Brigade Infanteri 6 Divisi Infanteri 2 Kostrad.

Setelah dari Solo, Soeharto dipindah ke Semarang karena mendapat promosi sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro, satuan setara Kodam sekarang. Saat bertugas sebagai Kepala Staf dan kemudian Panglima TT IV/Diponegoro, Soeharto berkantor di Simpang Lima, kawasan yang dikenal sebagai landmark Kota Semarang. Barulah pada 1980-an Markas Kodam IV/Diponegoro dipindahkan agak ke luar kota, yakni di Watugong, Banyumanik.

Simpang Lima SemarangMuseum Mandala Bhakti (dulu markas besar Wilayah II Kodam IV Diponegoro

Sumber foto : kompas.com & tribunnews.com

Sebagaimana tempat wisata lain, yang justru lebih menarik adalah cerita kemanusiaan (human interest) di balik gedung atau bangunan tersebut. Terutama dalam riwayat Soeharto, bagaimana situs itu menjadi “saksi” pasang surut hubungan sang penguasa Orde Baru dengan koleganya sesama perwira rumpun Diponegoro, yakni Pranoto Reksosamodro (terakhir berpangkat mayjen).        

Soeharto Seteru Pranoto - historia.id

Sumber foto : Soeharto Seteru Pranoto – historia.id

Sejak menjadi komandan di Salatiga sampai menjadi Panglima Kodam di Semarang, perwira yang menggantikan Soeharto selalu orang yang sama – Pranoto. Selama periode tersebut, Pranoto seolah merupakan alter ego bagi Soeharto. Namun saat di Semarang, hubungan keduanya mulai renggang. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena saat menjadi Panglima di Semarang, Soeharto mulai coba-coba terjun di dunia bisnis tanpa sepengetahuan Pranoto. Atau mungkin Soeharto sengaja tidak melibatkan Pranoto, meskipun Pranoto adalah orang kedua di Markas Kodam, selaku Kepala Staf. Terlebih saat menjabat Kepala Staf, Pranoto sedang belajar di Seskoad Bandung, jadi tidak bisa aktif setiap hari di Markas TT IV (Kodam IV).

Dari teks sejarah kita mengetahui bahwa Pranoto kemudian tersingkir saat Soeharto mulai berkuasa pasca 1965. Dirinya bahkan sempat meringkuk di dalam RTM (Rumah Tahanan Militer) Budi Utomo, Jakarta Pusat. Jabatan terakhir Pranoto di Angkatan Darat adalah sebagai Asisten III/Personel KSAD. Markas mereka di Salatiga, Solo dan Semarang, merupakan saksi bisu pertemuan keduanya yang mungkin awalnya berteman dekat, namun bersimpang jalan di kemudian hari di tengah hiruk-pikuk perebutan kekuasaan.

(Bersambung)