Dokumenter rock berjudul White Riot dijadwalkan tayang pada 16 Oktober 2020 melalui bioskop virtual. Film besutan Rubika Shah ini mengemas kembali nostalgia Rock Against Racism (RAR) yang menggelora di Britania Raya pada pertengahan tahun 1970-an; sekaligus kilas balik skena punk rock yang berkembang di sana. 

White Riot tayang perdana tahun lalu dan dinobatkan sebagai film dokumenter terbaik di London Film Festival 2019. Trailer untuk White Riot baru-baru ini resmi dirilis oleh Film Movement. Terdapat beberapa cuplikan gigs punk, tindakan represif oleh aparat polisi, seruan rasis, dan karnaval anti-rasis yang hadir sebagai respon atas kondisi tersebut.    

Rock Against Racism adalah orang-orang kulit putih yang akhirnya menyadari fakta bahwa ada rasisme di sini [Inggris]”, ujar Pauline Black dari band The Selecter dalam trailer berdurasi 2 menit 47 detik itu. 

Sebagai sebuah gerakan yang dibentuk pada tahun 1976 oleh Red Saunders, Roger Huddle, Kate Webb dan para kerabat dekat, Rock Against Racism dipicu kuat oleh pernyataan Eric Clapton di sebuah konser di Birmingham. 

Gitaris legendaris dari band Cream tersebut saat itu mendukung Enoch Powell, politisi sayap kanan yang terkenal oleh pidato berjudul Rivers of Blood, yang isinya mendukung penuh sentimen rasial kepada warga kulit hitam (imigran) yang dituding telah merampas hak penduduk asli Inggris di tengah berkembangnya kelompok white supremacist seperti National Front (NF).

Gaung Rock Against Racism menyebar masif. Saunders dan Huddle berbalas ratusan surat yang menginginkan gerakan serupa di daerah-daerah lain di Britania Raya. Puncaknya, tahun 1978, Rock Against Racism berhasil menarik 100.000 orang untuk karnaval anti-rasis, mulai dari Trafalgar Square dan dipuncaki dengan konser akbar di Victoria Park, Hackney. 

Beberapa band seperti The Clash, Poly Styrene, Tom Robinson Band, Steel Pulse, dan X-Ray Spex ikut manggung di konser itu. White Riot juga menampilkan cuplikan-cuplikan aksi mereka, tentu tak lepas dari wawancara dengan para penggagas Rock Against Racism. Keberhasilan Rock Against Racism tidak lepas dari andil fanzine Temporary Hoarding milik RAR yang ikut memproduksi pamflet berisi ajakan melawan rasisme di Inggris.    

Selain memorabilia Rock Against Racism semata dan wadah reunian para dedengkot punk, White Riot juga dapat menjadi sinyal untuk menyuarakan kembali perlawanan terhadap rasisme yang masih membara di berbagai belahan dunia: mulai dari kasus kematian George Floyd  yang sempat memicu aksi besar-besaran di berbagai negara bagian Amerika Serikat, hingga insiden rasis aparat di Surabaya tahun lalu, beserta tak terhitung lagi perlakuan rasis lainnya yang belum muncul ke permukaan (publik) hingga hari ini di Bumi Cendrawasih.