oleh Aris Santoso (Pengamat Militer)

Seputar tahun 2016-2017, saya berkesempatan melaksanakan kerja lapangan di Blitar (Jatim)  dan Merauke (Papua). Di luar urusan pekerjaan,  saya sempatkan untuk menyambangi dua situs bersejarah, masing-masing adalah Monumen Trisula (Blitar) dan  Monumen Benny (Moerdani di Merauke).  Dalam pandangan saya, selaku wisatawan “pahe” (paket hemat), dua monumen itu bisa merefleksikan bagaimana politik Indonesia hari ini.

Sebagaimana umumnya sebuah monumen, yang  didirikan untuk menandai sebuah era, demikian juga dengan Monumen Trisula, yang bisa dibaca sebagai tanda dimulainya era Orde Baru. Sebagai salah satu ikon Orde Baru, bisa jadi monumen itu sudah menjadi silam. 

Monumen ini diambil dari nama sebuah operasi militer, yakni Operasi Trisula, sebagai cara membersihan sisa-sisa gerakan PKI di Blitar Selatan.

Sumber Foto : Reza Nurrohman – Kompasiana.com

Kini monumen itu sudah terlihat kusam, dan sudah jarang pula dikunjungi orang. Beberapa pelajar sekolah menengah di Kota Blitar yang saya temui, umumnya sudah tidak tahu-menahu soal keberadaan monumen itu. Lokasi monumen memang agak jauh di luar kota, sekitar 25 km dari pusat kota, jadi masuk wilayah Kabupaten Blitar.

Kusamnya kondisi monumen, serta tidak tahu-menahunya sejumlah pelajar di Kota Blitar, bisa jadi merupakan sinyal bahwa Orde Baru sejatinya sudah menjadi masa silam. Bila masih ada sebagian masyarakat,  yang tiba-tiba mengangkat wacana soal kerinduan terhadap figur Soeharto, ibarat mimpi di siang bolong, yang sulit untuk dinalar.

Muramnya Monumen Trisula bisa dibaca sebagai tanda bahwa sebenarnya elemen pendukung Orde Baru (baca: Soeharto) sudah mulai melemah. Dengan kata lain, tidak cukup ruang bagi  kembalinya bayang-bayang Soeharto. Secara kebetulan di Kota Blitar juga ada “monumen” lain, yang senantiasa masuk dalam memori bangsa, yaitu pusara Bung Karno. 

Meski berada di kota yang sama, namun makam Bung Karno bisa dianggap antitesis dari Monumen Trisula. Di masa Orde Baru, warga sedikit was-was dan sembunyi-sembunyi bila akan berkunjung ke makam Bung Karno. Kini zaman telah berganti, bahkan Presiden Jokowi (sebagai kader PDI-P) sudah beberapa kali ziarah ke makam tersebut.

Soal Monumen Benny Moerdani (Monumen Benny) di Merauke, saya merasa beruntung bila akhirnya sampai juga kesana, sebab bila menggunakan dana pribadi tentu lumayan besar, dan mungkin saya tak akan sampai ke sana.

Sumber foto : ujungmimpi.com

Pada kota di ujung timur negeri,  sosok Benny digambarkan dalam posisi selepas melakukan penerjunan, dengan parasut belum lagi terlipat rapih. Monumen tersebut berdiri sejak 1989 (saat Benny masih menjadi Menhankam), sebagai peringatan atas operasi penerjunan  di belantara Merauke (Operasi Naga, 1962), di bawah pimpinan (pangkat saat itu) Kapten Inf Benny Moerdani. 

Begitu bersejarahnya operasi tersebut, di Merauke terdapat seruas jalan yang bernama Para Komando. Itu karena pasukan yang dipimpin oleh Kapten Benny berasal dari kesatuan RPKAD (kini Kopassus). Saya kira, baru di Merauke inilah ada jalan dengan mengabadikan nama Korps Baret Merah. Di kota-kota lain di Jawa umumnya mengambil nama kesatuan tentara pelajar, seperti TGP (Tentara Genie Pelajar)  atau TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) di Jatim, Jalan TP (Tentara Pelajar) di Jateng, dan Jalan Pasukan Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati) di kawasan Banyumas.

Monumen Benny mendapat tempat khusus bagi warga Merauke, karena kebetulan Benny menganut agama Katolik, agama yang juga dianut sebagian besar warga Merauke. Dalam hal keberagaman, terjadi titik temu antara Korps Baret Merah,  dengan Merauke, atau Papua pada umumnya. Kita bisa menjadi paham sekarang, mengapa Kopassus seolah memiliki hubungan yang unik dengan tanah Papua, dengan segala romantikanya dan pasang surutnya.

Monumen Benny bisa berdiri dengan tenang di Merauke, kota yang sangat inklusif dan manusiawi. Kita tidak tahu bagaimana nasib monumen itu bila berada di kota lain, termasuk di tengah belantara beton Jakarta, misalnya. Mungkin karena warganya terlalu sibuk, sehingga kurang peduli seandainya Monumen Benny berdiri di Jakarta

Monumen Benny bisa menjelaskan, bagaimana posisi Benny dalam peta politik hari ini, namanya  masih terasa gaungnya. Seperti bunyi ungkapan lama, manusia mati meninggalkan nama, begitu kira-kira yang terjadi pada Benny. Meski telah berpulang lebih dari sepuluh tahun lalu, namanya masih sering dihubung-hubungkan dengan sejumlah purnawirawan TNI yang masuk inner circle Presiden Jokowi. 

Sebutlah nama-nama Jend (Hor) Luhut Binsar Panjaitan (Akmil 1970), Jend (Hor) Agum Gumelar (Akmil 1968) dan Letjen (Purn) Hendro Priyono (Akmil 1967). Tiga nama ini hanyalah sebagian dari “anak didik” Benny Moerdani yang masih mewarnai panggung politik Indonesia mutakhir.

Leonardus Benyamin Moerdani

Kekuatan Benny terletak pada karisma. Konsep karisma memang abstrak,  mirip-mirip konsep “wahyu” dalam tradisi kekuasaan Jawa (Mataram), di mana karisma atau wahyu akan jatuh pada orang-orang terpilih. Kasus Benny bisa dijelaskan dengan lebih rasional, yakni berdasarkan rekam jejaknya dalam operasi tempur dan intelijen. Terkait operasi intelijen, figur Benny sudah seperti mitos tersendiri di lingkaran komunitas intelijen. 

Pada penggal terakhir Orde Baru, Soeharto sempat dalam posisi berhadap-hadapan dengan Benny. Dihubungkan dengan perkembangan politik aktual, keduanya seolah beda “nasib”. Bila Benny seolah masih saja “hidup” melalui anak-didiknya. Sementara jejak Soeharto semakin pudar, bila ukurannya adalah capaian partai (Mas) Tommy, yakni Partai Berkarya, yang ambyar dalam Pemilu tahun lalu.