Selalu ada cerita klasik pasca berakhirnya tiap perhelatan ajang kompetisi cabang olahraga di tingkat nasional maupun internasional, nasib infrastruktur yang terbengkalai. Contohnya, kompleks wisma atlet Olimpiade Musim Panas 1936 di Elstal, Berlin yang hanya jadi saksi bisu perang dunia ke-II setelah disulap jadi barak oleh tentara Jerman usai olimpiade berakhir, bekas bangunan Olimpiade Musim Dingin 1984 di Yugoslavia (kini Bosnia) yang hancur akibat perang sipil Bosnia karena sebagian sarana olahraga dipakai untuk benteng pertahanan gerilyawan Serbia, lalu stadion sepak bola di Brasil senilai $300 juta untuk World Cup 2014 yang tak berfungsi lagi.

Penyebab terbengkalainya infrastruktur olahraga di atas antara lain karena ketidakjelasan status pengelolaan, lambatnya koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak pengembang, manajemen keuangan yang buruk untuk biaya perawatan, perencanaan yang tidak matang sejak awal pembangunan, hingga pengaruh cuaca atau iklim yang buruk. Padahal, infrastruktur bukan hanya dibangun untuk mendukung jalannya kompetisi, melainkan memberikan efek jangka panjang terkait pemanfaatan bagi kegiatan lain.

Demikian pula nasib sarana dan prasarana olahraga serta infrastruktur pendukung Asian Games 2018 yang menguras biaya pembangunan sebesar 13,6 triliun rupiah berdasarkan data Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan. Namun, angka tersebut masih banyak yang rancu, tim riset Hakasasi.id menemukan banyak versi proyeksi anggaran yang habis untuk pelaksanaan Asian Games mulai dari persiapan hingga selesai, termasuk keuntungan yang diterima oleh Pemerintah selepas acara. Bahkan isu honor panitia pelaksana Asian Games senilai 12 miliar rupiah yang belum dibayar oleh pemerintah hingga saat ini mencuat kembali.

Penyelenggaraan Asian Games 2018 yang penuh dengan kemegahan itu tampaknya meleset dari target. Masalahnya, perawatan sarana dan prasarana olahraga serta infrastruktur penunjangnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, misalnya PT. Jakpro yang mengaku habis 1,2 miliar rupiah per bulan untuk menjaga kondisi venue balap sepeda Velodrome Rawamangun tetap baik, apalagi Jakabaring Sport City (JSC) sempat dilanda musibah pasca Asian Games hingga harus menelan biaya 20 miliar rupiah untuk perbaikan. 

Kini nasib sejumlah infrastruktur Asian Games – terlebih kala pandemi – makin jarang terdengar kabarnya, serupa euforia warga yang lekas redup usai acara, kalaupun ada pemanfaatannya tidak berjalan optimal, bahkan fungsinya sudah jauh melenceng dari peruntukan awal.

Untuk mengetahui seperti apa nasib warisan infrastruktur Asian Games 2018, berikut kami berikan ulasan singkatnya.

  • Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta

Wisma Atlet Kemayoran kini beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19. Sebelumnya, kompleks dengan sepuluh tower yang terdiri dari 7.246 unit itu tak berpenghuni bak kota hantu lantaran tidak jelasnya rencana peruntukan oleh Pemerintah yang sempat akan memfungsikannya sebagai rumah susun sewa (rusunawa) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) kelar Asian Games, lalu berubah lagi untuk rumah dinas bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI dan Polri aktif. 

(Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra)

  • Wisma Atlet Jakabaring, Palembang

Serupa dengan Wisma Atlet Kemayoran, Pemprov Sumsel juga telah menyulap satu tower di Wisma Atlet Jakabaring sebagai Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19. Namun, belakangan pengoperasiannya sebagai rumah sakit darurat dihentikan karena jumlah pasien ODP dan PDP yang diisolasi di tempat tersebut telah menurun.  

(Foto: Kementerian PUPR)

  • Velodrome Rawamangun, Jakarta

Ketidakjelasan status pengelolaan Velodrome Rawamangun sempat membuat venue balap sepeda itu belum bisa dimanfaatkan secara optimal oleh warga dan atlet sepeda. PT Jakpro selaku pengembang mengaku rugi Rp 1,2 Miliar setiap bulannya untuk biaya perawatan, padahal Jakpro hanya ditugasi oleh Pemprov DKI untuk membangun Velodrome, bukan untuk mengelola.

Jakpro sendiri enggan untuk serah terima aset jika keadaannya rusak. Saat itu PT Jakpro sudah menyurati Pemprov DKI melalui Dispora terkait kejelasan pihak yang akan mengelola venue tersebut. Terakhir Velodrome sudah bisa digunakan oleh warga, bahkan sempat terjadi penumpukan antrian di pintu masuk karena peniadaan HBKB di Jalan Pemuda saat pandemi Covid-19 tengah berlangsung. 

(Foto: Bamko Karsa Mandiri)

  • Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang

Stadion Jakabaring sedang mengalami perbaikan dengan menggunakan dana APBD Pemprov Sumatera Selatan. Perbaikan ini bertujuan untuk mempersiapkan perhelatan Piala Dunia U-20 pada Mei – Juni 2021. Perbaikan dilakukan terhadap kerusakan – kerusakan minor di area stadion karena jarang dipakai, terutama sepinya laga di tengah situasi pandemi.

(Foto: indosport.com)

  • Arena roller sport JSC, Palembang

Arena roller sport di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang sempat terendam air bak kolam lele pada Februari lalu. Hal ini disebabkan oleh pompa air yang bermasalah,  di samping pihak pengelola sedang fokus pada event Palembang Triathlon 2020 sehingga tidak begitu memperhatikan kondisi arena yang digunakan untuk pertandingan papan selancar (skateboard) pada Asian Games lalu.

(Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

  • Kolam akuatik JSC, Palembang

Pada Juli 2019, sejumlah atlet persiapan PON Papua 2020 terpaksa berlatih di kolam-kolam akuatik yang berlumut di kompleks JSC. Hal tersebut diakibatkan oleh pemadaman listrik PLN lantaran PT JSC selaku pengelola menunggak tagihan listrik senilai 3 miliar rupiah sejak Januari 2019. 6 bulan tanpa aliran listrik untuk sistem sirkulasi dan saringan di kolam menyebabkan kolam tersebut dipenuhi lumut. Mending sekalian saja, lah, jadi tempat budidaya.

(Foto: fornews.co)

  • LRT Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang – JSC, Palembang

Pemadaman listrik juga ikut berdampak terhadap lampu penerangan di bawah jalur Light Rail Transit (LRT) rute Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II – JSC karena tunggakan Rp 189 juta selama enam bulan sejak Januari 2019 yang belum dibayarkan, akibatnya para pengguna jalan harus lebih ekstra hati-hati terutama saat melintas di malam hari. Transportasi pendukung selama perhelatan Asian Games tersebut telah mengangkut 4,8 Juta penumpang sejak 2 tahun beroperasi.

(Foto: ur-ban.id)

  • LRT Rawamangun – Gading, Jakarta

LRT Velodrome Rawamangun – Gading hingga kini masih sepi peminat. Boleh jadi pembangunan moda transportasi sepanjang 5,8 km itu tidak berhasil secara kemanfaatan karena berada di lokasi yang salah, sebab jalur yang dilalui bukan area padat pekerja atau strategis. 

Lagipula setahun berjalan, LRT tersebut masih belum memiliki izin operasional sehingga tidak sesuai peruntukkan awal: mengangkut para atlet dan warga saat Asian Games digelar. Proyek yang memakan biaya 7 triliun rupiah ini juga sudah disubsidi oleh Pemprov DKI setiap tahunnya untuk memudahkan masyarakat menjangkau harga tiket yang murah, meski pengoperasian LRT untuk komersil sempat molor dua kali pasca uji coba 2 bulan lantaran masalah administrasi Pemprov DKI, hingga akhirnya baru dibuka untuk umum awal Desember 2019. 

(Foto: atsunday.com)

Pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur pendukung merupakan salah satu unsur kesuksesan pembinaan olahraga, terlebih lagi dalam unjuk gigi kemampuan Negara menyelenggarakan multi-event olahraga pada ajang internasional. Tapi apa tidak malu usai penyelenggaraan acara, sebagian bangunan – bangunan baru nan mulus itu malah berubah jadi onggokan yang tak jelas kegunaannya buat publik?

Apalagi, Indonesia sudah mulai bidding untuk penyelenggaraan Olimpiade 2032 dan beberapa event olahraga bertaraf internasional lainnya sudah antri dalam waktu dekat. Jangan sampai prestasi para atlet nasional kita justru tercoreng hanya karena Pemerintah tidak becus melestarikan warisan infrastruktur perhelatan olahraga dalam negeri.

Kalau memang tidak sanggup, baiknya bangunan sarana dan prasarana warisan Asian Games itu disulap saja untuk penanganan Covid-19. Untuk laboratorium, rumah sakit tambahan, hunian tenaga medis, dan lain sebagainya, daripada hanya jadi pajangan kota tanpa fungsi berarti.