oleh Aris Santoso (Pengamat Militer)

Bagi yang pernah tinggal di Rawamangun (Jakarta Timur) pada periode 1980-an dan awal 1990-an, atau setidaknya pernah melintasi kawasan tersebut, ada pemandangan yang khas setiap hari Kamis atau Jumat sore, yakni dua unit panser yang sibuk berjaga-jaga di sekitaran lapangan golf Rawamangun, tak jauh dari kampus UNJ (dulu bernama IKIP Jakarta). Keberadaan panser itu merupakan penanda bahwa Presiden Soeharto sedang bermain golf, di lapangan golf tertua di Jakarta (mungkin Indonesia).

Sumber foto : soeharto.co & agolf.xyz

Seperti pesohor pada umumnya, seorang elite politik di negeri kita, terlebih lagi seorang presiden, lazim menjadi trendsetter bagi sebuah gaya hidup tertentu. Dalam hal ini, golf adalah salah satunya. Jika kita bandingkan dengan presiden sebelumnya, kita tidak pernah melihat Soekarno bermain golf. Patut dicurigai jangan-jangan Soekarno sendiri belum pernah menyambangi lapangan golf Rawamangun selama 20 tahun berkuasa dulu (1945-1966). Salah satu kegemaran Soekarno yang masih diingat publik adalah menari lenso, sebuah tari pergaulan yang bisa ditarikan secara massal, kira-kira seperti poco-poco di masa kini.

Begitulah kebiasaan orang kita yang suka “carmuk” pada atasan, sehingga apa yang menjadi kebiasaan atau kegemaran atasan ujung-ujungnya akan diikuti pula oleh bawahan atau pegawainya. Karena Soeharto senang golf, banyak pejabat saat itu, baik sipil atau militer, berlomba-lomba belajar golf. Selain untuk meningkatkan status sosialnya, juga sebagai bentuk antisipasi apabila suatu saat diundang bermain golf bareng Soeharto. Tren golf ini kemudian menjalar pula pada level berikutnya, bahkan sampai pejabat di daerah (di luar Jakarta). Walhasil, jadilah golf sebagai gaya hidup kelas elite di negeri ini.

Saat mulai berkuasa, Soeharto secara rutin bermain golf di Rawamangun, sembari sesekali mengajak pula menteri atau pejabat negara lainnya. Sembari bermain golf, Soeharto bersama pejabat yang diajak itu acap membahas isu-isu penting terkait urusan negara dan pemerintahan. Bisa jadi banyak keputusan penting di masa lalu diputuskan melalui obrolan informal Soeharto dan para anak buahnya di lapangan golf. 

Pertanyaan menarik berikutnya: kapan dan bagaimana Soeharto belajar golf?

Bob HasanJenderal Ahmad Yani

Sumber foto : medgo.id & indosport.com

Adalah pengusaha Bob Hasan yang memperkenalkan sekaligus menemani Soeharto belajar  golf, saat Soeharto masih menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) di awal 1960-an. Memang ada ikatan khusus antara Bob Hasan dan Soeharto, yang sudah terjalin sejak Soeharto masih jadi Panglima Kodam Diponegoro pada pertengahan 1950-an. Bob merupakan anak angkat mantan Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto. Sebagaimana kita belajar dari sejarah, Gatot Subroto adalah petinggi militer yang melindungi Soeharto agar tidak dipecat oleh KSAD Jenderal Nasution, lantaran Soeharto selaku Pangdam Diponegoro saat itu kedapatan melakukan bisnis gelap (penyelundupan) dengan Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan Bob Hasan.

Bila ditelusuri, sebelum Soeharto sebenarnya ada jenderal terkenal lain yang lebih dahulu tertarik pada golf, yakni Ahmad Yani yang baru saja kembali dari menempuh pendidikan (setingkat Seskoad) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Rupanya Yani sangat terkesan dengan kebiasaan perwira Amerika dan Eropa Barat umumnya, yang biasa bermain golf di waktu senggang. Dan di kampus Yani sendiri di Fort Leavenworth, terdapat lapangan golf yang menawarkan sesi latihan khusus bagi siswa yang berminat. 

Saat sudah kembali ke Jakarta, Yani mengajak Soeharto dan Bob Hasan untuk bersama-sama belajar golf.  Mereka mengandalkan caddy untuk membantu latihan. Sebagaimana kita tahu, Yani berteman dekat dengan Soeharto sejak lama karena sama-sama berasal dari rumpun Diponegoro. Saat Yani dan Soeharto masih bertugas di Kodam Diponegoro, Panglimanya adalah Gatot Subroto, sehingga Yani pun otomatis mengenal Bob Hasan.

Namun disebabkan golf pula, Yani menjadi “celaka”. Mengapa demikian? Menurut analisis Benedict Anderson dalam Cornell Paper yang termahsyur itu, para prajurit Kodam Diponegoro kecewa pada gaya hidup Yani ketika sudah jadi elite militer di Jakarta. Yani dianggap mulai bergaya kebarat-baratan dan tidak sesuai lagi dengan spirit rumpun Diponegoro yang puritan dan bersahaja. Salah satu contoh gaya hidup kebarat-baratan yang dimaksud adalah soal kegemaran Yani bermain golf. Kekecewaan prajurit Diponegoro pada Yani memuncak pada peristiwa yang kemudian kita kenal sebagai Peristiwa 1965.

Setelah Yani tiada, Soeharto yang kemudian menggantikan posisinya sebagai KSAD (dulu Pangad). Selain meneruskan jabatan Yani di militer, akhirnya Soeharto juga melanjutkan kegemaran Yani bermain golf.