oleh Aris Santoso (Pengamat Militer)

Sumber foto : Bagan spesifikasi Saracen produksi Inggris (ilustrator: Peter Sarson) dari kekunoan.com

Menjelang Operasi Trikora di awal tahun 1960-an, TNI (d/h ABRI) mendatangkan sejumlah kendaraan tempur, salah satunya adalah panser Saracen dari Inggris. Setiap alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang pernah hadir di Tanah Air, punya narasi sejarahnya masing-masing; ada yang gemilang, ada yang tragis juga.

Salah satu yang tragis adalah pesawat  tempur (keluarga) MiG dari Rusia. Pesawat tempur MiG dengan berbagai variannya seperti MiG 15, MiG 17, dan seterusnya, akhirnya tidak bisa lagi terbang pasca-Orde Baru, karena Rusia sebagai produsen tidak bersedia lagi mengirim suku cadang ke Indonesia. Memang selalu begitu, senantiasa  ada faktor politis dalam pembelian senjata, selain soal keuntungan finansial dari negara produsen.

Tentu beda ceritanya bila persenjataan tersebut datang dari negeri Barat seperti AS, Inggris, Jerman atau Perancis. Kalau mesin perang dari Barat, meskipun pengadaannya sudah sejak awal dekade 1960-an, beberapa di antaranya masih eksis sampai sekarang, seperti pesawat angkut  C-130 Hercules (produksi Lockheed, AS), dan panser Saracen (produksi Alvis, Inggris). Panser Saracen memiliki kisah unik yang menarik untuk dituliskan.

Sumber foto : indomiliter.com

Saracen dari segi usia termasuk “senior”, mengingat sudah memperkuat TNI AD  selama lebih dari 50 tahun. Beberapa unit Saracen sampai sekarang masih memperkuat satuan kavaleri di Kostrad, yakni Kikavtai (Kompi Kavaleri Intai), di bawah komando Divisi Infanteri Kostrad.  Tentu dengan beberapa modifikasi agar Saracen tetap bertahan sesuai tuntutan zaman, seperti mengganti dari mesin bensin ke  diesel, membekali tiap roda dengan peredam kejut, kelengkapan sistem pendingin kabin dan sistem gerak rodanya dengan all wheel drive

Sebagaimana disebut sekilas di awal tulisan, dalam rangka Operasi Trikora guna merebut Irian Barat (sekarang Papua), TNI membeli alutsista ke sejumlah negara Eropa. Pembelian alutsista itu dipimpin oleh Deputi Operasi KSAD Brigjen TNI Ahmad Yani,  sehingga disebut “Misi Yani.” Adapun yang menjadi KSAD saat itu adalah Jenderal AH Nasution.

Jenderal Ahmad Yani

Misi Yani adalah untuk berkunjung ke negara-negara Eropa dan  membeli senjata yang diperlukan. Guna melancarkan misi pembelian, Yani dibantu para atase militer di masing-masing Kedutaan Besar  (KBRI). Di KBRI Bonn, Jerman Barat misalnya, Yani dibantu Kolonel DI Pandjaitan. Sedangkan di KBRI London, Inggris, Yani dibantu Kolonel Sutoyo Siswomiharjo. Di Inggris, Yani sukses memboyong puluhan kendaraan tempur lapis baja atau panser, termasuk Alvis Saracen yang pertama kali dibuat pada 1952.

Menurut catatan yang ada, Indonesia memesan 179 panser. Masing-masing 55 APC (Armoured Personnel Carrier) Alvis FV603 Saracen, 69 Armoured Car Alvis FV601 Saladin, dan 55 unit APV Ferret. Dari penjelasan ini, ada tiga jenis panser yang dipesan, dan semuanya masih dalam satu keluarga Saracen, dua jenis lainnya adalah Saladin dan Ferret. 

Pada akhirnya panser-panser ini tidak jadi dikirim ke Papua, karena Operasi Trikora sudah keburu dihentikan. Namun Saracen kemudian memperoleh  tugas penting lain, meskipun terkesan memilukan. Panser Saracen mendapat tugas khusus pada 5 Oktober 1965, beberapa hari setelah Peristiwa G30S. Di hari yang seharusnya diperingati sebagai HUT ABRI itu, Saracen tak diturunkan dalam parade dan defile, namun justru bertugas mengusung jenazah para Pahlawan Revolusi, dari halaman Mabes TNI AD (sekitar Monas),  menuju ke TMP Kalibata, Jakarta Selatan. 

Ironisnya, dua orang jenderal yang diantar ke peristirahatan terakhir adalah mereka yang dulu bekerja untuk mendatangkan panser tersebut ke Tanah Air, yaitu Ahmad Yani dan Sutoyo.

Seperti perjalanan hidup manusia pada umumnya yang tak bisa diramalkan, demikian juga “perjalanan” panser Saracen. Saat bergabung ke satuan kavaleri TNI AD, awalnya panser Saracen ditempatkan pada Yonkav 7 Panser Khusus, satuan di bawah Kodam Jaya yang bermarkas di Cijantung. 

Memasuki dekade 1980-an, ketika mulai terjadi modernisasi persenjataan pasca-Orde Baru, Yonkav 7 “memensiunkan” panser Saracen, termasuk Saladin dan Ferret. Posisinya digantikan oleh panser V-150 Commando (produksi Amerika) dan VAB Renault (Perancis), beserta segenap variannya. Sementara sebagian panser Saracen yang masih layak operasional, kemudian dialihkan ke Kostrad.