oleh Aris Santoso (Pengamat Militer)

Salah satu episode menarik dalam perjalanan hidup Soeharto adalah saat dia menyatakan berhenti sebagai Presiden, pada 21 Mei 1998. Bagi yang masih ingat dengan zaman Orde Baru, saat itu tak seorang pun tahu kapan kekuasaan Soeharto akan berakhir. Namun setelah 32 tahun berkuasa, akhirnya Soeharto bersedia mundur juga.

Begitu pentingnya peristiwa tersebut sampai-sampai foto saat Soeharto mengundurkan diri menjadi sangat ikonik. Bila hari ini kita berkesempatan memandangi foto itu kembali, salah satu pertanyaan kemudian muncul: bagaimana kabar orang-orang yang berdiri di sekitar Soeharto saat itu, setelah 21 tahun berlalu?

Sumber foto : cnnindonesia.com

Salah satu yang paling layak disebut pertama tentu adalah Wiranto, yang saat itu menjabat Panglima TNI. Setelah dua dekade, Wiranto masih saja eksis dan saat ini menjadi Menkopolhukam di pemerintahan Presiden Jokowi (2014-2019). Wiranto ibarat survivor (penyintas), sebuah fenomena yang biasa terjadi pada kasus pelanggaran HAM. Namun ini sebaliknya, Wiranto justru selalu beruntung, terutama bila melihat latar belakangnya sebagai orang dekat Soeharto. Perlu diingat, Wiranto pernah menjadi ajudan (ADC) Soeharto sejak akhir 1980-an sampai awal 1990-an.

Ada tindakan “aneh” saat pengumuman pengunduran diri itu, yakni ketika Wiranto tiba-tiba memegang mikrofon tanpa didahului panduan protokoler atau pemandu acara. Di depan mikrofon dia menyatakan dirinya sebagai Panglima TNI yang tetap setia pada mantan Presiden Soeharto. Namun ibarat cinta bertepuk sebelah tangan, Wiranto tidak pernah bertemu Soeharto lagi sampai sang mantan Presiden meninggal pada akhir Januari 2008.

Sumber foto  : kumparan.com

Ada juga yang sudah meninggal, seperti Mayjen (Purn) Rasjid Qurnain Aquari dan Komjen Pol (Purn) Firman Gani. Pada Kamis pagi itu, keduanya masih berpangkat Kolonel dan Kombes (bagi Firman Gani). Kolonel Rasjid saat itu menjabat sebagai Komandan Grup A Paspampres, sementara Kol (Pol) Firman Gani adalah ajudan Wapres BJ Habibie.

Jabatan penting yang kemudian sempat diemban Rasjid adalah sebagai Danjen Kopassus. Saat pensiun, ia menjadi Komisaris di Sinar Mas Group, sebuah perusahaan besar. Sementara itu Firman Gani sempat memegang sejumlah jabatan strategis: Komandan Korps Brimob, Kapolda Jawa Timur dan Kapolda Metro Jaya.

Begitulah perjalanan hidup manusia, tidak ada yang bisa diramalkan dan selalu ada pasang surutnya. Begitu pula perjalanan karier perwira lain yang pagi itu berkerumun di sekitar Soeharto, selain yang sudah disebut di atas. Seusai Habibie dilantik sebagai Presiden, Soeharto pulang ke Cendana dengan didampingi puteri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana. Sementara para perwira yang tadi berada di sekelilingnya melanjutkan karier masing-masing. Ada yang sampai ke tingkat puncak, ada yang kariernya biasa-biasa saja.

Seperti Endriartono Sutarto misalnya, yang saat itu menjadi Komandan Paspampres, di kemudian hari sempat menjadi KSAD dan Panglima TNI. Setelah pensiun, ia kemudian diangkat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina. Demikian juga Kol (Kombes) Soetanto, mantan ajudan Soeharto, yang kemudian sempat menjadi Kapolri dan Kepala BIN.

Ada juga yang kariernya boleh dibilang datar-datar saja, yakni (dengan pangkat saat itu) Kol CPM Otte Ruhyiat, Komandan Grup B Paspampres, yang kebagian tugas mengawal Wapres B.J. Habibie. Setelah Habibie dilantik sebagai Presiden, Kolonel Otte kemudian menjadi Komandan Grup A Paspampres menggantikan posisi Kol Inf Rasjid Aquari. Otte kemudian sempat diangkat sebagai Komandan Pomdam Jaya (Guntur), dan pensiun dengan pangkat Brigjen.

Pada foto itu juga terlihat wajah Letjen (Purn) Yunus Yosfiah, yang saat itu menjabat Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sesdalopbang), sebuah jabatan sipil yang hari ini sudah tidak ada lagi. Padahal jika sesuai protokoler, entah apa relevansi kehadiran Sesdalopbang pada acara pagi itu. Mungkinkah itu berbau politis, mengingat berdasar asal-usul, Yunus berasal dari Makassar, seperti Wapres (kemudian Presiden) Habibie.

Dugaan politis bisa saja terjadi, mengingat saat Habibie mengumumkan kabinetnya, nama Yunus muncul kembali sebagai Menteri Penerangan. Sampai hari ini Yunus masih aktif di panggung politik. Antara lain dengan menjadi anggota tim sukses Prabowo saat Pilpres 2019 tempo hari.