Pelecehan di malam hari dan tempat sepi ternyata hanya mitos.

Pengalaman Dinar (nama disamarkan) membantah mitos pelecehan terjadi di tempat sepi dan malam hari. Perempuan berhijab ini justru mengalami pelecehan seksual di tempat dan waktu yang paling ramai, yakni saat kereta KRL beroperasi.

Kejadiannya berlangsung sore hari, saat Dinar sedang di dalam perjalanan pulang menumpang kereta Bogor. Namun, ada seorang laki-laki melakukan pelecehan terhadap dirinya. “Waktu itu belakang gue ditempelin penis, gue shock banget. Cuma bisa diam dan colek-colek teman gue, tapi teman gue gak ngerti yang gue maksud,” cerita Dinar ketika ditemui pada acara perilisan data Survey Pelecehan di Ruang Publik bersama Koaliasi Ruang Publik Aman.

Dinar merasa terguncang dan freeze. Istilah untuk teman-teman korban pelecehan yang merasa terkejut tak bisa bereaksi atas pelecehan yang baru terjadi. Awalnya ia berniat turun di stasiun Cibinong. Namun, karena kejadian tersebut terpaksa turun di Stasiun Depok Lama untuk menghindari pelaku. “Gak sempet lapor, shock banget. Gak bisa ngapa-ngapain. Dan petugas waktu itu gak ada di sekitar gue juga” katanya.

Pengalaman Dinar (nama disamarkan) membantah mitos pelecehan terjadi di tempat sepi dan malam hari. Perempuan berhijab ini justru mengalami pelecehan seksual di tempat dan waktu yang paling ramai, yakni saat kereta KRL beroperasi.

Kejadiannya berlangsung sore hari, saat Dinar sedang di dalam perjalanan pulang menumpang kereta Bogor. Namun, ada seorang laki-laki melakukan pelecehan terhadap dirinya. “Waktu itu belakang gue ditempelin penis, gue shock banget. Cuma bisa diam dan colek-colek teman gue, tapi teman gue gak ngerti yang gue maksud,” cerita Dinar ketika ditemui pada acara perilisan data Survey Pelecehan di Ruang Publik bersama Koaliasi Ruang Publik Aman.

Dinar merasa terguncang dan freeze. Istilah untuk teman-teman korban pelecehan yang merasa terkejut tak bisa bereaksi atas pelecehan yang baru terjadi. Awalnya ia berniat turun di stasiun Cibinong. Namun, karena kejadian tersebut terpaksa turun di Stasiun Depok Lama untuk menghindari pelaku. “Gak sempet lapor, shock banget. Gak bisa ngapa-ngapain. Dan petugas waktu itu gak ada di sekitar gue juga” katanya.

Gue sering diucapin ‘Mmm…mm… Assalamualaikum’, tapi lo bisa lihat mata mereka seakan menikmati tubuh gue. Buat gue itu pelecehan dengan atribusi agama, sih.

– Rika Rosvianti, founder “perEMPUan”

Rika Rosvianti, founder perEMPUan menganggap pelecehan sebagai hantu dalam kesehariannya. Berkerudung tak jamin keselamatannya. justru perempuan dengan sapaan Neqy ini alami pelecehan seksual yang berbungkus agama. “Gue sering diucapin ‘Mmm…mm… Assalamualaikum’, tapi lo bisa lihat mata mereka seakan menikmati tubuh gue. Buat gue itu pelecehan dengan atribusi agama, sih.” tegas Neqy.

Neqy jengah dengan ancaman pelecehan dalam kesehariannya. Pelecehan buat dia adalah pembunuhan harga diri bagi perempuan. Diam bukan pilihan bagi Neqy, mendorongnya melawan pelecehan yang terjadi di ruang publik.

Rika Rosvianti, founder perEMPUan menganggap pelecehan sebagai hantu dalam kesehariannya. Berkerudung tak jamin keselamatannya. justru perempuan dengan sapaan Neqy ini alami pelecehan seksual yang berbungkus agama. “Gue sering diucapin ‘Mmm…mm… Assalamualaikum’, tapi lo bisa lihat mata mereka seakan menikmati tubuh gue. Buat gue itu pelecehan dengan atribusi agama, sih.” tegas Neqy.

Neqy jengah dengan ancaman pelecehan dalam kesehariannya. Pelecehan buat dia adalah pembunuhan harga diri bagi perempuan. Diam bukan pilihan bagi Neqy, mendorongnya melawan pelecehan yang terjadi di ruang publik.

Rika Rosvianti, founder perEMPUan menganggap pelecehan sebagai hantu dalam kesehariannya. Berkerudung tak jamin keselamatannya. justru perempuan dengan sapaan Neqy ini alami pelecehan seksual yang berbungkus agama. “Gue sering diucapin ‘Mmm…mm… Assalamualaikum’, tapi lo bisa lihat mata mereka seakan menikmati tubuh gue. Buat gue itu pelecehan dengan atribusi agama, sih.” tegas Neqy.

Neqy jengah dengan ancaman pelecehan dalam kesehariannya. Pelecehan buat dia adalah pembunuhan harga diri bagi perempuan. Diam bukan pilihan bagi Neqy, mendorongnya melawan pelecehan yang terjadi di ruang publik.

Perempuan Berhijab Paling Rawan Alami Pelecehan

Tidak hanya Dinar dan Neqy, riset Koalisi Ruang Publik Aman membuktikan perempuan paling banyak alami pelecehan seksual diikuti oleh gender laki-laki. Survei KRPA dilakukan untuk memetakan kasus pelecehan seksual yang sering dialami oleh setiap orang dalam aktivitas sehari-hari di tempat publik. Survei ini diikuti oleh 62.224 responden di seluruh Indonesia, terdiri dari semua gender dengan berbagai latar belakang melalui metode kuesioner online.Tidak hanya Dinar dan Neqy, riset Koalisi Ruang Publik Aman membuktikan perempuan paling banyak alami pelecehan seksual diikuti oleh gender laki-laki. Survei KRPA dilakukan untuk memetakan kasus pelecehan seksual yang sering dialami oleh setiap orang dalam aktivitas sehari-hari di tempat publik. Survei ini diikuti oleh 62.224 responden di seluruh Indonesia, terdiri dari semua gender dengan berbagai latar belakang melalui metode kuesioner online.

Top 3 lokasi yang paling banyak terjadi pelecehan seksual

Jalanan Umum

Transportasi Umum

Sekolah dan Kampus

Apakah pelecehan seksual disebabkan karena korban berpakaian terbuka dan ketat?

05
ketat
05
terawang
05
terbuka

Pelecehan Seksual di Tempat Publik Bisa Batasi Aktivitas

Neqy yang sudah menelan pahitnya pelecehan seksual di tempat publik berani melawan. Karena ia tak mau sebagai perempuan aktivitasnya terbatasi karena faktor eksternal. Pelecehan seksual di public ternyata memiliki dampak serius secara sosial.

Jurnal ilmiah “The Woman in the Street:” Reclaiming the Public Space from Sexual Harassment mengatakan pelecehan di ruang publik berdampak pada kebebasan aktivitas perempuan. Pelecehan menyerang privasi seseorang ketika berada di publik. Korban merasa takut, direndahkan dan dibatasi ruang geraknya.

Ketika rasa aman dipertanyakan oleh korban pelecehan ‘Apakah gue aman beraktivitas seperti biasa? Gue gak yakin bisa selamat pulang kuliah’ berdampak pembatasan ruang gerak. Karena merasa terancam muncul kecenderungan korban membatasi aktivitasnya. Perempuan menjadi tak bisa bebas melakukan aktivitas di ruang publik.

Anindya Restuviani, Co-Director Hollaback! Jakarta menjelaskan pelecehan seksual terjadi di ruang publik karena budaya patriarki di masyarakat. Pelecehan karena adanya dominasi ruang publik oleh laki-laki yang menguasai ruang publik.

Sedangkan perempuan masih dianggap sebagai manusia yang pasif, mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak seharusnya berada di muka umum. “Pelecehan ini seperti ingin kembalikan perempuan ke pekerjaan domestik, kerjaan lo di dapur aja,” tegas perempuan yang disapa Vivi.