Beberapa negara telah membuat program khusus untuk membangkitkan geliat industri pariwisatanya selama pandemi COVID-19. Program yang dibuat memperhatikan tingkat infeksi suatu daerah, risiko kelompok-kelompok tertentu, atau membuat berbagai syarat yang harus dipenuhi agar seseorang diperbolehkan untuk berlibur. 

Kementerian Pariwisata Jepang mensubsidi biaya pelesir warganya melalui program Go To Travel. Pemerintah akan memberikan subsidi sebesar 14000 yen atau $130 per-orang untuk sekali liburan. Tetapi, pemerintah tidak akan mensubsidi biaya perjalanan menuju dan dari kota-kota yang masih memiliki kenaikan angka positif COVID-19 yang tinggi seperti Tokyo. 

Di sisi lain, Jepang tidak sembarang memberikan diskon ini bagi semua warganya yang ingin berlibur. Anak-anak muda yang bepergian dalam jumlah banyak dan memiliki niatan untuk mabuk-mabukkan kemungkinan besar tidak akan diberikan diskon pelesir ini. Katanya, kelompok ini memiliki risiko besar untuk menyebarkan virus COVID-19. 

Di Jerman, pemerintah federal dan negara bagian membuat regulasi khusus untuk pariwisata domestik. Aturannya, orang yang berasal dari daerah yang memiliki tingkat infeksi COVID-19 yang tinggi harus memiliki sertifikat medis untuk bisa berwisata ke luar daerahnya. Tes yang dilakukan harus berdasarkan pada test molekular biologi yang diambil tidak lebih dari 48 jam sebelum keberangkatan. Contoh test yang termasuk tipe test ini adalah tes swab. Jika tidak bisa menyediakan hasil test ini, mereka tidak diperbolehkan untuk menginap di hotel. 

Selain aturan khusus pariwisata domestik, Thailand juga memperbolehkan turis asing untuk datang melalui travel bubble. Tetapi, turis asing juga tidak akan bebas berwisata di Thailand. Pemerintah akan membatasi daerah yang dibuka untuk wisatawan asing serta mewajibkan mereka untuk menggunakan aplikasi pelacak di smartphone. Meski demikian, agaknya warga serta perdana menteri Thailand masih kurang yakin dengan rencana pemerintah di atas. 

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dari press release dan rencana program yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemerintah lagi-lagi hanya bertumpu pada himbauan untuk menerapkan protokol kesehatan tetap bagi wisatawan dan pelaku pariwisata lainnya. 

Tidak ada terobosan baru atau kebijakan khusus yang berorientasi pada risiko penyebaran virus saat berwisata seperti negara-negara di atas. Intinya sih, pemerintah hanya ingin kita cepat-cepat kembali liburan. Wishnutama kayaknya nggak terlalu ambil pusing dengan keselamatan kita.