Membayangkan tinggal di kota aerotropolis terbukti menggiurkan bagi banyak orang. Namun, dibalik pembangunan kota-kota bandara, ada konflik perampasan ruang hidup hingga risiko kesehatan yang patut dipikirkan ulang oleh calon penghuni.

Mengusung konsep aerotropolis, baru-baru ini Summarecon gencar memasarkan Summarecon Mutiara, sebuah kota mandiri yang menggabungkan area sekitar Bandara Hasanuddin dengan bisnis pariwisata, hiburan, hotel, perkantoran, hunian, dll. Dua dari tiga klaster Summarecon Mutiara ternyata sudah habis terjual meski harga dipatok mulai dari 2M. 

Sama halnya dengan Summarecon, pemerintah juga menggeber pembangunan kota di dekat bandara. Tercatat 5 dari 7 proyek yang dipasarkan BKPM dan PT Angkasa Pura II (Persero) ke investor pada acara Market Sounding bulan lalu merupakan proyek kota bandara. 

Proyek-proyek tersebut diantaranya pembangunan hotel bintang 4 di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Aeroland City Development di Tangerang, Transit Oriented Development Sky City Soekarno Hatta, Airport City Kualanamu dan Airport City Supadio. Tapi apa iya, tinggal di dekat bandara itu seindah yang dicanangkan pemerintah

Kenyataannya, pembangunan aerotropolis di Indonesia erat kaitannya dengan perampasan ruang hidup warga. Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) saja menelan 637 hektar lahan produktif warga dengan total warga terdampak mencapai 11,500 jiwa atau 2,857 keluarga. Ganti rugi yang diberikan juga tidak sebanding dengan hilangnya sawah, lahan perkebunan dan mata pencaharian warga. Kini, banyak dari mereka hanya menjadi pekerja serabutan atau menganggur. 

Di Majalengka, 10 desa terkena gusuran proyek aerotropolis Kertajati. 612 dari 731 hektar lahan Desa Sukamulya di ujung landasan pacu Bandara Kertajati merupakan sawah warga sekitar. Sama halnya dengan warga Kulon Progo, kehilangan lahan ini juga berarti kehilangan mata pencaharian mereka. 

Belum lagi dengan polusi udara dan suara yang harus ditanggung ketika tinggal di dekat bandara. Sebuah studi dari Universitas Columbia dan Universitas California menunjukkan bahwa orang yang tinggal dalam radius 10 km dari bandara mempunyai kerentanan terhadap asma dan masalah jantung yang lebih tinggi akibat paparan karbon monoksida dari lalu lintas pesawat. 

Riset lain dari Imperial College London dan King’s College London juga menunjukkan orang yang tinggal di kawasan paling dekat dengan bandara memiliki 10-20% risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dari orang yang tinggal di kawasan yang lebih sepi. 

Nah, kota bandara seperti Summarecon Mutiara sendiri letaknya cuma 4km dari Bandara Hasanudin dan 5 km dari Makassar New Port. Kebayang ‘kan risiko-risiko kesehatan yang muncul ketika bergabung menjadi masyarakat aerotropolis? Belum lagi jika pembebasan lahannya bermasalah. Pikir-pikir lagi deh sebelum beli rumah dekat bandara.