Penanganan krisis pandemi COVID-19 oleh suatu negara kini muncul sebagai faktor penting yang menentukan pilihan destinasi berlibur oleh wisatawan asing. 

Hasil riset Bloom Consulting dan D2 Analytics pada April 2020 menunjukkan 64% responden memiliki ketakutan terhadap virus COVID-19 dan karenanya memilih untuk tidak berwisata selama 12 bulan ke depan. Menariknya, sebanyak 53% responden mengatakan mereka akan merubah destinasi wisata ke negara-negara yang memiliki sistem kesehatan yang kuat dan dapat diandalkan. Manajemen krisis pandemi dan jumlah kasus COVID-19 di suatu negara menjadi faktor krusial dalam mempertimbangkan destinasi wisata bagi mereka. 

Riset lain bertajuk Impact of COVID-19 on Nation Brands mengungkap sebanyak 68% responden mengaku penanganan pandemi COVID-19 mengubah persepsi mereka terhadap suatu negara. Mereka mempertimbangkan kecepatan respon terhadap pandemi dan efektivitas kebijakan yang diambil dalam menentukan baik atau tidaknya pemerintah dalam menangani pandemi di wilayahnya.

Lima faktor yang menentukan imej positif suatu negara adalah kebijakan yang efektif (22.4%), lockdown (11.9%), jumlah kasus (9.8%), respon cepat (9.3%), serta isolasi dan karantina (6.6%). Sedangkan, lima hal yang merusak pandangan wisatawan terhadap suatu negara adalah kurangnya kebijakan yang efektif (21.0%), keterlambatan respon (14.6%), menyepelekan bahaya pandemi (12.3%), jumlah kasus (9.9%), dan kegagalan kepemimpinan pemerintah (5.8%).

Dari riset-riset di atas, negara-negara yang mempunyai respon positif tertinggi dari responden adalah Korea Selatan, Jerman, dan Singapura. Sedangkan, negara yang sepertinya akan dihindari oleh wisatawan akibat buruknya penanganan pandemi diantaranya Amerika Serikat, Italia, dan Spanyol. 

Meski peringkat Indonesia tidak disebutkan dalam riset tersebut, agaknya kita sudah bisa menentukan kira-kira Indonesia masuk ke kelompok yang mana, ya. 

Tentu kita masih ingat kelakar pemerintah tentang virus COVID-19, mulai dari nasi kucing Budi Karya hingga Menteri Terawan “Lah kok masih aja disini” Agus Putranto yang menuduh peneliti Harvard sok tahu dan menantang mereka untuk datang kesini kayak preman komplek menantang duel. 

Pemerintah juga menolak memberlakukan karantina kesehatan serta mengambil kebijakan-kebijakan yang ngawur. Indonesia juga memiliki tingkat kematian tertinggi di Asia dan di Asia Tenggara bagi tenaga kesehatan. Bahkan saat ini, jumlah kasus korona di Indonesia sudah melampaui China, negara asal virus itu sendiri. Tak lama lagi, kita akan menjadi episentrum pandemi di Asia. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sendiri mengakui bahwa kepercayaan wisatawan menjadi kunci utama untuk membangkitkan industri pariwisata Indonesia. Namun, semua jadi konyol ketika salah satu program pemulihan pariwisata adalah ‘publikasi masif penanganan COVID-19’. 

Lagipula, sebenarnya Wishnutama tak perlu repot-repot menjalankan program ini. Toh seluruh dunia sudah tahu borok penanganan pandemi oleh pemerintah Indonesia. Kegagalan pemerintah menangani krisis pandemi merupakan akhir dari pariwisata Indonesia. Jika masih optimis berupaya menarik wisatawan asing, lupakan Bali Rebound dan destinasi wisata prioritas. Tidak ada obat penawar lain bagi masa depan industri pariwisata selain memperbaiki penanganan pandemi COVID-19.