Ada berita baik bagi para pecinta fashion berkelanjutan tanah air. Salah satu brand Indonesia, Sukkhacitta berhasil menjadi salah satu finalis Asia-Pasifik dalam perhelatan World Changing Idea Awards 2020 dalam kategori Best World Changing Idea.

World Changing Idea Awards sendiri adalah acara yang memberikan penghargaan terhadap produk, konsep, dan desain perusahaan. Meski kita nggak tahu persis apa sebenarnya sisi menonjol yang menyebabkan Sukkhacitta bisa menjadi salah satu finalis Asia-Pasifik, tapi kita bisa lihat Sukkhacitta ini adalah perusahaan yang memiliki mimpi mulia, yakni menuntaskan permasalahan dunia fashion yang eksploitatif kepada manusia dan lingkungan. Sang founder Denica Flesch bahkan menekankan, Sukkhacitta bukanlah sebuah brand fashion, melainkan sebuah model untuk perubahan yang lebih baik.

Nggak tanggung-tanggung, untuk mewujudkan mimpinya perusahaan ini memasang target 100% traceability pada tahun 2020 ini. Sebuah target yang kemungkinan besar akan sulit untuk diraih.

Bagi kawan-kawan yang mungkin baru dengar istilah ini, traceability adalah konsep dimana sebuah produk dapat diidentifikasi dan dilacak sejarah, proses distribusi, dan pengumpulan materialnya, untuk memastikan kebenaran klaim prinsip keberlanjutan dari segi hak asasi manusia, antara lain perlindungan terhadap keselamatan dan kesejahteraan pekerja, perlindungan lingkungan dan penghormatan atas prinsip anti-korupsi selama proses produksi.

Dalam mengejar target 100% traceable tersebut, Sukkhacitta antara lain telah menginformasikan tentang apa saja material yang dipakai dalam setiap produk dagangan mereka.

 

Usaha lain adalah melalui SweetIndigo, produk pewarna yang diolah dan digunakan Sukkhacitta dalam memproduksi pakaiannya. SweetIndigo sendiri merupakan produk pewarna yang diklaim telah 100% traceable.

Untuk membuktikannya, Sukkhacitta menjelaskan dengan rinci proses pengolahan SweetIndigo, mulai dari penggunaan daun indigo seberat 20 Kg untuk memproduksi 1 baju dan juga menunjukan bagaimana pewarna ini dapat membantu kehidupan 12 keluarga di desa Jlamprang, Jawa Tengah.

Harus diakui, Sukkhacitta memang unggul dalam poin edukasi konsumen mengenai proses pembuatan pakaian secara alami dan berkelanjutan. Ia tidak terjebak dalam kungkungan sertifikasi yang membuat traceability hanya menjadi sebatas ‘sertifikat halal’ sebuah produk fashion, tanpa pemegangnya merasa perlu mengedukasi konsumennya mengenai pentingnya aspek ramah lingkungan selama proses produksi.

Namun, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, traceability tidak hanya wajib menjawab pertanyaan ‘dari bahan apa sebuah produk dibuat?’ saja. Terdapat aspek sosial yang tidak kalah mendesak untuk disampaikan Sukkhacitta. Seperti pemenuhan hak atas jaminan kesehatan pekerja, jam kerja yang layak, alur pengaduan jika terjadi pelanggaran, dan sebagainya.

Sejauh ini, Sukkhacitta hanya melakukan pelaporan dalam bentuk cerita-cerita pendek ala blog tentang bagaimana proses produksi Sukkhacitta berdampak baik terhadap para artisan yang bekerja sama dengan mereka. Seperti contohnya pada laman Impact, Sukkhacitta menjelaskan bahwa mereka telah berhasil menaikan pendapatan para pengrajin dan petani yang bekerja bersama mereka sebesar 60%.

Namun, jika kita ambil contoh, misalnya dalam penelitian pendapatan pengrajin batik di Desa Sendang Duwur, Lamongan, salah satu pengrajin dalam penelitian tersebut mendapatkan upah sebesar Rp 520.000 per bulan. Walhasil, naiknya pendapatan sebesar 60% tidak cukup untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan mereka. Jika dihitung bersama peningkatan yang diperoleh, penghasilan mereka masih berada di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Lamongan, yang tahun ini ada di angka 2,4 juta rupiah.

Pengrajin Batik di Desa Sendang Duwur, LamonganPenelitian Tentang Upah Pengraijin di Desa Sendang Duwur

 

Bukannya ingin cari-cari masalah. Namun, rasanya wajar dalam dunia fashion yang penuh eksploitasi kepada para pekerjanya, konsumen menginginkan transparansi atas terpenuhinya hak para pekerja.

Untuk saat ini, usaha Sukkhacitta patut diacungi jempol. Tapi, jalan panjang masih harus ditempuh oleh brand ini jika ingin betul-betul mencapai 100% traceability dalam praktek bisnisnya dan membuktikan dirinya sebagai model perubahan dalam bisnis fashion yang berkelanjutan.