Kabarnya Liga 1 resmi kembali digelar pada bulan Oktober mendatang. Ini merupakan angin segar bagi klub-klub sepakbola yang tengah mengalami krisis keuangan karena mandeknya pertandingan di tengah pandemi.

Namun, kompetisi yang memiliki kasta tertinggi dalam industri sepakbola lokal itu juga bisa menimbulkan dilema tersendiri. Pasalnya, protokol kesehatan yang diterbitkan oleh Kemenpora mensyaratkan swab test bagi para pemain sebelum beraksi di lapangan. Tentu aturan tersebut dirasa berat oleh sejumlah klub, karena pembiayaan dibebankan seluruhnya kepada tim.

“Sekali swab test kalau dihitung itu Rp 2 juta. Jumlah ini dikalikan 30 pemain karena kemungkinan tim luar Jawa ini akan membawa seluruh pemainnya, sehingga biaya menjadi Rp 60 juta. Itu baru satu kali swab, sedangkan swab itu harus dilakukan secara berkala”, tegas General Manager APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia) Ponaryo Astaman menyoroti rencana kembalinya musim Liga 1. 

Ya, pantas saja tekor.

Menurut Ponaryo, soal pembiayaan dan pertanggungjawaban protokol kesehatan perlu mendapatkan perhatian khusus dari PT LIB selaku operator dan PSSI. Jangan sampai ada tim yang mengakali swab test karena tingginya biaya lalu kecolongan. Ini juga berlaku untuk cabang olahraga lain yang sudah atau baru akan membuka kembali program olahraganya masing – masing.   

Sebagaimana diketahui, PSSI bakal menyuntik dana subsidi sebesar Rp 800 juta/bulan kepada masing – masing kontestan dalam lanjutan Liga 1 nanti selama 6 bulan kedepan hingga kompetisi berakhir pada 28 Februari 2021. Lalu sebelumnya PSSI juga telah menyepakati pemberian subsidi sebesar Rp 5 Miliar kepada klub – klub di bawah naungannya selama 10 bulan mulai Maret hingga Desember yang dibayarkan per termin  

Akan tetapi, nominal tersebut dinilai masih belum cukup lantaran manajemen klub masih harus menjamin kesejahteraan atletnya yang kena potongan gaji 25% semenjak pandemik serta official klub lainnya.  

Memang perlu usaha besar kalau ingin membangkitkan lagi industri sepakbola di masa new normal ini. Tantangannya banyak, bukan cuma mengejar keberlangsungan ekonomi klub tetapi juga memastikan keamanan saat bertanding. Penerapan protokol kesehatan secara ketat adalah yang utama, mencontohkan negara lain seperti Jerman dengan Bundesliga-nya yang berjalan baik tanpa ada catatan kasus sejak musim dibuka.   

Di sisi lain klub-klub tidak punya harapan lebih adanya pemasukan tambahan dari penjualan tiket, sebab sudah pasti liga besutan PT Liga Indonesia Baru (LIB) tersebut tidak dihadiri penonton atau suporter guna menekan penyebaran virus. Kecuali jika kamu tetap ngotot nobar bareng die hard fans dengan basis 10 kopaja.

Eh, tapi kalau klub sepakbola level tertinggi saja mengaku megap-megap ketika harus bayar tes swab, terus bagaimana nasib warga sekitar yang setiap harinya bengong melihat mahalnya harga tes?