Masih ingat dengan Lalu Muhammad Zohri si sprinter putra terbaik Indonesia yang berhasil mengembalikan sejarah medali perak di nomor lari 100 meter dalam Kejuaraan Atletik Asia 2019? Atau Aries Susanti Rahayu yang dijuluki spider-woman karena raihan medali emas panjat tebing di Asian Games 2018 dengan rekor tercepat 6,995 detik? 

Aksi heroik mereka dalam ajang kompetisi olahraga di tingkat internasional itu mungkin masih membekas dalam benak kita, apalagi usia keduanya terbilang masih sangat muda saat menciptakan sejarah baru bagi dunia olahraga tanah air. Mereka bahkan belum sampai di usia emas.  

Menpora Zainuddin Amali sepertinya ingin mengulang kembali sejarah itu atau menciptakan rekor – rekor baru pada cabor lain di Olimpiade 2032, olimpiade yang kabarnya sudah di-bidding Indonesia agar ditunjuk sebagai tuan rumah.

Untuk itu, ia menilai penting sebuah grand design yang memasukkan sport science sebagai bekal untuk memupuk bibit – bibit unggul atlet nasional dalam mengejar prestasi yang lebih tinggi, selayaknya olahraga di negara – negara maju yang memupuk atletnya sejak dini untuk mampu berkompetisi di taraf dunia sekalipun. 

Namun, sport science bukan perkara ilmu biasa. Dari istilahnya yang ‘beken’ sudah ketahuan konsep tersebut merupakan perpaduan antara bidang keilmuan/pengetahuan dengan teknologi canggih sesuai kebutuhan zaman, sudah pasti membutuhkan anggaran besar. 

Sport science secara umum dibagi atas beberapa bidang; pelatihan, fisik, kedokteran, fisioterapi dan rehabilitasi, relaksasi, gizi, psikologis, dan peneliti (researcher). Tujuannya untuk mewujudkan sebuah program latihan atau materi yang terpadu agar terbentuk skuad yang fit dan bugar serta bebas cedera saat menghadapi pertandingan. Masing – masing bidang diisi oleh sport scientists yang upahnya juga tak sedikit yaitu sekitar 70 juta rupiah/bulan untuk setiap tenaga.

Sementara fasilitas sport science kita bisa lihat perbandingannya. Universitas Victoria, Australia, memiliki fasilitas berupa altitude room dan altitude hotel yang dapat menciptakan kondisi lingkungan dengan kadar oksigen rendah seperti Bolivia. Ini dapat menghemat anggaran tim sehingga tidak perlu berlatih ke luar negeri untuk menyesuaikan diri, seperti U-19 yang sedang menjalani TC di Korsel

Lalu Jepang memiliki Olympic Centre di Tokyo dengan sejumlah laboratorium mutakhir; Environment Research Lab, Physiology Lab, Biomechanics, dan Wind Tunnel Lab untuk simulasi balap Formula 1. 

Sudah mulai bisa kebayang ‘kan berapa biaya yang bakal dikeluarkan Pemerintah jika ingin menghadirkan sport science secara komprehensif ke dalam pembinaan olahraga dalam negeri?

Kemenpora bersama Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Indonesia sempat bekerjasama menyediakan sejumlah fasilitas sport science guna mendukung kiprah para atlet Asian Games 2018. Strategi tersebut digadang – gadang sebagai salah satu kunci kesuksesan Indonesia meraih sederet medali kala itu. Meskipun jauh hari sebelumnya beberapa federasi, klub, maupun organisasi olahraga sudah menerapkan sport science dalam program latihan para atlet di bawah naungannya, tentu hal itu dilakukan dengan kemampuan terbatas dan minus peralatan canggih.

Mau Latihan Dimana?

Namun, sebelum melangkah jauh ke sport science yang futuristik itu, sebaiknya Pemerintah evaluasi dulu deh soal tata kelola olahraga, terlebih atas sejumlah bangunan sarana dan prasarana olahraga yang tak terurus. Kan aneh, atletnya udah semangat latihan, eh lapaknya kagak ada. Mau latihan di kebon

Sering sekali bangunan fasilitas olahraga terbengkalai lantaran pemda selaku pengelola hanya bergantung dari pemasukan Event Organizer atau penyewa. Ini sebabnya perawatan gedung dan fasilitas jadi mandek karena pemda lepas tanggung jawab, kalau sepi ya paling hanya jadi sarang kecoa dan lokasi pilihan buat berasyik-masyuk.

Yang jelas, Pemerintah bukanlah operator dalam dunia olahraga, maka jangan tahunya cuma ngures anggaran untuk bangun sana sini aja tanpa perencanaan yang matang, terus ujung – ujungnya menambah banyak bangunan terbengkalai. Wisma Atlet Kemayoran contohnya, sekarang digunakan untuk Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19, padahal seharusnya di musim pelatnas saat ini para atlet yang dipanggil ke Ibukota bisa menempati unit –  unit disana sembari mempersiapkan diri untuk kompetisi olahraga mendatang. 

Lebih utama lagi, kesejahteraan para atlet perlu diperhatikan, selain sepi pekerjaan di saat tidak ada pelatnas dan kompetisi olahraga, di masa pensiun atlet bahkan tak jarang mereka menjual medalinya untuk menambah kebutuhan hidup sehari – hari. Tambah lagi di masa pandemi Covid-19 ini, beberapa diantara mereka terpaksa mengejar usaha sampingan (UMKM) untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. 

Jadi, sport science bukan sekadar ikhtiar mengejar prestasi, tetapi juga cara untuk memastikan karir para atlet-atlet nasional dapat berkelanjutan dan kesejahteraan ekonominya terpenuhi hingga mereka pensiun, dengan begitu “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat” pun jadi lebih bermakna. Secara alamiah, disitu lah kemudian akan bermunculan tunas-tunas baru, yang akhirnya dapat betul-betul mengantar kita menuju kejayaan di kancah olahraga.