Pertandingan lanjutan Liga 1 sepakbola tanah air rencananya akan bergulir kembali awal bulan Oktober mendatang dengan perhelatan satu musim penuh tanpa degradasi. Laga antara PSS melawan Persik Kediri di Stadion Maguwoharjo, Sleman, bakal membuka musim yang sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 tersebut.

Sementara itu, PT LIB bersama PSSI tengah menggodok sanksi bagi klub yang suporternya kedapatan datang ke stadion untuk mendukung tim idolanya berlaga. Ini merupakan tanggung jawab baru bagi manajemen klub untuk memastikan pertandingan dapat berlangsung tanpa dihadiri suporter, dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Memang saat ini semua pertandingan olahraga di dunia, tak hanya sepakbola, sepi dari ambience sungguhan ketika para fans dan suporter menjejali tribun stadion. Kehadiran mereka beserta yel – yelnya seakan memiliki kekuatan magis yang mampu mendobrak tingkat rasa percaya diri para pemain yang merumput di lapangan; bahkan hasil sebuah pertandingan dapat ditentukan oleh spirit para suporter di babak kedua atau menit – menit akhir

Sebut saja, FC Barcelona yang sempat tertinggal 4 gol tanpa balas dari Paris Saint Germain (PSG) pada leg pertama Liga Champions 2016-17 di Camp Nou. Berkat dukungan suporter fanatik mereka, skuad Barca berhasil menaklukan PSG dengan skor besar 6-1 di kandang sendiri sehingga lolos ke babak selanjutnya.

Menghindari Sanksi 

Bagaimanapun, suporter bak pemain kedua belas. Ketiadaan mereka berdampak pada aspek psikologis pemain. Namun, dalam kondisi new normal, alih-alih membangkitkan semangat, malah ada kekhawatiran pemain terhadap suporter yang nekat datang menonton, sebab kemungkinan sanksi terberat adalah diskualifikasi tim dari liga kasta tertinggi dalam kompetisi sepakbola Indonesia. 

Contohnya terjadi baru-baru ini, saat laga uji coba Persija Jakarta melawan FC Bhayangkara ramai dihadiri penonton meski Jakarta sudah kembali memasuki PSBB ketat. Dikhawatirkan saat Liga 1 mulai bergulir, akan banyak klub-klub bertanding yang mengakibatkan mobilisasi warga tak terbendung, apalagi sampai sekarang masih belum ada aturan konkrit soal larangan suporter menonton langsung dari stadion. 

Menyikapi hal ini, sejumlah manajemen klub sudah melakukan komunikasi dengan para pentolan suporter sepakbola. Mereka meminta seluruh suporter hingga ke akar rumput agar tidak datang menyaksikan pertandingan, supaya klub kesayangan mereka tidak dijatuhi sanksi. 

Meski berat, aturan tersebut harus dipatuhi, bukan hanya demi menjaga citra dan posisi klub tetap berada di klasemen, tetapi juga untuk menghindari klaster baru penularan Covid-19 di dunia sepakbola. Kalau sudah ada kluster, bisa saja musim pertandingan dihentikan, bahkan diundur hingga waktu yang tak bisa ditentukan.

New Normal Kurangi ‘Gesekan’

Namun, sisi positifnya, pelarangan penonton selama Liga berlangsung dapat mengurangi ‘gesekan’ antar suporter akibat fanatisme terhadap tim yang mereka cintai

Masih ingat almarhum Haringga Sirla, suporter Persija Jakarta yang tewas dikeroyok suporter Persib Bandung? Ia tercatat sebagai suporter ke 76 yang meregang nyawa usai pertandingan sepakbola dalam 26 tahun terakhir.

Khusus hal ini, pemerintah seperti tak punya strategi jitu dalam membenahi sepakbola tanah air, khususnya menyoal konflik antar suporter sepakbola. Bahkan isu rasisme juga disebut – sebut kerap muncul di tengah jalannya pertandingan. FIFA, selaku lembaga tertinggi internasional yang mewadahi olahraga sepakbola, pun tak berdaya mengatasi kasus – kasus fanatisme yang berujung kekerasan dan rasisme, selain hanya mengkampanyekan slogan “Say No To Racism”.

Berbeda dengan klub Dulwich Hamlet, London, dimana para fansnya menjalin kehangatan satu sama lain dan menghormati kesetaraan, sehingga Dulwich bukan hanya klub sepakbola semata tapi cukup layak untuk disebut sebagai keluarga bagi para penggemarnya