“Tanpa musik, hidup akan menjadi suatu kesalahan” (Nietzsche); tiada live music, hidup juga akan berujung pada kehampaan, terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini. 

Dunia pertunjukan musik hidup atau live music merupakan salah satu sektor paling terpukul akibat penerapan aturan pembatasan sosial guna menekan laju penyebaran virus. Ini dikarenakan umumnya pertunjukan live music bakal mengundang banyak orang untuk berkumpul dan memiliki potensi terciptanya klaster baru. 

Sederet festival musik di tahun 2020, baik dalam negeri maupun luar negeri pun terpaksa dibatalkan demi mengedepankan kesehatan masyarakat, termasuk skala yang lebih kecil seperti gigs. Meski banyak pertunjukan live music kini beralih ke ranah virtual, tampaknya para penggemar musik dan beberapa Event Organizer tetap memilih cara – cara yang konvensional dengan sedikit moderasi sebagai adaptasi new normal

U.K resmi membuka socially distanced venue pertama dengan kapasitas 2.500 tempat duduk yang di-plot pada 500 platform menonton secara terpisah pada 12 Agustus lalu. Klab malam di kota Nijmegen, Belanda terlihat seperti acara seminar kampus, para audiens duduk berjarak di tengah dancefloor. Sedangkan drive in concert lebih dahulu diusung semenjak Covid-19 menyebar di berbagai negara.  

Sensasinya? Sudah pasti beda! 

Namun, ada pula pertunjukan live music dan keriaan lainnya yang digelar tanpa menerapkan protokol kesehatan, semua tampak tak khawatir akan adanya ancaman virus. Kegiatan ini belakangan disebut – sebut ilegal lantaran melangkahi aturan pemerintah serta mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat luas.       

Buktinya, dunia sempat dihebohkan oleh ribuan partygoers yang memenuhi kolam Wuhan Maya Beach Water Park, Provinsi Hubei, Cina pada 18 Agustus lalu. Mereka berdesakan mengapung tanpa masker sambil menikmati musik yang dimainkan oleh DJ. Pemandangan ini kontras dengan kondisi kota Wuhan yang sepi saat pertama kali menjadi episentrum penyebaran Covid-19. 

Di pantai Greatstone, New Romney, Inggris, petugas patroli setempat terlibat bentrokan dengan pengunjung saat penertiban illegal rave yang semula diprotes warga lantaran tidak adanya social distancing. Di London sendiri lebih dari 500 pesta ilegal digelar dalam kurun waktu sebulan terakhir, sedangkan malam minggu lalu 23 Agustus kepolisian Birmingham menutup 70 kegiatan pesta malam, baik di rumah maupun di tempat umum.

Berbeda dengan Indonesia, gerombolan pendaki sempat viral di media sosial karena mempertontonkan aksi dugem di atas Bukit Savana Propok, Taman Nasional Gunung Rinjani pada awal Agustus lalu; akibatnya, akses wisata setempat baik untuk pendakian maupun non pendakian kembali ditutup sementara. Lalu sejumlah tenaga kesehatan dan petugas TNI juga sempat heboh menggelar acara dangdutan di Wisma Atlet sebagai bentuk perpisahan terhadap nakes yang hendak dipindah tugaskan pada 27 Juni bulan lalu.

Sedangkan pesta – pesta pernikahan warga yang dibubarkan oleh kepolisian maupun satpol PP tentu sudah sering kita dengar, salah satunya di Kota Bekasi baru – baru ini resepsi pernikahan dibubarkan oleh kepolisian Polsek Bantargebang. Covid-19 memang tak pandang bulu, Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Sudiana juga sempat dicopot karena menggelar pesta pernikahan di Hotel Mulia 21 Maret lalu yaitu saat PSBB pertama diberlakukan.

Dari tempat hiburan malam, Pemprov DKI telah menyegel sebuah bar di Hotel Shangri – La, Jakarta pada 8 Agustus karena pihak pengelola bar kedapatan menyelenggarakan live music tanpa pengawasan ketat protokol kesehatan. Di DKI Jakarta sendiri tercatat ada 595 tempat usaha atau fasilitas umum dan 60 tempat hiburan dan industri pariwisata yang diberikan sanksi karena melanggar aturan PSBB selama periode 5 Juni hingga 3 Agustus 2020; 28 tempat hiburan diantaranya disegel. Nilai yang terkumpul dari sanksi denda terhadap pelanggaran tidak menggunakan masker mencapai Rp1.007.560.000,-, dari keterangan Kepala Satpol PP DKI Jakarta Arifin.

Ya, pesta – pesta ‘ilegal’ akan terus bermunculan selama pemerintah tidak tegas menerapkan aturan dan memberikan contoh yang baik. Apalagi hasrat kembalinya pertunjukan live music bukan ‘cuma’ didasari keinginan para pencari keriaan yang ingin melepas kebosanannya di tengah pandemik, melainkan dorongan untuk memulihkan kembali ekonomi para pelaku industri musik itu dan tempat – tempat hiburan malam yang pendapatannya selama ini berkurang.