Di tengah geliat fashion yang tengah lesu, Kementerian Perindustrian masih percaya dengan geliat semangat muda putra-putri bangsa dalam membangun kancah fesyen Indonesia. Kemenperin dengan Bali Creative Industry Center-nya bersama dengan Universitas Prasetya Mulya akan menghelat Creative Business Incubator (CBI). 

Mengusung tajuk “Upscaling Your Business”, program yang diadakan pada tanggal 7 September dan akan berlangsung selama 3 bulan ini adalah wadah bagi para pegiat usaha kriya dan fashion untuk berkolaborasi, berbagi pengalaman, berdiskusi dan berkarya bersama. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya diadakan di Bali, kali ini kegiatan inkubasi ini akan dilakukan secara daring.

Sumber : ukmindonesia.id

Program ini sendiri telah menghasilkan usaha-usaha yang oke selama bergulir sejak tahun 2016. Mulai dari Seratan Studio, Studio Dapur dan merk-merk lainnya.

Sebenarnya apa sih yang diajarkan dalam program CBI ini? Kalau kita lihat dari laman pendaftarannya, program ini menyediakan program pelatihan dan mentoring bisnis yang akan dibagi menjadi dua tahap.

Tahap pertama adalah tahap birth stage dimana para peserta akan diajarkan materi tentang pengembangan bisnis mulai dari strategi bersaing dalam bisnis, legal dan perizinan, manajemen SDM hingga business pitching. Kemudian pada tahap selanjutnya, breakthrough stage, para peserta akan mendapatkan program mentoring dan coaching exclusive. Namun, program ini baru dimulai pada tahun 2021 dan para peserta akan diwajibkan untuk mendaftar ulang dan kembali melakukan seleksi.

Sebenarnya jika merujuk kepada model bisnis inkubasi, tidak ada hal yang menonjol dalam programnya CBI jika dibandingkan dengan program-program inkubasi lainnya. Mereka mengumpulkan pebisnis yang potensial untuk dilatih dan kemudian dipertemukan dengan para angel investor.

Namun, apakah program ini tepat untuk mencapai tujuan tersebut? 

Memutar Ulang Lagu Lama 

Padahal, salah satu tujuan dari program inkubasi bisnis ini adalah menjawab tantangan-tantangan baru soal dunia fashion. Salah satunya adalah wabah COVID-19. Wabah ini bukan main-main, ia telah membuat bukan hanya industri fashion luluh lantak. Hampir seluruh sektor lumpuh akibatnya.

Business Of Fashion dalam laporannya yang berjudul The State Of Fashion 2020, Coronavirus Update memperkirakan bahwa pada tahun 2020 Industri Fashion dunia akan mengalami kontraksi sebesar 27-30% pertumbuhannya. Sementara dari ranah lokal, berita resmi BPS pada 5 Agustus 2020, konsumsi masyarakat Indonesia telah mengalami penurunan yang landai yakni -5,13% dalam sektor pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya.

Sumber : www.businessoffashion.com

Imbasnya, pembelanjaan pada rantai pasok pun menurun yang akhirnya menyebabkan pabrik-pabrik merugi dan mengakibatkan perusahaan-perusahaan harus merumahkan dan bahkan mem-PHK pekerjanya. Di bulan April, sekitar 80% pabrik garmen telah merumahkan karyawannya di Indonesia.

Sehingga muncul pertanyaan: apakah Kemenperin melakukan hal yang tepat dengan membuat sebuah program inkubasi yang bisa dibilang setali tiga uang dengan program inkubasi lain di ‘era normal’. Sementara, di masa pandemi ini pendekatan teori-teori bisnis yang biasa dipelajari di kelas sudah tidak tepat untuk diterapkan saat ini.

Pertanyaan yang lebih penting tentunya adalah apakah hasil dari inkubasi bisnis ini dapat benar-benar menjawab permasalahan dunia fashion di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini. Beberapa diantaranya adalah lemahnya rantai pasok global pada industri fashion dan permasalahan eksploitasi buruh yang seakan-akan tiada henti dalam dunia fashion.

Inilah pertanyaan-pertanyaan sulit yang perlu dijadikan pertimbangan para entrepreneur jika memang berniat bukan sekedar menjadi aktor bisnis belaka, melainkan dengan semangat start-up yang sekarang ini sedang ngetren ‘mengubah dunia menjadi lebih baik’.

Jika kita bandingkan dengan program tahun lalu, materi-materi yang disajikan oleh CBI kini terasa terlalu dangkal dan tidak memiliki visi. Pada CBI tahun 2019 dimana tajuk yang diangkat adalah Responsible Design For Sustainability,  program ini memiliki tujuan yang jelas dan didukung juga dengan program-program yang akan mencetak brand-brand yang memiliki visi bisnis berkelanjutan.

Sekarang, kurikulum yang diajarkan hanyalah materi-materi standar untuk membentuk sebuah badan usaha baru. Tanpa adanya sebuah visi mengenai bagaimana program ini dilakukan, seakan-akan pemerintah hanya ingin program ini kembali berjalan tanpa memiliki visi tentang bagaimana bisnis fashion Indonesia kedepannya.

Padahal justru di tengah pandemi inilah saat yang paling tepat untuk kembali mendalami materi tersebut dan mencari jawaban atas permasalahan fashion dunia yang kini benar-benar dijungkir balikan dengan COVID-19. Para pengusaha kita bisa menjadi ujung tombak revolusi fashion dengan belajar dari apa kelemahan-kelemahan model bisnis fashion masa kini dan bekerja sama membentuk sebuah model baru yang siap untuk mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama.

Benar-benar sebuah kemunduran.

Program yang terus diulang-ulang ini kemungkinan hanya akan melahirkan gear-gear kecil baru dunia fashion lama yang sudah usang dan dapat hancur seketika jika krisis serupa muncul kembali.