Dalam upaya memulihkan pariwisata global, UN World Tourism Organization (UNWTO) mengeluarkan Global Guidelines to Restart Tourism dan One Planet Vision yang berisi serangkaian rekomendasi langkah-langkah sebelum membuka pariwisata pasca pandemi COVID-19. Rekomendasi tersebut berisi beberapa prioritas, prinsip, dan strategi bagi negara dan pelaku pariwisata seperti penerbangan, hospitality, dan agen perjalanan. 

UNWTO merekomendasikan beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan oleh negara dalam membuka pariwisata diantaranya: 1. Perjalanan aman tanpa hambatan (safe and seamless travel); 2. Protokol dan informasi yang jelas dan berbasis pada bukti; 3. Data sharing atas dasar persetujuan dan peraturan yang yang menghormati privasi; 4. Non-diskriminasi terhadap wisatawan; 5. Transformasi digital; 6. Penerapan kebijakan selama diperlukan dan mengganti atau meniadakannya jika situasi memungkinkan.

UNWTO Global Guideline menyasar 8 bagian penting sektor pariwisata yaitu, perbatasan, sektor privat, penerbangan, hospitality, agen perjalanan, pertemuan dan acara, atraksi wisata, serta perencanaan dan manajemen destinasi.

Dalam masing-masing bagian, UNWTO memberikan sejumlah langkah konkrit yang dapat diambil. Contohnya, negara harus memperhatikan penilaian risiko berbasis bukti epidemiologis dalam membuka perbatasan. Negara juga diharapkan memiliki portal informasi yang dapat diandalkan dan mudah diakses, serta secara konsisten menginformasikan pembatasan dan protokol perjalanan wisata kepada wisatawan. 

UNWTO juga memberikan beberapa inovasi yang dapat diambil aktor pariwisata dalam masa pemulihan dengan membaca trend pariwisata akibat pandemi COVID-19. Bagi agen perjalanan, UNWTO menyarankan pengembangan program perjalanan yang tersegmentasi, berkelanjutan, serta berfokus pada alam, rural area, dan budaya seperti ecotourism, wisata budaya, dll. 

UNWTO juga mengeluarkan One Planet Vision for a Responsible Recovery of the Tourism Sector. Dokumen ini dikeluarkan untuk mendukung pengembangan dan implementasi pemulihan pariwisata yang berkontribusi terhadap pemenuhan Sustainable Development Goals dan Paris Agreement.  

Dalam One Planet Vision, UNWTO mengedepankan pentingnya pemulihan yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh dampak terhadap daya dukung (carrying capacity) sebuah daerah, konsumsi sumber daya alam serta perubahan iklim akibat pertumbuhan pariwisata yang cepat. UNWTO menggarisbawahi pentingnya menyeimbangkan ketiga faktor penunjang resiliensi pariwisata yaitu masyarakat (people), lingkungan (planet), dan kemakmuran (prosperity). 

One Planet Vision merekomendasikan enam garis aksi (line of action) untuk memandu pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan; 1. Kesehatan masyarakat 2. Inklusi sosial, 3. Konservasi keanekaragaman hayati 4. Perubahan iklim; 5. Ekonomi sirkuler (circular economy) dan; 6. Pemerintahan dan keuangan. 

Pada beberapa garis aksi, UNWTO memasukkan pembelajaran di sektor pariwisata dalam menghadapi pandemi COVID-19. Misalnya, dalam langkah terkait kesehatan masyarakat, negara dianjurkan untuk mengintegrasikan faktor epidemiologi ke sektor pariwisata suatu daerah. Hal ini untuk memastikan kebijakan pembukaan pariwisata destinasi tersebut berdasarkan pada bukti ilmiah yang cukup. 

Selain itu, beberapa terobosan baru di bidang pariwisata untuk mencapai sustainability goals di 2030 juga direkomendasikan. Salah satunya adalah mengembangkan sistem monitoring emisi karbon di setiap value chain serta menyediakan opsi transportasi rendah emisi. 

Kedua dokumen di atas merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam memulihkan pariwisata Indonesia. Sebab, sektor pariwisata setelah pandemi COVID-19 tak lagi bisa dijalankan dengan metode yang ada. Memasukkan tatanan new normal ke dalam sektor pariwisata membutuhkan serangkaian program dan kebijakan dengan orientasi terhadap kesehatan publik dan pariwisata yang berkelanjutan. Tentu saja tak hanya dengan modal jargon dan kegiatan program cuci tangan.