Baru-baru ini Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru bekerja sama dengan Yayasan Irama Nusantara melakukan kegiatan digitalisasi musik. 

Tujuannya adalah untuk merawat lagu dan musik lawas Indonesia yang pernah terekam atau dirilis di masa lalu. Dalam prosesnya, karya musik didokumentasikan dengan rapi, mulai dari judul, penyanyi, pencipta, tahun, label produksi, serta data penting lainnya. 

Irama Nusantara merupakan yayasan nirlaba yang bergerak pada ranah pengarsipan musik populer Indonesia; sudah ada 4.065 rilisan yang berhasil melalui proses digitalisasi mulai era 1920-an hingga 1990-an. Lalu ada pula Museum Musik Indonesia (MMI) dengan misi yang sama, digitalisasi musik lewat koleksi majalah musik Aktuil.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, menilai digitalisasi musik sejalan dengan semangat Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mengamanatkan sebuah sistem pendataan kebudayaan terpadu. Pendataan musik menjadi penting untuk mendukung upaya pemahaman dan pelestarian musik sebagai warisan budaya bangsa.

Bagi kami, misi digitalisasi musik mestinya bisa mencakup ke ranah yang lebih luas tidak hanya sekedar menyelamatkan musik dan lagu populer Indonesia pada masanya, tetapi juga berani melakukan penelusuran syair-syair lokal dalam setiap tradisi maupun upacara adat yang umumnya mengandung nilai-nilai kehidupan yang berkembang dalam masyarakat saat itu dan membudaya karena diwariskan secara turun temurun.

Seperti musisi asal Sumba Timur, Ata Ratu, yang mempromosikan lagu dan musik tradisional Sumba ke kancah Internasional lewat gitar jungga-nya bercerita tentang nasihat para leluhur orang Sumba. Lalu komunitas adat Karuhun Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan, yang mengaplikasikan rumpaka – rumpaka atau syair – syair sebagai penangkal hal – hal atau ruh buruk pada zaman dahulu atau wabah penyakit Covid-19 seperti sekarang.

Dari situ masyarakat juga bisa ikut lebih mengenali karakter nenek moyangnya serta keaslian budaya bangsa. Smithsonian barangkali sudah lebih dahulu dan banyak mendokumentasikan lagu-lagu rakyat di Indonesia. Kiprahnya dalam melestarikan warisan budaya dunia telah membawa lembaga tersebut menjadi salah satu pusat kebudayaan terbesar di dunia. 

Apakah tidak terasa aneh, orang asing justru lebih ‘getol’ melakukan riset dan mengarsipkan kebudayaan bangsa Indonesia ketimbang kita yang hanya sekedar modal bangga?