Pada Jumat (14/8), Data Academy menggelar acara diseminasi hasil survei di Hotel Novotel Jakarta Cikini, DKI Jakarta. Di acara yang turut dihadiri oleh perwakilan lima serikat buruh ini, Data Academy memaparkan beberapa temuan yang menjelaskan kondisi keselamatan dan kesehatan kerja serta dampak bisnis ke pekerja. Temuan utamanya: kesehatan buruh pabrik garmen masih terancam penularan COVID-19. 

Sebab, meskipun mayoritas pabrik Tekstil, Garmen, Sepatu dan Alas Kaki (TGSL) yang disurvei telah mematuhi ketetapan pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan, masih ada 18% pabrik yang tidak melakukan physical distancing. Pihak pabrik juga belum melakukan rapid test dan PCR (Polymerase Chain Reaction) kepada semua pekerjanya. Hal ini menyebabkan para pekerja rentan terhadap ancaman penularan dari pengidap COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala.

“Mungkin anggaran dari pemda atau APBN dapat digunakan untuk membantu pengusaha dan buruh untuk melakukan tracing,” ucap Nadya, Program Manager Data Academy.

Selain adanya kerentanan pekerja dari segi perlindungan kesehatan, para pekerja juga rentan terhadap pemutusan status hubungan kerja, pemotongan gaji dan status dirumahkan. Hal ini disebabkan oleh anjloknya performa perusahaan akibat pasokan bahan baku yang menurun, pesanan yang berkurang dan implikasi pada penurunan kuantitas produksi. Memang, persentase 90% dari pekerja yang bekerja di pabrik-pabrik tersebut adalah perempuan. Namun, bukan berarti beban mereka tidak berbeda dengan beban laki-laki yang tentunya akan berimbas kepada kerentanan ekonomi keluarga. Pada penelitian ini tercatat jika satu perempuan menanggung setidaknya beban ekonomi dua orang akan berdampak kepada 78.300 orang.

Inisiatif dari Data Academy ini adalah langkah penting dalam memahami kondisi buruh di era pagebluk. Bahkan, data-data yang sudah terkumpulkan tersebut kini sudah dirumuskan dan telah menjadi s landasan bagi para serikat buruh yang tergabung untuk menyusun langkah selanjutnya.

Meski demikian, masih ada poin yang kurang ditelusuri dari segi dampak bisnis ke pekerja. Data Academy belum memasukkan atau mencari data mengenai hak-hak buruh mana saja yang dipenuhi dan perlindungan mereka selama di masa pandemi. Hal ini menjadi sesuatu yang krusial mengingat merk-merk besar seperti H&M dan Zara jelas memanfaatkan kondisi pandemi untuk melakukan Union Busting, dengan cara menargetkan para pekerja yang tergabung di dalam Serikat Buruh untuk di-PHK.

Jika pembungkaman terhadap Serikat Buruh tidak dapat terdeteksi sejak dini, dikhawatirkan justru serikat buruh di suatu pabrik akan keburu habis anggotanya dan makin kesulitan untuk memperjuangkan hak-haknya.

Namun, semangat penggunaan data secara sistematis yang dilakukan Data Academy dan Serikat Buruh tentunya akan membuat perjuangan kelas pekerja menjadi lebih mudah dalam menuntut keadilan dan menegosiasikan suatu tuntutan.

Data Academy sendiri adalah sebuah inisiatif program kerjasama antara gajimu.com dengan Trade Union Rights Center (TURC) yang bertujuan untuk memfasilitasi dan memberikan pelatihan kepada serikat-serikat buruh agar dapat memperjuangkan tuntutan-tuntutannya dengan basis data dan riset. Selain itu, acara ini juga berfungsi sebagai pemerkuat jejaring antara serikat buruh agar dapat saling mendukung dalam memperjuangkan hak-hak mereka dan membentuk aliansi yang lebih luas.

“Aliansi ini nantinya akan mendorong sebuah agenda perubahan yang mendorong industri ini agar tetap tumbuh dan memitigasi permasalahan yang terjadi pada industri TGSL,” ucap M. Saleh Didit, Koordinator Data Academy.