Terhitung 31 Juli 2020, Bali resmi membuka kembali pariwisata yang mati suri selama 5 bulan terakhir bagi wisatawan domestik. Tentu saja kabar ini seperti angin segar bagi para pemuja liburan musim panas, secara kita udah absen liburan dari awal tahun karena COVID-19. 

Membayangkan indahnya angin laut, pemandangan biru dan riak ombak, sambil minum cantik di pinggir pantai, kami sudah menelan ludah. Namun apakah benar pemerintah daerah maupun pusat sudah mampu mengendalikan penyebaran virus COVID-19 di pulau para dewa ini? Apalagi sempat beredar video di dunia maya, ketika para wisatawan di salah satu pantai tidak mematuhi protokol kesehatan (pakai masker dan jaga jarak). 

Bali telah siap mengimplementasikan protokol kesehatan pada tatanan era baru. Karena itu saya sangat berbahagia karena besok pariwisata Bali siap menyambut wisatawan nusantara kembali.”, begitu kata Wishnutama. Selain Mas Menteri, panggilan untuk Wishnutama, Gubernur Bali, Wayan Koster, mengeluarkan Surat Edaran No. 15243 tentang Persyaratan Wisatawan Nusantara Berkunjung ke Bali yang resmi diteken pada tanggal 28 Juli 2020. 

Menghalau Transmisi Bermodal Aplikasi

Tidak ada poin baru dalam persyaratan untuk para wisatawan kalau mau liburan ke Bali: dapat menunjukan Surat Keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR dengan minimum hasil non-reaktif rapid test dari instansi berwenang, menggunakan masker, menjalani pengukuran suhu tubuh, dan lain-lain. 

Yang membedakan hanyalah, setiap wisatawan yang hendak ke Bali wajib mengisi data di aplikasi LOVEBALI. Selain mengisi formulir via aplikasi, wisatawan juga dihimbau untuk mengaktifkan GPS (Global Positioning System) pada smartphone sebagai upaya perlindungan dan pengamanan bagi wisatawan. Para pengusaha akomodasi pun diwajibkan untuk memastikan para tamu sudah mengisi aplikasi LOVEBALI tersebut. 

Namun ketika kami mencoba membuka website LOVEBALI, tidak ada petunjuk jelas dan himbauan tegas di halaman home mengenai kewajiban registrasi bagi para wisatawan lokal. Pada laman home, terpajang beberapa objek wisata menarik yang ada di Bali, ada tombol “Join Now” yang berada di laman website sebelah kiri, kecil. Tak mengerti mengapa harus sekecil itu. Setelah menjajalnya, tak ada konfirmasi lebih lanjut mengenai data yang telah diinput dalam website tersebut maupun kegunaannya untuk penanganan COVID-19 di Bali secara lebih rinci. 

Jelas, sebagai calon wisatawan yang sudah pengen plesir ke bali, kami kebingungan. Jangankan mempercepat pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata Bali yang sudah setengah nafas selama pandemi COVID-19, membuat sistem registrasi secara online saja belum becus. 

Padahal kasus penyebaran COVID-19 di Bali masih terus meningkat setiap harinya. Pada 5 Agustus 2020 saja, kasus positif sudah terkonfirmasi 3.617 orang, bertambah 39 orang pada transmisi lokal. Mungkin memang bukan angka yang ‘fantastis’ jika dibandingkan dengan provinsi lain seperti Jawa Timur atau DKI Jakarta, namun tetap saja, penyebaran virus COVID-19 dari transmisi lokal terus berlangsung di Bali. 

Bayangkan jika realita penularan virus dengan transmisi lokal tersebut ditandemkan dengan sistem registrasi yang masih amburadul, dan dibukanya pintu pariwisata bagi wisatawan lokal di Bali, tidak menutup kemungkinan akan terjadi ledakan angka penyebaran COVID-19 di permata wisata andalan Nusantara ini. 

Roda ekonomi masyarakat Bali yang mengandalkan sektor pariwisata memang wajib diperhatikan, namun apabila terkesan sebodo amat dengan keselamatan para wisatawan yang sedari awal menanggung risiko terpapar virus corona ketika berlibur, malah pada akhirnya akan membahayakan masyarakat Bali sendiri. Walhasil, dari pantauan kami sejauh ini, membuka Bali untuk aktivitas wisata domestik saat ini masih terlampau dipaksakan dan belum dipersiapkan secara matang. 

Alias bahaya. 

Jadi gimana, masih mau liburan ke Bali dengan semua risikonya? Sebagai catatan akhir, semua rangkaian tes mulai dari rapid test hingga swab test masih belum ditanggung pemerintah, lho.