Pada perayaan hari kemerdekaan kemarin, Presiden Joko Widodo menggunakan pakaian adat dari Nusa Tenggara Timur. Sontak, warganet pun melontarkan komentar baik pujian maupun sindiran terhadap pakaian Presiden.

Karena usut punya usut, ternyata pakaian adat yang dipakai Jokowi berasal dari Suku Besipae yang baru saja kena caplok lahannya oleh pemerintah pada 4 Agustus 2020. Bahkan pada tanggal 18 Agustus, terjadi tindak represif aparat kepada para penduduk sekitar. Enggak cuma sekali nih, Presiden Joko Widodo memakai pakaian milik kaum adat yang sedang direpresi oleh aparatnya.

Fenomena yang dilakukan Joko Widodo ini sering juga jadi pembahasan panas di ranah fesyen. Namanya Cultural Appropriation atau perampasan budaya. Sebuah praktek mengambil sebuah elemen suatu kebudayaan dengan maksud untuk memperoleh keuntungan materil ataupun ketenaran tanpa memperdulikan nasib sang pemilik atau esensi dasar dari kebudayaan tersebut.

Lebih jauh lagi, sebuah artikel dari Everydayfeminism juga mengatakan bahwa tidak seperti pertukaran budaya dimana dua kebudayaan melebur membentuk suatu budaya baru, maupun asimilasi dimana kebudayaan minoritas harus beradaptasi kepada kebudayaan mayoritas agar tetap survive, dalam cultural appropriation terdapat hubungan kuasa dimana kebudayaan yang dominan mengambil unsur kebudayaan yang ditindas/minor.

Sudah banyak brand dan tokoh yang tersandung permasalahan cultural appropriation ini. Misalnya Gucci yang terkena kontroversi akibat mengeluarkan turban yang meminjam dari agama Sikh. Pada tahun 2003, Pangeran Harry diprotes akibat melukis motif kebudayaan Aborigin Australia untuk tugas kuliahnya. Selain itu, orang-orang Suku Asli Amerika Serikat sudah lama tersinggung akibat banyaknya festival yang memakai hiasan kepala keramat mereka sebagai sebuah benda fesyen semata tanpa melihat makna dibaliknya serta sejarah bangsa mereka yang telah dijajah bertahun-tahun.

Namun, konsep cultural appropriation bukan berarti bebas dari kritik. Chris Berg, seorang periset dari Institute of Public Affairs Australia mengatakan, dengan mendakwa bahwa praktek cultural appropriation adalah suatu yang salah maka sama saja dengan menghina budaya itu sendiri. Karena menurutnya adalah hal yang lumrah apabila kebudayaan saling mengambil elemen satu sama lain. Sebagai contoh, topi sombrero yang sekarang ini identik dengan Meksiko sebenarnya memiliki evolusi yang sangat panjang dan bahkan berakar dari kebudayaan Mongol. Pengambilan elemen ini adalah salah satu bentuk evolusi dari budaya yang akan terus berkembang dari masa ke masa.

Kritik Chris Berg tersebut sayangnya tetap tidak bisa menjadi pembenaran atas pengambilan kebudayaan yang sifatnya acuh terhadap nasib kaum adat. Kritiknya seolah membuat kebudayaan sebagai produk yang lepas dari nasib dan kesejarahan orang-orang yang memiliki kebudayaan tersebut, yang punya hak untuk menentukan bagaimana kebudayaannya diolah dan dilestarikan.

Namun kritik Chris Berg sesungguhnya berangkat dari kekhawatiran akan fenomena dimana kebudayaan tidak dapat berkembang dengan bebas lagi. Sebagai contohnya, adanya larangan kelas Yoga di Universitas Ottawa akibat para mahasiswanya khawatir akan melanjutkan praktek ‘genosida kebudayaan’ jika terus dilanjutkan.

Aksi Comot Budaya di Indonesia

Di Indonesia, peminjaman budaya dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi. Dari kecil bahkan kita sudah diajarkan untuk menghargai kebudayaan satu dengan lain dengan cara mempelajarinya secara praktek (ikut ekskul tari tradisional misalnya). Bukankah ada pepatah yang mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang’?

Memang orang seringkali salah kaprah mengenai perbedaan antara cultural appropriation dengan cultural appreciation atau apresiasi kebudayaan. Sehingga muncul pertanyaan: bagaimana kita dapat melakukan apresiasi kebudayaan dengan baik dan benar? Akan banyak jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut. 

Contohnya, Osklen salah satu merk sportswear kenamaan Brazil melakukan kerjasama dengan suku adat Ashaninka. Osklen tidak hanya membuat desain yang terinspirasi dari kebudayaan itu saja, ia juga memberikan timbal balik yang menguntungkan suku adat Ashaninka, seperti membangun sekolah dan mendesain logo baru bagi suku adat tersebut.

Kini mempelajari dan memahami saja tidak cukup. Karena kebudayaan sendiri hadir akibat dari interaksi manusia yang hidup di lingkungannya. Jadi, dengan mengacuhkan permasalahan manusianya sama saja dengan tidak peduli dengan kebudayaannya atau bahkan ikut memusnahkannya.

Jokowi memang mungkin mengerti makna dari pakaian adat yang ia kenakan. Namun, ia lalai dalam menjamin hak-hak warga negara yang dimiliki oleh pemilik kebudayaan tersebut. Sehingga, pada dasarnya dengan mengenakan pakaian tersebut, meski ia berniat untuk terlihat  mengapresiasi kebudayaan yang ia pinjam, pada dasarnya ia tengah melecehkan kebudayaan  tersebut, sekaligus para masyarakatnya. Ia tidak ada bedanya dengan penonton Coachella yang mengenakan ikat kepala Kaum Navajo hanya untuk terlihat keren. 

Jadi lain kali mungkin Pak Presiden harus riset lagi, apa orang-orang yang budayanya bapak pinjam ini tidak bapak buat sengsara hidupnya oleh pemerintahan bapak? 

Kecuali memang tujuannya ya hanya untuk terlihat keren. Kalau benar begitu, ini bukan kali pertama. Masih ingat ‘kan Presiden kita sempat wara-wiri memakai kaos band grindcore Napalm Death selama masa kampanye dulu?